Benarkah Masih Ada Manusia Purba yang Hidup di Pulau Flores? Ini Kata Ilmuwan

Benarkah Masih Ada Manusia Purba yang Hidup di Pulau Flores? Ini Kata Ilmuwan
info gambar utama

Masih ingat dengan penemuan manusia purba yang dinamai Homo floresiensis di Pulau Flores, pada kisaran tahun 2004 lalu?

Sempat menjadi bahan perdebatan sejumlah peneliti dan arkeolog, sekaligus objek penelitian yang mengguncang dunia sains pada masanya, kini muncul ungkapan yang menyebut jika manusia purba yang dimaksud kemungkinan masih hidup di daratan yang terletak di Provinsi Nusa Tengara Timur tersebut.

Ungkapan ini disampaikan oleh Gregory Forth, pensiunan sekaligus seorang profesor antropologi yang berasal dari University of Alberta asal Kanada. Dirinya merupakan salah satu peneliti terlibat dalam kelompok yang menemukan Homo floresiensis saat eksplorasi pada tahun 2004, yang saat itu dipimpin oleh Mike Morwood, yang juga merupakan seorang arkeolog asal University of Wollongong, Australia.

Lewat publikasinya yang dimuat dalam The Scientist, Forth menyebut jika kemungkinan yang ia suarakan berangkat dari berbagai latar belakang, salah satunya laporan mengenai kemunculan makhluk yang disebut mirip manusia di daerah pedalaman, meski kemunculannya jarang terlihat.

Sebuah Bukti Kekayaan Budaya Manusia Purba di Asia Tenggara Ada di Indonesia

Laporan penampakan dari 30 orang saksi suku Lio

Pemukiman suku Lio, pihak yang melaporkan kerap adanya penampakan manusia purba
info gambar

Masih menurut sumber yang sama, asumsi Forth yang menyebut jika manusia purba Homo floresiensis yang selanjutnya juga kerap dinamakan Hobbit Flores masih eksis hingga saat ini, adalah karena adanya sejumlah laporan penampakan yang didapat dari masyarakat adat terbesar di Pulau Flores, yakni Suku Lio.

Telah berbicara secara langsung dengan puluhan masyarakat suku Lio, Forth memaparkan hasil penelitiannya secara mendetail dengan menuliskan penjelasan secara rasional, dan didukung dengan fakta-fakta empiris terkait kisah mitologi kuno yang dibagikan masyarakat suku Lio, terkait makhluk yang dimaksud.

“Ini termasuk laporan penampakan oleh lebih dari 30 saksi mata, yang semuanya saya ajak bicara secara langsung. Dan saya menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan apa yang mereka katakan kepada saya, adalah kemungkinan bahwa Homo floresiensis masih bertahan di Pulau Flores hingga akhir-akhir ini, atau mungkin saat ini." jelasnya.

Forth menyebut, jika masyarakat suku Lio secara detail menjelaskan bahwa makhluk yang mereka lihat kerap dianggap sebagai binatang yang sangat mirip dengan manusia, tapi bukan manusia. Sehingga dalam asumsinya, Forth menamai wujud makhluk yang mereka maksud dengan sebutan manusia kera (ape-man).

Menyusuri Jejak Manusia Purba di Desa Sangiran yang Diakui UNESCO

Misteri yang berpotensi menimbulkan konflik sensitif

Gua
info gambar

Di lain sisi meski bersumber langsung dari masyarakat lokal, asumsi yang diungkapkan oleh Forth juga menimbulkan pertanyaan. Pasalnya meski dikenal sebagai suku atau masyarakat adat terbesar di Flores, suku Lio sendiri saat ini diketahui menempati sejumlah kecamatan yang berada di Kabupaten Ende dan Sikka.

Sementara itu jika melakukan sedikit kilas balik, kerangka fosil Homo floresiensis saat pertama kali ditemukan terletak di Gua Liang Bua, yang berada di Kabupaten Manggarai. Dan jarak antara kabupaten tersebut dengan Kabupaten Ende atau Sikka tempat suku Lio tinggal saat ini secara turun-temurun, berada di kisaran lebih dari 300 kilometer.

Meskipun jika memang manusia purba tersebut masih ada hingga saat ini dan melakukan perpindahan, maka sudah pasti pergerakaannya akan terlihat dengan jelas oleh manusia modern di masa kini.

Sementara itu jika bicara mengenai kemampuan untuk berpindah, disebutkan bahwa dalam mitologi kuno atau cerita leluhur suku Lio sendiri, terdapat kepercayaan mengenai keberadaan makhluk alam khususnya manusia, yang memiliki kemampuan berubah secara permanen menjadi spesies lain misal hewan, yang selanjutnya diyakni berhubungan dengan H. floresiensis.

Hal tersebut konon dilakukan sebagai bentuk usaha ketika spesies mereka pindah ke lingkungan lain dan mengadopsi cara hidup yang baru. Di lain sisi, ahli etnobiologi mengungkap jika ape-man yang dinamai oleh Forth atau dianggap sebagai hewan oleh suku Lio, dapat menjadi salah satu hipotesis mengenai nenek moyang manusia modern saat ini, khususnya yang tinggal di wilayah tersebut.

Namun hal itu berpotensi menimbulkan pertentangan, karena sejak pertama kali fosil Homo floresiensis atau penelitian mengenai manusia purba lainnya dilakukan, ada sejumlah antropolog dan kritikus yang memandang jika hal ini dapat menimbulkan masalah dan konflik rasisme.

Karena itu, meski kini muncul asumsi dari Forth mengenai keberadaan Homo floresiensis yang diyakini masih hidup di Pulau Flores, hal tersebut tidak langsung memberikan pencerahan atas misteri yang sejak lama belum terjawab, yakni mengenai asal-usul dan bagaimana evolusi sebenarnya dari manusia purba H. floresiensis.

Hobbit dan Mata Menge, ‘’Manusia Purba’’ Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini