Peran Sunan Ngudung, Ulama Palestina yang Jadi Pelatih Tentara Majapahit

Peran Sunan Ngudung, Ulama Palestina yang Jadi Pelatih Tentara Majapahit
info gambar utama

Hubungan antara bangsa Indonesia dengan Palestina ternyata sudah jauh terbangun sebelum negara Indonesia lahir. Tepatnya sejak abad ke 15 Masehi ketika mulai masif Islamisasi Nusantara oleh Wali Songo.

Diriwayatkan dalam beberapa sumber, pada masifnya dakwah Islam masa Wali Songo itu ada seorang ulama dari Baitul Maqdis – sekarang dikenal sebagai Palestina –, namanya Maulana Utsman Haji atau yang dikenal dengan nama Sunan Ngudung.

Maulana Utsman Haji adalah putra sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha. Dirinya mengarungi samudra sehingga sampai ke Ampel Denta, Surabaya untuk menyebarkan Islam.

Ketika sampai di Demak, dirinya diangkat menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Sunan Ngudung juga diangkat menjadi pelatih tentara Majapahit karena kemampuan militer yang dimiliki.

“Dikarenakan Maulana Utsman Haji ini adalah seorang yang pandai berperang, oleh Maulana Rahmat Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) direkomendasikan kepada raja Majapahit untuk menjadi pelatih tentara Majapahit,” jelas Tatang Hidayat dalam Hutang Sejarah dan Hutang Budi Indonesia kepada Palestina.

Maulana Utsman Haji kemudian berangkat ke Majapahit untuk menemui raja. Dirinya lantas diangkat menjadi pelatih militer untuk tentara Kerajaan Majapahit. Hasil didikannya, jelas Tatang, sangat luar biasa karena menjadi tentara yang hebat semua.

Sunan Giri, Sosok 'Paus Islam' yang Mengesahkan Sultan di Tanah Jawa

Diriwayatkan ada seorang raja bawahan Majapahit bernama Raja Kresna Kapakistan dari Kerajaan Gelgel, yang sekarang di Kabupaten Karang Asem. Dirinya datang untuk melakukan kunjungan untuk menghadap Majapahit.

Ketika dirinya ingin pulang, Raja Majapahit kemudian memberikan hadiah berupa 60 prajurit terbaik untuk mengawalnya ke Bali. Dari 60 prajurit terbaik ini dalam sejarah Dalem Waturenggong di Bali disebut Nyama Selam. Nyama artinya saudara, selam artinya Islam.

Disebutkan oleh Tatang, 60 prajurit ini merupakan Muslim pertama yang sampai di Bali. Semuanya adalah prajurit Majapahit yang dididik oleh Maulana Ustman Haji. Bisa disebutkan Umat Islam Bali memiliki sejarah erat dengan Palestina.

Sunan Ngudung kemudian menikah dengan Siti Syari’ah putri Sunan Ampel. Dari perkawinan tersebut lahir Sayyid Ja’far Shodiq alias Sunan Kudus dan Dewi Sujinah yang kelak jadi istri Sunan Muria.

Sunan Ngudung disebut wafat saat penyerangan Demak kepada Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Udara (Brawijaya VII). Penyerangan tersebut berlangsung lima tahun dan berakhir pada tahun 1518.

Berperan dalam perang Demak-Majapahit

Kitab Ahla al Musamarah fi Hikayat al Auliya al ‘Asyrah karangan Syekh Abu Fadhol memberikan narasi yang cukup panjang tentang Sunan Ngudung. Dirinya disebut memiliki peran signifikan dalam peperangan antara Kerajaan Demak melawan Majapahit.

Pada laporan babad Kerajaan Banten, terjadi konfrontasi antara Demak dengan Majapahit. Dua kekuatan yang berhadap-hadapan antara ulama yang dipimpin Sunan Ngudung melawan Majapahit yang berafiliasi dengan pasukan dari Klungkung, Pengging, dan Terung.

Ditulis oleh Prof Dr. N. J. Krom dalam buku Javaansche Geschiedenis menyebut sebelum Demak, Majapahit terlebih dahulu diserang oleh Prabu Girindrawardhana (1478-1498) dari Keling, Kediri, keturunan Prabu Jayakatwang, musuh Raden Wijaya.

Girindrawardhana dibantu oleh Patih Empu Tahan, ayah Raden Udara. Pada penyerangan ini, ditulis oleh Krom, menewaskan Raja Kertabumi atau Brawijaya V yang merupakan raja dari trah asli Majapahit.

Pasca penyerangan Girindrawardhana atas Majapahit, dirinya kemudian diangkat menjadi Raja Majapahit bergelar Brawijaya VI. Raden Patah mencoba menuntut haknya atas tahta Majapahit.

Namun upaya tersebut tampaknya kurang berhasil. Justru kemudian Girindrawardhana dibunuh oleh patihnya sendiri bernama Patih Udara. Patih Udara kemudian menggantikan Girindrawardhana menjadi Raja Majapahit dengan gelar Brawijaya VII.

“Dengan demikian serangan Demak atas Majapahit bukan terjadi pada masa Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, ayah Raden Patah. Namun terjadi pada masa Prabu Girindrawardhana atau Brawijaya atau Prabu Udara atau Brawijaya VII,” jelas Susiyanto dalam Senja Kala Majapahit dan Fitnah Terhadap Islam.

Gunung Tidar dan Kisah Syekh Subakir Meruqyah Tanah Jawa dari Makhluk Gaib

Dikisahkan oleh juru kunci makam Sunan Ngudung, Desa Wadung tempat makam Sunan Ngudung merupakan tempat persidangan para wali dan pasukan perang dari Kerajaan Demak.

Penyerangan pamungkas terhadap Majapahit ini terjadi setelah Sunan Ampel di Surabaya meninggal dunia. Berbondong-bondong para santri yang dipimpin Sunan Ngudung dan para ulama bergerak menyerang.

Dalam penyerangan kedua hanya dipimpin oleh Pangeran Ngudung. Di sisi Majapahit ada Pangeran Andayaningrat dari Pengging, Adipati Klungkung dari Bali, serta Adipati Pecat Tandha (kepala pasar yang berhak menarik pajak) dari Terung.

Pertempuran menentukan terjadi di Wirasaba (kini Mojoagung), versi lain menyatakan terjadi di tepi Sungai Sedayu. Pangeran Andayaningrat gugur, sedangkan Sunan Ngudung terbunuh oleh tusukan keris Adipati Terung.

Kisah kematian penghulu Rahmatullah ini termuat panjang lebar dalam kebanyakan naskah cerita Jawa Tengah dalam berbagai versi. Yang ringkas ialah versi J.L. A Brandes dan Serat Kandha edisi bahasa Belanda. Demikian juga dalam Babad Banten dan Babad Tjerbon.

Dakwah Sunan Ngudung

Selain sebagai panglima perang seperti tergambarkan di atas, Sunan Ngudung memiliki jejak historis sebagai penyebar Islam di wilayah Tuban khususnya di Desa Wadung Kecamatan Soko.

Sejarawan Agus Sunyoto menyebut jejak dakwah Sunan Ngudung adalah pencipta tari jaranan atau jathilan. Tari jaranan digunakan sebagai media dakwah keliling untuk mengumpulkan warga di lapangan desa.

“Setelah berkumpul kemudian warga diajak untuk membaca kalimat syahadat,” jelas Prihantono dalam Tari Jaranan: Kreasi Sunan Ngudung untuk Berdakwah.

Menurut Prihantono, kontribusi terpenting dari Sunan Ngudung adalah ikut meletakkan pondasi moderasi dakwah dengan memanfaatkan tarian jaranan. Ada dua pendapat, jelasnya, yang menyebutkan asal usul dan tahun kemunculan seni ini.

Pertama, kesenian jaranan mulai muncul sejak abad ke X atau sekitar tahun 1041 bersamaan dengan kerajaan Kahuripan terbagi dua, yaitu bagian timur kerajaan Jenggala dan sebelah barat kerajaan Panjalu.

Kedua kesenian jaranan sudah tumbuh dan berkembang sekitar abad 14-15 M. Disebutkan oleh Agus Sunyoto, kesenian ini lahir pada masa transisi zaman Hindu ke Islam. Kesenian ini digunakan oleh para wali sebagai media dakwah.

Perkembangan Agama Islam di wilayah Purwodadi ternyata juga ada andil dari Sunan Ngudung. Hal ini setidaknya bisa dilihat dengan adanya petilasan dari ayah Ja'far Shadiq alias Sunan Kudus ini di Dusun Widuri, Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi.

Kontroversi dan Keraguan tentang Keberadaan Sosok Syekh Siti Jenar

Petilasan Sunan Ngudung di Desa Cingkrong berada di depan rumah warga bernama Mbah Yahyo yang sekaligus merupakan juru kunci. Di pekarangan depan rumahnya sebelah kiri, terdapat bangunan kecil seperti pos kamling berukuran 2,5 meter x 2,5 meter. Di sinilah letak petilasan Sunan Ngudung.

Ketika pintu bangunan dari bahan tembok ini dibuka, tampak di dalamnya ada dua patok atau nisan dari kayu. Sepintas, mirip patok yang ada di pemakaman, Di atas lantai digelar karpet warna hijau.

“Di sinilah petilasan dari Sunan Ngudung. Meski ada patok tetapi ini bukan makam beliau. Patok ini hanya sebagai tanda supaya petilasan mudah dikenali saja,” kata Mbah Yahyo yang dikabarkan Muria News.

Yahyo tidak mengetahui persis apa yang ada di bawah patok petilasan tersebut. Ada yang menyebut di dalamnya ada pusaka atau jubah. Selain itu, ada yang menyebutnya di bawah patok itu tanahnya sempat terkena ceceran darah Sunan Ngudung.

Walau begitu dirinya memastikan Sunan Ngudung pernah sampai ke kampung ini. Petilasan tersebut sudah ada ratusan tahun lalu. Dahulunya hanya dikasih pagar keliling dari bambu. Baru pada beberapa tahun lalu ditutup bangunan dari tembok bata.

“Selama ini, sudah banyak orang yang ziarah ke sini. Ada yang dari Jawa Timur, Solo, Semarang, dan Yogyakarta. Paling ramai kalau malam Jumat Kliwon, bulan Muharam, atau Suro,” imbuhnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini