Mengenal Buah yang Dijuluki 'Salak Hutan Aceh'

Mengenal Buah yang Dijuluki 'Salak Hutan Aceh'
info gambar utama

Buah yang dijuluki salak hutan aceh ini, dulu begitu digemari masyarakat. Terutama untuk dibuat rujak, dicampur dengan jenis buah lainnya. Kini, rumbia tidak lagi dinanti kehadirannya.

Rumbia [Metroxylon sagu] merupakan buah yang dihasilkan dari pohon sagu. Pohon yang oleh masyarakat Aceh disebut Bak Meuria ini, juga dikenal sebagai penghasil tepung, yang diambil dari sari pati batangnya.

Dahlawi, masyarakat Peukan Biluy, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh mengatakan, pohon ini tumbuh di aliran sungai, rawa, atau daerah yang banyak sumber air.

“Buahnya bulat, seukuran bola golf dan bersisik seperti salak. Rasanya sepat atau kesat, atau kelat. Saat matang, warna kulit buahnya kecokelatan. Isi buahnya sangat lembut,” terangnya, Sabtu [16/04/2022].

Biasanya, buah rumbia disukai ibu-ibu hamil. “Saya tidak tahu alasannya, mungkin karena ngidam,” ujar Muhammad Ihsan, warga Kota Banda Aceh.

Masyarakat Aceh juga mengolah rumbia menjadi asinan dan manisan. Untuk asinan, rumbia yang masih ada kulitnya direndam air garam beberapa hari. Sementara untuk manisan, rumbia direndam air gula putih atau gula aren.

“Namun, saat ini jarang yang membuat asinan atau manisan rumbia. Sudah kalah dengan makanan moderen,” ungkapnya.

Dulu, buah rumbia merupakan favorit masyarakat. Tidak hanya dijadikan rujak, bisa juga dimakan langsung dengan garam. Foto: Junaidi Hanafiah
info gambar

Meski banyak manfaat, mulai batang, pelepah, daun, hingga buah, namun keberadaan buah rumbia di Aceh mulai sulit dicari. Khususnya, di daerah-daerah yang pernah tersapu tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Misalnya, pesisir Kabupaten Aceh Besar, Aceh Jaya, dan Aceh Barat yang sebelumnya merupakan wilayah pohon rumbia.

“Saat air laut menerjang daratan 2004 lalu, banyak rawa terendam air asin. Dampaknya, banyak pohon rumbia mati,” lanjut Dahlawi.

Masalah lain, untuk mengolah batang rumbia menjadi tepung sagu, prosesnya lama. Sehingga, masyarakat lebih senang membeli di pasar.

“Akhirnya, pohon rumbia dibiarkan saja. Tidak lagi diurus,” sambungnya.

Manfaat buah rumbia

Apa khasiat utama buah rumbia? Sebagian masyarakat Aceh memakannya langsung untuk mengobati diare.

“Rasanya yang sepat, akan menghentikan penyakit tersebut setelah dikonsumsi,” terang Dahlawi.

Kini untuk mendapatkan buah rumbia semakin sulit. Foto: Junaidi Hanafiah
info gambar

Dewi Isnaeni, Ajeng Kurniati R, dan Tri Lestari, dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Timur [UIT] Makassar, di Majalah Farmasi UIT Makassar Volume 14, Nomor: 02/2017 menuliskan hasil penelitian mereka dengan judul “Uji Daya Hambat Ekstrak Daging Buah Rumbia Asal Jayapura Terhadap Staphylococcus aureus.”

Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen yang bisa menyebabkan berbagai penyakit, terutama bakteremia, endokarditis, osteomielitis, dan penyakit kulit.

Buah rumbia dihasilkan dari pohon sagu. Foto: Junaidi Hanafiah
info gambar

Hasil penelitian itu menunjukkan, ekstrak daging buah rumbia dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Kandungan kimia yang diduga dapat menghambatnya adalah senyawa flavonoid, saponin, dan tanin.

“Flavonoid, saponin, dan tanin yang memiliki sifat seperti fenol mampu memutuskan ikatan peptidoglikan dalam usahanya menerobos dinding sel,” tulis mereka.

Pohon rumbia yang biasanya banyak tumbuh di daerah rawa atau aliran sungai. Foto: Junaidi Hanafiah
info gambar

Hasil penelitian lain menunjukkan, flavonoid dan tanin merupakan senyawa yang dapat memberikan aktivitas antihipertensi yang baik.

Yusafrina Dewi, mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara [USU] pada 2019, untuk tugas akhirnya meneliti tentang “Uji Efek Diare Ekstrak Etanol Buah Rumbia pada Tikus Jantan yang Diinduksi Oleum Ricin Dengan Metode Defekasi.”

Hasilnya menunjukkan, ekstrak etanol buah rumbia dosis 100, 200, dan 400 mg/kg bb mempunyai efek antidiare pada tikus jantan yang diinduksi oleum ricini.

“Ini ditandai dengan tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan dengan suspensi Loperamid HCl 1 mg/kg bb [p > 0,05],” jelas penelitian tersebut.

Catatan:

Artikel republikasi dari Mongabay.co.id atas kerjasama GNFI dengan Mongabay Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini