Memahami Upaya Menuju Indonesia Bebas Malaria Tahun 2030

Memahami Upaya Menuju Indonesia Bebas Malaria Tahun 2030
info gambar utama

Malaria merupakan penyakit yang mudah menyebar melalui gigitan nyamuk dan bisa berakibat fatal jika tidak langsung ditangani. Meski bisa dicegah dan disembuhkan, penyakit ini juga dapat menyebabkan anemia berat, gagal ginjal, bahkan kematian.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit ini, setiap tahunnya tanggal 25 April diperingati sebagai Hari Malaria Sedunia. Tahun ini diperingati dengan tema “Harness Innovation To Reduce The Malaria Disease Burden and Save Lives” dan tema nasionalnya adalah “Ciptakan Inovasi Capai Eliminasi, Wujudkan Indonesia Bebas Malaria.”

Malaria telah lama menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Hari Malaria diharapkan dapat meningkatkan komitmen pemerintah daerah dan semua pemangku kepentingan, serta untuk memobilisasi dukungan dan peran aktif seluruh komponen masyarakat guna mewujudkan Indonesia Bebas Malaria Tahun 2030.

Hari Kesehatan Sedunia: Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Menjaga Manusia dan Planet Bumi?

Kasus malaria di Indonesia

Gejala malaria | Wikimedia Commons
info gambar

Pada dasarnya malaria merupakan penyakit yang disebabkan parasit Plasmodium yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina terinfeksi. Gejala awal dari malaria adalah demam, sakit kepala, dan menggigil kedinginan, biasanya muncul 10-15 hari setelah gigitan nyamuk.

Parasit dapat menyebabkan infeksi dan menghancurkan sel darah merah. Jika tidak diobati sesegera mungkin, malaria dapat berkembang menjadi penyakit parah dan berisiko besar pada kematian.

WHO memperkirakan terdapat 241 juta kasus malaria di seluruh dunia tahun 2020. Perkiraan jumlah kematian akibat malaria mencapai 627.000 pada tahun 2020. Sementara itu menurut data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus malaria di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 304.607 kasus.

Menurut Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS, Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, penyakit malaria di Indonesia didominasi oleh daerah di bagian Timur yaitu sebanyak 80 persen. "Rata-rata nasional saat ini yang tertinggi itu di wilayah Timur. Terutama Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku," jelas Maxi.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular malaria dan mengembangkan penyakit parah. Di antaranya adalah bayi, balita, wanita hamil, pasien HIV/AIDS, orang dengan kekebalan tubuh rendah yang pindah ke daerah penularan malaria intens, serta pelancong.

Malaria sering ditemukan di daerah tropis, termasuk Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, Republik Dominika dan Haiti, bagian dari Timur Tenga, dan beberapa pulau di Kepulauan Pasifik.

Bagi wisatawan atau orang yang akan pindah ke daerah dengan risiko malaria, sebelumnya dapat melindungi diri dengan meminum obat dan mencegah gigitan nyamuk.

Sebelum berangkat, bisa berkonsultasi dengan dokter dan meminta rekomendasi obat. Sesampainya di tujuan, sebisa mungkin tinggal di kamar ber-AC, menggunakan kelambu jika area tempat tidur terbuka, menutupi kulit dengan memakai baju dan celana lengan panjang, dan selalu gunakan losion anti nyamuk.

Beban Ganda Malnutrisi, Ketika Masalah Kesehatan Bukan Hanya Disebabkan Kekurangan Gizi

Indonesia bebas malaria di tahun 2030

Ilustrasi | Nuzree Pixabay
info gambar

Kementerian Kesehatan menargetkan Indonesia bebas malaria di tahun 2030. Berbagai upaya tentu telah dilakukan demi mencapai target tersebut. Sampai tahun 2021, sebanyak 347 dari 514 kabupaten/kota atau 68 persen sudah dinyatakan mencapai eliminasi.

Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan, dr. Tiffany Tiara Pakasi, mengatakan bahwa ada 4 provinsi di Indonesia yang seluruh kota/kabupatennya sudah berhasil dalam eliminasi malaria, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Bali, dan Banten.

Pada kawasan Indonesia timur, NTT dan Maluku Utara merupakan provinsi yang mengawali tercapainya eliminasi malaria pada tahun 2020, di mana kabupaten/kota yang berhasil mendapatkan sertifikat eliminasi malaria oleh menteri kesehatan adalah Kota Kupang, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur mewakili NTT dan Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara.

Untuk mencapai target bebas malaria pada tahun 2030 mendatang, sebanyak lima regional telah ditetapkan sebagai target eliminasi, seperti berikut:

Regional 1: Provinsi di Jawa dan Bali.

Regional 2: Provinsi di Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

Regional 3: Provinsi di Kalimantan dan Maluku Utara.

Regional 4: Provinsi di Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

Regional 5: Provinsi Papua dan Papua Barat.

Menurut pernyataan Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kemenkes, dr. Tiffany Tiara Pakasi, untuk mencapai target bebas malaria maka perlu dilakukan intensifikasi pelaksanaan penanggulangan malaria secara terpadu dan menyeluruh.

“Keberhasilan Indonesia Bebas Malaria tahun 2030 ditentukan oleh keberhasilan deteksi dini kasus malaria di masyarakat, terutama kasus pada penduduk migran. Deteksi kasus penduduk migran adalah terkait dengan kewenangan sektor di luar kesehatan,” jelasnya.

Keberhasilan target bebas malaria juga dapat ditentukan dari pengendalian faktor lingkungan. Karena malaria juga bisa disebabkan dari tempat perkembangbiakan nyamuk seperti tambak terbengkalai, persawahan, perkebunan dengan genangan air, rawa, laguna, dan lingkungan dengan genangan air lainnya.

Menyoal vaksin Mosquirix (RTS,S/AS01) yang direkomendasikan WHO, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa Indonesia masih berusaha mendapatkannya dari WHO.

Nadia mengatakan bahwa vaksin Mosquirix dapat digunakan untuk anak-anak maupun dewasa. Karena masih dalam tahap negosiasi, belum dapat dipastikan kapan waktu dimulainya vaksinasi. Akan tetapi rencananya akan fokus pada anak-anak terlebih dahulu.

Dampak Nyata Polusi Cahaya Bagi Lingkungan dan Kesehatan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini