Indonesia Sebagai Jejak Migrasi dan Peradaban yang Masih Terwariskan

Indonesia Sebagai Jejak Migrasi dan Peradaban yang Masih Terwariskan
info gambar utama

Sejak memasuki masa Milenium, penelitian tentang penutur dan budaya Austronesia merupakan tema yang berkembang secara pesat. Apalagi dari dimensi ruang studi ini sebaran Penutur Austronesia melampaui batas-batas kenegaraan.

Penutur Austronesia tersebar mulai dari Kepulauan Paskah di ujung timur hingga Madagaskar di ujung barat, serta dari Taiwan-Mikronesia di utara hingga Selandia Baru di selatan.

Indonesia juga sangat penting dalam studi Austronesia global. Kepulauan yang terletak di tengah kawasan sebaran dan wilayahnya yang luas, tidak boleh tidak menjadi semacam katalisator persebaran dan interaksi populasi timur-barat.

Karena kondisi ini Studi Prasejarah dan Austronesia (CPAS) secara intensif melakukan penelitian ini sejak tahun 2003. Menurut Profesor Peneliti CPAS, Harry Truman Simanjuntak penelitian ini akan memperlihatkan peran Indonesia bagi kawasan lain.

“Peneliti Indonesia harus menggali dan mementaskan tentang zaman prasejarah dalam keruangan. Karena itu kita bisa melihat peran Indonesia sangat penting dalam sejarah kemanusian,” ucap Truman pada acara Advancing The Prehistory & Austronesian Studies in Indonesia dalam webinar yang diselenggarakan CPAS, Rabu (20/4/2022).

Menelusuri Gua Pawon, Rumah Orang Bandung pada Zaman Purba

Kawasan Nusantara sebagai titik persebaran manusia ke berbagai wilayah dunia memang telah tercatat dalam sejarah. Misalnya dalam teori of Africa, di mana adanya persebaran Homo erectus dari Afrika yang meninggalkan daerahnya sekitar 1,8 juta tahun lalu.

Penemuan Homo erectus tertua di Indonesia ditemukan di wilayah Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), di sana ditemukan fosil Homo erectus berusia 1,8 juta tahun. Selain itu di Sangiran, Kecamatan Sragen, Jateng yang menemukan fragmen tulang manusia berusia 1,7 juta tahun lalu.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harry Widianto menyebut Homo erectus hidup cukup panjang di Pulau Jawa, hingga akhirnya punah sekitar 250 ribu tahun lalu. Penduduk Pulau Jawa lantas digantikan oleh Homo sapiens.

Seperti pendahulunya, kelompok ini diduga pergi dari Afrika pada sekitar 150 ribu tahun lalu. Dari tinggalan arkeologis Homo sapiens telah mampu bermigrasi menyebrangi lautan dari Pulau Timor ke Australia pada sekitar 60 ribu tahun lalu.

Di Indonesia, manusia modern pertama ini ternyata sudah hidup pada 63-78 ribu tahun lalu. Hal ini dari fakta penemuan fosil di Gua Lida Ajer, Jambi. Sekitar 12.000 tahun lalu, masuklah dua kelompok lainnya yang berasal dari ras Monggoloid dari China Selatan (penutur Austronesia).

Kelompok manusia modern tersebut kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk tiga kelompok yang akhirnya menghuni Nusantara. Tiga kelompok leluhur bangsa Indonesia tersebut kemudian hidup berbaur secara biologis maupun peradaban.

Peradaban yang lahir

Menurut Harry, migrasi penutur Austronesia yang dijelaskan dalam teori Out of Taiwan termasuk yang sangat fenomenal. Penutur Austronesia disebut berasal dari Taiwan atau Formosa yang melakukan migrasi pada 35 ribu tahun lalu.

Migrasi penutur Austronesia ke Asia Tenggara dan Pasifik juga membawa kebudayaan mereka, antara lain pertanian (padi, jewawut, tebu, ubi, dan keladi raksasa) dan gerabah, penggunaan beliung persegi, perhiasan kerang, tenun dan kebiasaan makan sirih.

Selain itu tradisi megalitik yang terdapat di Pasemah terutama berupa menhir, dolmen, peti kubur batu, lesung serta patung-patung batu yang bergaya statis dan dinamis. Tradisi ini digunakan sebagai ritual pemujaan.

Selain tradisi yang berhubungan dengan usaha pendekatan diri kepada arwah nenek moyang dalam aspek religi dan pertanian, para penutur Austronesia juga melakukan domestikasi hewan.

“Setelah kedatangan manusia modern yang tadinya linier menjadi percabangan yang kompleks. hingga awal abad Masehi, saat kedatangan orang Arab, Gujarat, India, meramaikan aspek genetis dari manusia Nusantara. Kelak tidak hanya tiga warna, karena dinamika migrasi yang sangat intensif ke pulau Nusantara,” jelasnya.

Francois Semah, peneliti geologi dari Prancis menyebut ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari para leluhur tersebut, antara lain keberanian menyeberangi lautan, melakukan adaptasi di lingkungan baru dan pewarisan peradaban.

Homo Erectus Bumiayu, Penemuan Fosil Manusia Purba Tertua di Jawa

Menurutnya, sebelum sampai ke Pulau Jawa, manusia pertama ini telah mempelajari teritori dalam lingkungan. Hal ini menjadi tahap paling penting, jelasnya, mengawali dispersal manusia di Indonesia dan dunia.

Homo erectus, misalnya, harus beradaptasi dengan lingkungan baru, seperti di hutan payau yang memiliki banyak sumber daya alam tetapi juga dihadapi oleh banyak tantangan.

Bahkan pewarisan peradaban ini konon masih diwarisi hingga kini, misalnya pada tradisi ibu-ibu di Sumatra Selatan yang mencari cangkang kerang di lumpur menggunakan kaki.

“Mereka bisa memisahkan antara cangkang yang bisa dimakan atau tidak. Itu hebat sekali dan kita tidak tahu tradisi itu muncul, itu bisa lama lagi,” bebernya.

Bagi Semah, kemampuan baik Homo erectus dan sapiens untuk beradaptasi inilah yang bisa menjadi pelajaran bagi manusia pada masa kini. Apalagi menghadapi tantangan berat, baik dari iklim, populasi, hingga pangan.

Peradaban yang terwariskan

Daud Tanudirjo, Arkeolog dari Universitas Gajah Mada melihat upaya mencari akar untuk merekonstruksi peradaban masa lalu untuk pelajaran masa kini, memang harus terus dilakukan.

Namun, jelasnya, pandangan dari hasil rekonstruksi ini tidak bisa seratus persen objektif. Pasalnya dalam proses pemaknaan masa lalu akan berkembang sesuai dengan induvidu ataupun kelompok sendiri.

Karena itu, dirinya berpesan, pandangan kritis tetap dibutuhkan dalam memaknai masa lalu. Apalagi peradaban masa lalu, ucapnya, tidak lagi lengkap. Namun hal ini tidak berarti, manusia masa sekarang tidak bisa mengambil pelajaran dari masa silam.

Dalam sebuah penafsiran yang dibutuhkan, misalnya dalam aspek kebhinekaan, bagi Daud, bisa dicari bagaimana manusia masa silam menghadapi keberagaman. Walau jelasnya, pada masa silam, teori kebhinekaan hanya terkesan simbol saja.

“Orang Indonesia sangat bertakwa, maka kita bisa melihat ke orang Austronesia. Karena banyak bencana alam dan di laut mereka hanya bisa mengandalkan supranatural. Karena itu sifat spiritual tertanam bagi kita,” jelasnya.

Hal yang sama disaksikan, peneliti BRIN, I Made Griya saat menyaksikan peradaban masyarakat di Bali. Menurutnya, tradisi masyarakat di sana tidak hanya dipengaruhi oleh Hindu atau India.

Misalnya dalam tradisi pemulian gunung, konsep keteraturan ruang, sistem irigasi subak Bali, dan pengelolaan air. Ternyata tradisi jarak sempadan sungai juga ditemukan di Sungai Ciliwung yang membuktikan persebaran tradisi Austronesia.

Menguak Lukisan Purba di Pulau Tak Berpenghuni di Maluku

Selain itu, ada juga tradisi memakaikan sarung kepada pohon di Bali dan Kalimantan. Juga pemulian terhadap tempat-tempat tertentu dengan sawen, misalnya di Sumba, Nusa Tenggara Barat dan Jawa.

“Tempat-tempat yang ditaruh sawen itu daur hidrologi untuk mengamankan alam dan lingkungan. Dan Itu bukan pengaruh Hindu, tegasnya.

Hal utama dalam tradisi Austronesia, ucap Made, yang terwariskan adalah solidaritas kosmis untuk menghargai semua makhluk dunia. Tradisi ini, jelasnya masih ada dalam masyarakat adat Baduy, Kampung Naga, dan lain-lain.

Selain itu, dirinya menyoroti tradisi yang dilakukan oleh para leluhur yang tidak hanya memikirkan jangka pendek, tetapi juga menyisakan untuk generasi selanjutnya. Hal ini terlihat dari tradisi konsumsi yang tidak berlebihan.

“Katanya masyarakat zaman dahulu, kalau makan tidak tambah. Karena untuk memenuhi kebutuhan tubuh hanya sekali makan, sedangkan bila menambah hanya untuk nafsu,” bebernya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini