Menikmati Keindahan Alam Jambi dari 4 Desa Wisata Unggulan

Menikmati Keindahan Alam Jambi dari 4 Desa Wisata Unggulan
info gambar utama

Untuk tujuan liburan, Kota Jambi di Provinsi Jambi menawarkan beragam pilihan. Dari wisata buatan, wisata alam, sejarah, kesenian, kebudayaan, kuliner, semua lengkap untuk dijelajahi lebih lanjut oleh para wisatawan.

Diketahui perkembangan desa wisata di Jambi pun tergolong pesat dan signifikan. Sampai tahun 2021, Jambi memiliki 21 desa wisata yang telah tercatat di Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf).

Masing-masing desa wisata memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing yang menjadi daya tarik untuk kunjungan wisatawan. Bagi yang berencana liburan ke Jambi dan belum menentukan destinasi wisata, berikut empat desa wisata unggulan yang dapat dikunjungi:

Candi Gunung Kawi, Situs Purbakala Peninggalan Dinasti Udayana di Bali

Desa Wisata Muaro Jambi

 Candi Muaro Jambi | @Ariyo Eka Shutterstock
info gambar

Desa Wisata Muaro Jambi sudah ada sejak tahun 2017 dan menurut Menparekraf Sandiaga Uno termasuk destinasi super kualitas. Di desa tersebut terdapat sebuah candi terluas se-Asia Tenggara yaitu Candi Muaro Jambi dengan luas kawasan 3.981 hektare. Kompleks candi peninggalan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu ini terdiri dari sembilan bangunan yang telah dipugat dan semuanya bercorak Buddhisme yaitu Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Astano.

"Ini sudah ada sebelum Borobudur, maka kita juga perlu kolaborasi dari lintas kementrian juga sehingga dipastikan akan ada kebijakan yang cepat,” ujar Sandiaga. Dikatakan Sandiaga bahwa Desa Wisata Muaro Jambi juga termasuk desa wisata dengan kebangkitan ekonomi cukup baik dan menjadi percontohan bagi desa wisata lain.

Selain itu, daya tarik lain yang ditawarkan desa ini adalah kanal kuno, rumah adat melayu kuno, dan Sungai Batanghari. Di sana juga terdapat kesenian tradisional seperti pencak silat, rebana siam, hadrah, tari topeng, dan tari bayangan. Ada pula seni kerajinan seperti anyaman tikat, batik, gelang sebalik sumpah, lacak, dan kuliner khas yaitu ikan senggung, ketan jando, dan asam tempoyak.

Mengintip Panorama Telaga Claket, Ranu Kumbolonya Wonogiri

Desa Muara Madras

Desa Muara Madras berada di Kabupaten Merangin dan terkenal dengan keindahan alamnya. Seluruh jalanan di desa ini ditanami bunga-bunga sehingga pemandangannya sungguh memanjakan mata. Adapun beberapa tempat wisata di desa ini adalah Puncak Goa Tirau, wisata air panas Hulu Mentenang, Kebun Jeruk Gerga, agro wisata Lembah Mentenang, dan Lubuk Larangan.

Lubuk Larangan merupakan wilayah di aliran sungai yang sudah disepakati oleh masyarakat dan lembaga adat untuk tidak diambil ikannya dengan cara apapun. Lubuk Larangan merupakan cara masyarakat Jambi dalam menjaga habitat ikan dan kebersihan sungai. Cara ini juga berlaku di beberapa wilayah seperti Kabupaten Bungo, Merangin, dan Sarolangun.

Karena sudah disepakati secara adat, maka ada hukum adat bagi mereka yang melanggar. Jika ada yang mengambil ikan di Lubuk Larangan maka ia harus membayar denda beras sebanyak 50 gantang, uang Rp50 juta atau bisa dengan hewan ternak seperti kerbau dan kambing.

Untuk menegakkan aturan tersebut, maka dibuat hukum adat bagi mereka yang melanggar. Jika ada yang nekad mengambil ikan di Lubuk Larangan, maka ia harus membayar denda berupa beras 50 gantang, uang 50 juta, atau mengganti dengan hewan ternak, seperti kerbau, kambing, dan sebagainya.

Uniknya di Lubuk Larangan juga ada waktu panen raya atau buka lubuk yang menjadi pesta rakyat. Biasanya buka lubuk diadakan sesuai kesepakatan, bisa setiap tahun, setiap dua atau lima tahun. Pada momen buka lubuk, masyarakat baru diperbolehkan mengambil kekayaan dalam sungai dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku.

Desa Sawai, Perkampungan Tertua dan Bersahaja di Maluku Tengah

Desa Wisata Lekuk 50 Tumbi Lempur

 Danau Kaco | @Rico Yuliyanto Shutterstock
info gambar

Desa wisata Lekuk 50 Tumbi Lempur berada di Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci. Nama Lekuk 50 Tumbi Lempur dipakai dalam penamaan kesatuan wilayah adat yang ada di Lempur, mulai dari Lempur Tengah, Lempur Mudik, Desa Baru Lempur, Lempur Hilir, dan Manjuto Lempur.

Desa wisata ini memiliki berbagai objek wisata alam berupa perbukitan, gunung, air terjun, danau, sungai, dan berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat. Desa wisata Lekuk 50 Tumbi Lempur juga memiliki pemandangan yang indah dan asri, juga dikelilingi panorama Bukit Barisan.

Danau Kaco merupakan salah satu daya tarik unggulan yang ada di desa ini. Danau Kaco memiliki keunikan yang khas yaitu dapat mengeluarkan cahaya yang terang terutama pada saat bulan purnama. Warna air di danau ini adalah hijau kebiruan yang sangat jernih dan tampak berkilau pada malam hari. Jika berkunjung saat bulan purnama, suasana danau bahkan cukup terang meski hari sudah gelap dan wisatawan tidak butuh alat bantu penerangan.

Memahami Penerapan Hukum Adat dan Pelestarian Budaya di Desa Bayan

Desa Wisata Pentagen

Desa Wisata Pentagen berawal dari sebuah rawa seluas 1,8 hektare yang kemudian diubah menjadi embung desa pada tahun 2017. Embung desa tersebut awalnya dibangun untuk menyediakan air bagi para petani yang seringkali kekurangan air untuk bercocok tanam pada musim kemarau. Karena menarik perhatian masyarakat dan banyak dikunjungi untuk berlibur saat akhir pekan, maka embung tersebut dijadikan obek wisata Taman Pertiwi.

Kini Desa Wisata Pentagen memiliki beberapa wahana di lokasi embung desa, seperti flying fox, sepeda gantung, hammock, dan sepeda air. Desa wisata tersebut juga punya seni pertunjukan dan ritual adat yang unik seperti tarian panggilan jihad, kenduri pimpinan adat, kenduri seko, ngihit pamun, dan qadam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini