Simbolisasi dan Harmonisasi di Balik Makanan pada Masyarakat Bali

Simbolisasi dan Harmonisasi di Balik Makanan pada Masyarakat Bali
info gambar utama

Bagi masyarakat Bali, makanan bukan sekadar pemuas lidah, melainkan sarana untuk meraih berkah. Hal inilah yang menyebabkan orang Bali tidak pernah lelah menyiapkan begitu banyak makanan untuk sajen ritual agama.

Pada setiap ritual yang tampak seperti pertunjukan, makanan sesajen selalu dilibatkan. Boleh dikata tak ada makanan tanpa ritual dan tidak ritual tanpa makanan persembahan. Makanan harus selalu hadir sebagai persembahan sebelum dinikmati manusia.

Masyarakat Hindu Bali memang percaya bahwa semua yang ada di alam adalah milik Tuhan. Dalam konsepsi Hindu-Bali, makanan terlebih dahulu harus dipersembahkan kepada Dewata yang menguasai kehidupan manusia dan alam semesta.

“Tanpa persembahan, manusia dianggap mencuri milik Tuhan,” kata rohaniawan Hindu Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda yang disadur dari buku Makanan dan Ritual di Bali yang terbit dari Litbang Kompas.

Deretan 6 Makanan Khas Indonesia yang Serupa tapi Tak Sama

Ritual persembahan pun menjadi bagian dari nafas kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu-Bali. Setiap hari, setiap keluarga menyisihkan makanan yang disantap hari itu untuk saiban atau sajian yang lebih sederhana.

Dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, I Ketut Donder menjelaskan saiban dipersembahkan untuk mencuci dosa-dosa yang dilakukan setiap hari. Saiban diletakkan di tempat dosa dilakukan, seperti pintu, talenan di dapur, tempat beras, dan sumur.

Pada makanan persembahan, banyak sekali simbol yang bermain. Menurut Acharyananda, hal ini karena makanan sesungguhnya adalah teks. Masyarakat Bali, memaknai makanan tidak dengan sederhana.

Misalnya itik persembahan, tidak lagi dipandang semata sebagai itik, namun simbol sifat bijaksana. Penyu melambangkan alas bumi karena bisa hidup di darat dan di laut. Kemudian ayam melambangkan kesetiaan, dan babi melambangkan kemalasan.

Hewan persembahan

Dalam konsep Hindu-Bali tidak ada kekejaman dalam pembunuhan hewan persembahan. Penyembelihan hewan-hewan untuk upacara juga bukan semata pembunuhan, melainkan ruwat atau penyucian.

Kalau hewan itu ditujukan untuk dewa atas, dia menjadi persembahan. Lungsuran persembahan kepada dewa menjadi makanan penuh berkah yang bisa dimakan manusia. Bila ditujukan untuk dunia bawah, dia menjadi kekuatan pada alam semesta.

“Dengan cara itu, keharmonisan hubungan antara Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia terjaga,” jelas Acharyananda.

Karena konsep itu, bagi masyarakat Bali apa pun yang ada di alam bisa dijadikan sarana persembahan atau kurban. Acharyananda menyatakan zaman dahulu hewan seperti macan juga digunakan untuk ritual.

Selain itu, kondisi ekologi tampaknya memberi pengaruh pada isi sesajen. Di kawasan pesisir, seperti Negara dan Gilimanuk, hewan laut seperti kepiting, udang, dan ikan masuk dalam sesajen.

Di Denpasar Selatan, di dalam sajen ada penyu yang diolah sebagai lawar, sate, dan lainnya. Di pedalaman, seperti Dauh Tukad, Tenganan, Karangasem, sajen berisi itik, babi, kerbau atau anjing.

Pabrik Tempe Skala Besar Bakal Dibangun di Amerika Serikat

“Sebab, hewan itulah yang banyak dipelihara di sini,” ujar kepala adat Desa Tukad, Putu Ardana.

Sementara kategori hewan untuk persembahan kepada dewa dan dunia tidak selalu sama. Di beberapa daerah, jelas Ardana, itik hanya digunakan untuk persembahan kepada dewa, sedangkan babi untuk Bhuta Kala penguasa dunia bawah.

Di Daud Tukad, ungkap Ardana, itik digunakan sekaligus untuk dewa dan Bhuta, sedangkan babi untuk dewa. Perbedaannya, dijelaskan oleh Ardana, untuk dewa, itik di guling, sedangkan untuk dunia bawah, itik dibakar.

Sejarah perjalanan suatu desa juga mempengaruhi pilihan atas hewan persembahan. Misalnya masyarakat yang tinggal di Banjar Dadia Puri, Desa Bunutin, Kabupaten Bangli misalnya tidak mempersembahkan babi.

Karena mereka menganggap dirinya keturunan Pangeran Mas Wilis dari Blambangan, Jawa Timur yang memiliki saudara kembar bernama Pangeran Mas Sepuh. Ketika datang ke Bali pada abad 16, Pangeran Mas Sepuh diperkirakan telah beragama Islam.

“Sebagai bentuk toleransi kepada umat Islam yang mengharamkan babi, kami tidak menggunakan babi untuk persembahan. Kami memakai sapi,” ujar Kelian Pura Dalem Jawa, Ida Oka Nurjaya.

Sajen yang beraneka memang merupakan cerminan masyarakat Bali yang heterogen. Tetapi jelas Guru Besar Antropologi Universitas Udayana I Wayan Geria, ada benang merah dalam makanan Bali, yakni nasi, daging, sayur, dan sambal.

Benang merah lain yang mengikat makanan Bali adalah bumbu. Di dalamnya selalu ada 15 jenis bumbu yang digunakan, termasuk salam, serai, kemiri, dan jeruk limau. Itulah bumbu dasar yang memberikan cita rasa khas pada semua masakan Bali.

Bali sebagai negara teater

Ritual persembahan menjadi bagian dari nafas kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu-Bali. Dan aktivitas itu meningkat tajam ketika ada upacara atau perayaaan agama yang lebih besar, seperti Galungan dan Kuningan.

Menjelang hari raya Galungan yang diikuti Kuningan,upacara-upacara besar bak pertunjukan massal muncul di mana-mana. Di Pura Sakenan, Pulau Serangan, Denpasar, puluhan hingga ratusan ribu orang mengalir bagai air sepanjang hari.

Perempuan-perempuan menyunggi aneka sesaji yang nantinya diletakkan di sekitar pura. Di saat upacara besar seperti itulah, aneka makanan dijadikan sesaji untuk dewa. Dan, jenis makanan yang disajikan di setiap daerah tidak selalu sama.

Di Negara, Kabupaten Jembrana, yang berada di pesisir Bali bagian barat, ada makanan khas yang menjadi sajen dewa, yakni pesor (sejenis lontong dari daun bambu dan pohon kasa) dan lawar klungah atau lawar tempurung kelapa muda.

Lawar merupakan aneka sayur dan daging yang diracik dengan parutan kelapa bakar dan basa genap (bumbu lengkap ala Bali). Sekilas rupanya seperti urap dengan aroma bumbu yang lebih tajam. Selain potongan tempurung kelapa muda, dalam lawar klungah terdapat potongan ayam.

Di dalam sesajen yang dipersembahkan masyarakat Jembrana biasanya juga terdapat makanan laut, seperti ikan, udang, dan kepiting. Sementara itu, sesajen di Denpasar dan Gianyar didominasi daging babi.

Beberapa Jenis Bakso yang Cocok Menemani Makan Siang

Ni Nyoman Loten, biasanya cukup sibuk menjelang upacara besar. Dirinya akan memasak aneka kue dan masakan sejak pagi hingga sore. Tepat tengah hari, sejumlah kue buatan Loten telah matang dan ditumpuk di atas meja.

Loten juga membuat lawar klungah. Makanan ini berbahan utama tempurung kelapa muda ditambah daging irisan tipis daging ayam. Sebagian disisihkan untuk persembahan dewa, sisanya dalam jumlah banyak dijadikan suguhan untuk keluarga.

Lalu, saat hari raya Kuningan di mana dewa-dewa akan kembali ke kahyangan. Sebelum matahari bersinar, Loten dan keluarga membawa sebagian sesajen ke pura keluarga. Di batas antara dini hari dan pagi, mereka berdoa dan mempersembahkan sesajen kepada dewa.

Ribuan umat Hindu-Bali yang lain berkunjung dari satu pura ke pura lainnya. Di Pura Jagatnatha, Jembrana, sesajen dibawa umat bertumpuk di meja panjang mirip altar. Di depan sesajen, umat Hindu Bali berdoa khusus dengan kedua tangan menangkup di atas kepala.

Begitulah Bali, ritual agama tampak bagai pertunjukan massal yang meriah. Semua orang memainkan perannya, ada arak-arakan, sajen-sajen persembahan, tarian, musik, dan doa-doa yang semuanya mengandung simbol-simbol sarat makna.

“Tidak salah jika antropolog Clifford Geertz menjuluki Bali sebagai negara teater di mana simbol-simbol kekuasaan dan status diperlihatkan saat upacara.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini