Di Sumatra Utara, Lalapan Favorit Berasal dari Pucuk Rotan

Di Sumatra Utara, Lalapan Favorit Berasal dari Pucuk Rotan
info gambar utama

Rotan lazimnya dikenal banyak orang sebagai salah satu jenis tumbuhan, yang batangnya kerap dijadikan bahan untuk membuat berbagai macam kerajinan, bahkan salah satu material pembuat furnitur rumah tangga.

Namun, hal berbeda berlaku di Sumatra Utara, tepatnya bagi suku Mandailing yang mendiami sebagian wilayah Tapanuli Selatan. Mereka memiliki salah satu kuliner khas yang berasal dari rotan, lebih tepatnya bagian pucuk yang biasa disebut juga dengan nama umbut rotan.

Umbut rotan itu lah yang oleh masyarakat Mandailing dijadikan hidangan favorit sebagai lalapan. Berbeda dengan masyarakat di wilayah Pulau Jawa, yang umumnya banyak menjadikan sayuran muda layaknya timun, labu siam, terong, dan lain-lain untuk jenis santapan tersebut.

Apa keunikan dari santapan lalap yang berasal dari rotan muda ini?

Pakkat yang dimasak selama empat jam

Pakkat
info gambar

Secara lebih spesifik, pucuk atau rotan muda sendiri oleh masyarakat Mandailing dikenal juga dengan sebutan Pakkat. Sementara itu mengutip Merdeka.com, proses mengolah rotan muda ini rupanya juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sebelum dijual ke pembeli, pakkat harus terlebih dulu dibakar hingga kulitnya berubah menjadi hitam dan membuat daging rotan berwarna putih. Biasanya, proses kematangan daging rotan tersebut memakan waktu selama 4 jam.

Kulit pakkat saat dibakar harus benar-benar sampai hitam, karena jika tidak maka isi di bagian dalamnya akan berwarna kuning dan membuat rasanya menjadi tidak enak.

Pakkat yang akan dibeli oleh masyarakat setempat pun biasanya masih berupa batangan panjang, ketika ada pembeli pedagang pakkat baru mengupas kulit dan memotong bahan pangan tersebut menjadi berukuran lebih kecil yakni sekitar 3-5 sentimeter. Biasanya, pakkat dijual dengan harga berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masyarakat yang membeli pakkat biasa mengolahnya sebagai lalapan atau pendamping makanan besar. Memiliki cita rasa agak pahit, pakkat dianggap dapat menambah selera makan bagi mereka yang biasa menikmatinya.

Uniknya meski terbuat dari batang rotan, namun tekstur pakkat ini justru lembut dan mudah dikunyah. Meski awalnya merupakan menu khas warga suku Mandailing, namun kini penyebaran pakkat sudah berkembang pesat dan menjadi makanan yang cukup populer di seluruh wilayah Sumatra Utara.

Hanya ditemui saat Ramadan

Yang membuat pakkat istimewa, adalah keberadaannya yang disebut hanya banyak dan mudah ditemui saat momen Ramadan. Sama halnya seperti takjil, bahan santapan satu ini akan banyak dijajakan oleh para penjualnya di pinggir jalan kala Ramadan, bonus pemandangan pedagang yang biasanya membakar pakkat secara langsung.

Saat Ramadan, para pedagang pakkat di pinggir jalan biasanya bisa menjual habis hingga ratusan batang pakkat, lebih tepatnya mulai dari 500-900 batang setiap harinya. Di saat bersamaan, ada salah satu alasan tersendiri mengapa pakkat hanya banyak ditemui saat Ramadan, yakni karena keberadaannya sendiri yang sulit didapat.

Para pedagang yang berada di kota-kota besar seperti Medan dan sekitarnya, bahkan harus memesan pakkat jauh-jauh hari sebelum Ramadan untuk bisa mendapatkan pakkat yang berasal dari Tapanuli Selatan.

Sementara itu dijelaskan jika selama ini ada dua jenis pakkat yang dijual, pertama pakkat raja atau rotan muda dari jenis maldo di mana biasa dijadikan sebagai tiang kursi rotan. kedua pakkat yang kecil-kecil dan diperoleh dari batang muda rotan biasa.

Pedagang lain yang mengaku bisa menjual hingga 600 batang pakkat dalam sehari, mengaku bisa memperoleh hasil penjualan mencapai Rp15 juta dalam waktu satu bulan selama Ramadan.

Biasanya selain lalapan, pakkat diolah sebagai bahan sampingan dari berbagai makanan utama seperti anyang ayam pakkat, dijadikan gulai umbut, hingga dimakan sebagai cocolan sambal tuktuk khas Tapanuli Selatan.

”Akan makin nikmat rasanya jika dicampur cabai mentah digiling, dikasih jeruk nipis dan bawang merah mentah di iris. Rasa sepat pahit di lidah akan menambah selera makan,” ujar pedagang pakkat bernama Andi, menukil Mongabay Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini