5 Film Ini Angkat Kisah Perjuangan Para Perempuan Tangguh di Indonesia

5 Film Ini Angkat Kisah Perjuangan Para Perempuan Tangguh di Indonesia
info gambar utama

Hari Kartini baru saja terlewat pada tanggal 21 April kemarin, namun antusias untuk mengenang perjuangan dan semangat pahlawan nasional perempuan di Indonesia tersebut masih kental terasa hingga kini.

Bukan tanpa alasan, sosoknya yang telah menjadi inspirasi bagi kaum perempuan di Indonesia memang tidak akan pernah bisa dilupakan. Semangatnya terus hidup, dan menjadi panutan bahkan bagi para generasi perempuan setelahnya, yang juga menjadi sosok inspirasi terbaru hingga sekarang.

Tak kalah dikagumi, sederet perempuan inspiratif yang lahir dan muncul setelah era kartini juga banyak disorot dan dijadikan panutan. Apalagi, bentuk perjuangan yang mereka lakukan semakin dekat dan lebih serupa dengan era serta tuntutan zaman di masa kini.

Bentuk perjuangannya pun beragam, mulai dari membuat harum nama bangsa hingga ke kancah internasional, mencerdaskan anak-anak di wilayah pedalaman, hingga bertaruh sebagai sosok ibu yang berdaya dan membentuk pemimpin negara di Indonesia.

Saking mengagumkan, cerita para perempuan yang dimaksud bahkan sampai diangkat dalam sebuah film dengan judul dan latar cerita yang sama. Bukan tanpa alasan, hal tersebut bertujuan untuk menciptakan media pengingat akan gambaran sosok perempuan pejuang di Indonesia.

Apa saja deretan film yang menggambarkan perjuangan para perempuan tangguh di tanah air? Berikut daftarnya.

Menyorot Perfilman Indonesia, Salman Aristo: Ini Saatnya Kita Meningkatkan Keberdayaan

Kartini

Film pertama yang tak terlewat sudah pasti mengisahkan karakter dari sosok asli Kartini itu sendiri. Dengan judul yang sama, film biografi yang rilis pada tahun 2017 ini menceritakan kisah Raden Ajeng (R.A.) Kartini melawan budaya patriarki yang hidup di masa lampau, memperjuangkan kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki, serta mengangkat derajat perempuan di Indonesia.

Dibintangi olek aktris Dian Sastrowardoyo, film berdurasi 2 jam 2 menit yang dikabarkan menghabiskan dana produksi mencapai Rp12 miliar ini digarap dengan arahan sutradara Hanung Bramantyo.

Sebenarnya, film satu ini bukanlah film pertama yang mengangkat kisah mengenai sosok Kartini. Sebelumnya film dengan judul sama pernah dibuat pada tahun 1984, yang karakter utamanya diperankan oleh aktris senior Yenny Rachman.

Kartini, Gagasannya Terhadap Adat Jawa dan Islam yang Lampaui Zaman

3 Srikandi

Selama ini julukan Srikandi dikenal sebagai istri dari salah satu karakter pewayangan bernama Arjuna. Di saat bersamaan, julukan tersebut juga digunakan untuk menggambarkan perempuan yang gagah berani atau pahlawan perempuan.

Namun, penggunaannya semakin populer setelah Indonesia memperoleh momentum istimewa berupa peraihan medali ajang internasional atau olimpiade pertama di tahun 1988, saat tiga orang atlet panahan perempuan berhasil membawa pulang medali. Sejak saat itu, tiga atlet yang dimaksud dijuluki dengan sebutan 3 Srikandi.

Diangkat dalam sebuah film biografi, dengan judul yang sama film ini menceritakan perjuangan keras dan panjang yang dijalani oleh tiga atlet panahan Indonesia yakni Nurfitiryana S. Lantang, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani.

Diperankan oleh tiga aktris ternama yakni Bunga Citra Lestari, Tara Basro, dan Chelsea Islan. Film yang disutradarai oleh Iman Brotoseno tersebut rilis pada tahun 2016, dan masih layak disaksikan hingga detik ini.

Mengenang Trio Srikandi, Peraih Medali Olimpiade Pertama untuk Indonesia

Sokola Rimba

Butet Manurung, adalah seorang perempuan yang terkenal akan gerakannya dalam membangun keberdayaan dan pendidikan untuk anak-anak di wilayah pedalaman Indonesia. Lewat gerakan dan pendirian Sokola Rimba pada tahun 2003, ia memulai perjuangan pertamanya dengan mencerdaskan generasi anak-anak Orang Rimba atau Suku Kubu di pedalaman hutan Jambi.

Programnya terus berjalan dan namanya kian besar sebagai orang yang berjasa, hingga kini dirinya berhasil mengembangkan gerakan tersebut menjadi Sokola Institute yang memiliki 17 program di seluruh Indonesia, dan memberikan manfaat kepada lebih dari 15 ribu masyarakat adat untuk bisa mengenyam pendidikan formal.

Berangkat dari kondisi tersebut, duo sineas Indonesia yakni Riri Riza dan Mira Lesmana terinspirasi untuk mengabadikan perjuangan Butet dalam sebuah film dengan judul yang sama, dengan inisiasi awal yang ia bangun.

Memilih aktris Prisia Nasution untuk memerankan sosok bernama asli Saur Marlina Manurung, film berdurasi 90 menit yang rilis di tahun 2013 tersebut mendapat sejumlah penghargaan, salah satunya di kategori Film Terbaik pada Piala Maya 2013.

Wakili Indonesia, Butet Manurung Terpilih Jadi Barbie Role Model

Athirah

Masyarakat Indonesia pasti tidak asing dengan sosok Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden yang juga berjasa untuk Indonesia. Di balik kepiawaiannya dalam memimpin negara, sudah pasti ada sosok wanita hebat yakni Ibu yang memiliki peran besar, ialah Ibu Athirah.

Film ini menceritakan perjuangan Athirah dalam membesarkan anaknya, terutama saat menghadapi konflik poligami yang masih menjadi budaya lazim bagi masyarakat di tahun 1950-an.

Diperankan oleh aktris senior Cut Mini, film yang rilis di tahun 2016 dan juga digarap oleh duo Riri Riza serta Mira Lesmana tersebut berhasil menembus berbagai festival film internasional seperti Vancouver International Film Festival, Busan International Film Festival, dan Tokyo International Film Festival.

Lain itu, film ini memborong enam Piala Citra dalam ajang Festival Film Indonesia di tahun yang sama, salah satunya meraih gelar Film Terbaik.

Buah Pemikiran Jusuf Kalla yang Jadi Contoh Bagi Negara-Negara Berkembang

Nana (Before, Now & Then)

Film yang satu ini bisa dibilang cukup baru, lebih banyak disorot dan lebih dulu tayang pada berbagai Festival Film Internasional membuat Nana lebih umum dikenal dengan judul globalnya yakni Before, Now & Then.

Bergenre drama sejarah, film ini bercerita mengenai kisah kehidupan nyata sosok Raden Nana Sunani, yang juga diadaptasi dari salah satu bab dalam novel Jais Darga Namaku karya penyair asal Cimahi bernama Ahda Imran.

Sosok Nana diceritakan melarikan diri dari kota kelahiran saat gerombolan orang datang ingin mempersuntingnya. Ia kemudian menetap di Bandung dan menikah dengan laki-laki yang berasal dari keluarga menak, atau lebih dikenal sebagai golongan bangsawan dalam kebudayaan Sunda.

Nana kemudian bertemu dengan perempuan simpanan suaminya, tapi ternyata keduanya sanggup bertahan dengan saling memberi dukungan sebagai sesama perempuan yang hidup pada tahun 1960-an.

Yang menarik, bahasa utama dalam film garapan Kamila Andini tersebut adalah bahasa daerah Sunda. Dibintangi oleh Happy Salma dan Laura Basuki, film yang memperkenalkan bahasa daerah ini berhasil meraih penghargaan Silver Bear, untuk Best Supporting Performance di Berlin International Film Festival pada bulan Februari 2022.

Film “Yuni” Raih Penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini