Asta Kosala Kosali, Aturan Tata Letak dan Ruangan Serupa Fengshui dalam Budaya Bali

Asta Kosala Kosali, Aturan Tata Letak dan Ruangan Serupa Fengshui dalam Budaya Bali
info gambar utama

Keunikan Bali tak hanya terletak pada wisata, seni, dan budayanya, tapi juga mencakup bidang arsitektur bangunan baik itu tempat tinggal maupun rumah adat. Ketika berkunjung ke area pemukiman, Anda tentu pernah melihat betapa memesonanya rumah-rumah khas Pulau Dewata.

Ternyata, proses pembangunan rumah khas Bali tidak sembarangan. Mereka menerapkan Asta Kosala Kosali sebagai aturan mengenai tata letak ruangan dan bangunan sesuai landasan filosofis, etis, dan ritual. Bisa dibilang ini semacam fengshui versi Bali.

Aturan dalam Asta Kosala Kosali juga menjadi pedoman bagi undagi, sebutan bagi arsitek tradisional Bali yang tidak hanya mumpuni dalam ilmu rancang bangun, tapi juga memahami seni, budaya, adat, dan agama.

Sejauh apa aturan Asta Kosala Kosali diterapkan dalam pembangunan rumah di Bali?

Simbolisasi dan Harmonisasi di Balik Makanan pada Masyarakat Bali

Memahami makna Asta Kosala Kosali

 Ilustrasi rumah khas Bali | @Hestamma Jagadhita Shutterstock
info gambar

Pada dasarnya Asta Kosala Kosali adalah konsep tata ruang tradisional Bali berdasarkan konsep keseimbangan kosmologis (Tri Hita Karana), hierarki tata nilai (Tri Angga), orientasi kosmologis (Sanga Mandala), ruang terbuka (natah), proporsional dengan skala, kronologis dan prosesi pembangunan, kejujuran struktur, dan kejujuran pemakaian material.

Keunikan dari aturan ini adalah penataan bangunan bukan diukur berdasarkan ukuran tubuh pemilik rumah seperti berikut:

  1. Acengkang : diukur dari ujung telunjuk sampai ujung ibu jari tangan yang direntangkan.
  2. Agemel : diukur keliling tangan yang dikepalkan.
  3. Aguli : diukur ruas tengah jari telunjuk.
  4. Akacing : diukur pangkal sampai ujung jari kelingking tangan kanan.
  5. Alek : diukur pangkal sampai ujung jari tengah tangan kanan.
  6. Amusti : diukur ujung ibu jari sampai pangkal telapak tangan yang dikepalkan.
  7. Atapak batis : diukur sepanjang telapak kaki.
  8. Atapak batis ngandang : diukur selebar telapak kaki.
  9. Atengen Depa Agung : diukur dari pangkal lengan sampai ujung jari tangan yang direntangkan.
  10. Atengen Depa Alit : diukur dari pangkal lengan sampai ujung tangan yang dikepalkan.
  11. Auseran : diukur dari pangkal ujung jari telunjuk yang ditempatkan pada suatu permukaan.
  12. Duang jeriji : diukur lingkar dua jari (jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan)
  13. Petang jeriji : diukur lebar empat jari (telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking) yang dirapatkan.
  14. Sahasta : diukur dari siku sampai pangkal telapak tangan yang dikepal.
  15. Atampak lima : diukur selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat.

Asta Kosala Kosali juga berisi pengetahuan tentang ajaran hakikat bagi seorang undagi, kewajiban yang harus dipatuhi undagi, dewa pujaan seorang undagi (Bhatara Wiswakarma), ukuran-ukuran yang digunakan, dan menjadi pedoman undagi dalam bekerja untuk merancang bangunan, teknik pemasangan bahan bangunan, tata cara mengukur luas bangunan, jenis-jenis bangunan tradisional Bali, sesajen yang digunakan pada saat upacara bangunan, dan mantra-mantra undagi.

Dengan mengikuti aturan tersebut, maka bangunan tersebut dipercaya akan memberikan keseimbangan kehidupan bagi penghuni rumah dengan lingkungan di sekitar pekarangan.

"Asta Kosala Kosali ini kita diajarkan berkaitan dengan bagaimana membangun itu dapat mencapai keharmonisan dan keseimbangan yang meliputi alam bawah, alam tengah, dan alam atas. Singkatnya, ini adalah pedoman membangun mencapai keharmonisan dan keseimbangan antara alam, manusia, dan Tuhan," ujar I Nyoman Nuri Arthana, Dosen Arsitektur Universitas Warmadewa, seperti dikutip Liputan6.com.

Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan di Bali tak lepas dari peran tokoh sejarah Bali Aga dan zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke-11 atau pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu banyak mewarisi landasan pembangunan arsitektur Bali.

Tertulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta Kosala Kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur, Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspedisi Gajah Mada ke Bali abad ke-14 juga turut mewarnai kekayaan arsitektur Bali.

Candi Gunung Kawi, Situs Purbakala Peninggalan Dinasti Udayana di Bali

Bagaimana Asta Kosala Kosali bekerja?

Ilustrasi | Wikimedia Commons
info gambar

Cara kerja Asta Kosala Kosali bisa dibilang benar-benar detail dan mengikat. Aturannya bahkan berlaku pada pemilihan tanah, penataan sesuai kondisi, tata letak, hingga pintu masuk.

Dalam memilih tanah untuk bangunan diusahakan yang miring ke timur atau utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, dan pelemahan marubu lalah (berbau pedas). Adapun tanah yang harus dihindari sebagai lokasi membangun rumah yaitu tumbak rurung atau jalan, pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan, karang yang dilingkari lorong, karang diapit lorong, karang di hulu Kahyangan, dua pintu masuk berdampingan sama tnggi, dan tanah hitam legam juga berbau busuk.

Tanah yang dianggap tidak baik itu tetap bisa dibangun rumah tetapi harus diadakan upacara agama dan dibuatkan palinggih yang dilengkapi upacara pamarisuda.

Agar energi di rumah lebih positif, biasanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya bangunan yang terletak di timur lantainya lebih tinggi karena menurut masyarakat Bali, bagian timur dianggap sebagai hulu yang disucikan. Selain itu, dapur berada di arah barat yang sesuai dengan letak Dewa Api, dan sumur atau lumbung padi di timur atau utara dapur karena melihat posisi Dewa Air.

Menentukan pintu masuk juga penting untuk menangkap Dewa Air sebagai sumber rejeki . Jika pintu masuk lebih dari satu, lebar dan tinggi pintu masuk utama, pintu lain, dan tinggi lantai pun tidak boleh sama. Lantai pintu masuk utama yang berbentuk gapura atau angkul-angkul harus lebih tinggi dari pintu masuk mobil menuju garasi. Jika dibuat sama maka efeknya akan kurang menguntungkan bagi penghuni rumah karena dipercaya akan sakit-sakitan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini