Romansa Para Puan dan Jejaka pada Masa Pergerakan Nasional

Romansa Para Puan dan Jejaka pada Masa Pergerakan Nasional
info gambar utama

Berlakunya politik etis sejak awal abad ke 20 memberikan kesempatan kepada kaum bumiputera untuk menikmati pendidikan modern. Pendidikan modern ini membuat mereka bertemu dengan gagasan baru, salah satunya memilih pasangan hidup.

Pada kehidupan bumiputera di periode sebelumnya, dominasi orang tua berperan sangat besar terhadap pilihan hidup anak-anaknya termasuk dalam urusan jodoh. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan juga sangatlah dibatasi.

Beriringan dengan terbentuknya gagasan persatuan untuk meraih kemerdekaan, muncul pula hasrat dalam diri kaum muda terutama orang-orang yang sudah berpendidikan untuk mencari dan menemukan cinta mereka atas kehendak sendiri.

“Pada titik ini orang-orang pergerakan, sampai batas tertentu, melakukan perlawanan terhadap struktur sosial yang dominan pada masa itu,” jelas Ismi Indriani dalam Webinar dengan tema Romansa Para Puan di Masa Pergerakan yang dilaksanakan National Geographic Indonesia, Kamis (22/4/2022).

Ismi menyebut ada beberapa karya sezaman yang merekam tentang fenomena tersebut. Salah satunya adalah novel Melati van Agam karya Swan Pen yang membuka ceritanya dengan sebuah pantun untuk menerangkan sebuah cinta pada pandangan pertama:

"Dari mana datangnja linta
Dari sawah toeroen kepadi
Dari mana datangnja tjinta
Dari mata toeroen dihati"

Selain itu, ditambahkan Ismi, ada juga penulis peranakan Tionghoa bernama Thio Tjin Boen dalam novel Cerita Nyai Soemirah Jilid 1 dan Jilid 2. Novel ini, jelasnya, menerangkan kisah cinta seorang peranakan Tionghoa dengan perempuan Sunda.

Tinggalkan Kota, Pasangan Muda Ini Dedikasikan Hidup untuk Pendidikan di Pelosok Papua

Menurut Ismi, Thio Tjin Boen sebenarnya melakukan kritik terhadap aturan pemerintah kolonial tentang hubungan antar etnis melalui kisah percintaan. Thio Tjin Boen sebagai peranakan memang mengalami dampak dari aturan pemisahan antar etnis.

Perubahan pergaulan anak muda pada abad ke 20, jelas Ismi juga terekam dalam novel Rasia Bandoeng karya Chabanneau. Dalam novel itu terdapat kutipan tentang pergulatan anak muda untuk mencari pasangan hidup.

"Siapa tida kagum, siapa tida jadi heran?
Melihat caranya pamuda sakarang, punya aturan,
Pada prampuwan yang belom terkenal sudah ada pikiran
Mengirim surat percintaan buwat plesiran"

Ismi menyebut Chabanneau menyadari adanya pergeseran perilaku kaum muda pada awal abad ke 20. Hal ini menurutnya karena kaum muda itu mulai menyukai hal-hal berbau romantis akibat membaca buku-buku roman Barat.

Tentunya pada generasi sebelumnya, mengirim surat percintaan dan mengajak perempuan untuk pelesiran tidaklah mudah. Apalagi dengan ruang bergaul antara perempuan dan lelaki yang masih terbatas hingga sulit bagi mereka untuk pacaran berdua-duan.

Hambatan dalam percintaan

Pada kehidupan keluarga pribumi, orang tua memiliki kendali besar untuk urusan percintaan anak-anaknya. Kartini sering mengeluhkan sedikitnya kesempatan anak-anak untuk mengungkapkan pendapatnya tentang segala hal, terutama percintaan.

Ismi menyebut dalam surat Kartini kepada Nyonya R.M Abendanon pada bulan Agustus 1900, dia mengatakan bahwa sejak berabad-abad gadis-gadis Jawa terutama kalangan bangsawan bila sudah berumur 12 tahun, harus pamit dari keindahan dunia anak-anaknya.

Gadis-gadis Jawa akan kawin dengan lelaki yang telah disediakan oleh orang tuanya, tanpa ditanya pendapat dan perasaan mereka. Kartini, jelas Ismi, menyebut situasi ini sebagai kepatuhan buta tuli.

Aturan adat terkadang menghalangi kisah cinta seseorang, Buya Hamka dalam novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck mengisahkan cinta tak berbalas antara Zainuddin dengan kekasihnya Hayati.

Dongeng Romansa Panji yang Terekam dalam Relief Candi Panataran

Dalam novel itu, cinta Zainuddin kepada Hayati dihalangi karena dirinya dianggap bukan orang Minangkabau tulen. Ismi menyebut Hamka dalam novelnya menyindir fenomena ini sebagai zaman kebendaan.

“Hamka berpikir orang-orang pada masa itu seolah mengesampingkan cinta, tetapi hanya melihat dari ikatan adat dan harta. Melihat kulitnya saja tanpa menyelidiki kebatinan masing-masing,” jelasnya.

Dalam penelitiannya, Ismi juga menemukan adanya hambatan percintaan karena kelas sosial. Kaum bangsawan atau hartawan, jelasnya, tidak akan memperbolehkan anaknya untuk menikah dengan orang dari kelas di bawahnya.

Misalnya karya Daeng Kanduruan Ardiwinata yang berjudul Baruang Ka Nu Ngarora mengisahkan tentang seorang tokoh lelaki bangsawan yang didesak untuk menceraikan istrinya dari kalangan biasa untuk menikahi perempuan menak/bangsawan.

Kisah percintaan antara lelaki bumiputera dengan perempuan Eropa pun memiliki tantangan yang berat. Hal ini memang terkait dengan pandangan ideologis yang ditanamkan bahwa bangsa Eropa adalah masyarakat kelas satu.

Jadi, ungkap Ismi, bila seorang perempuan Eropa menikah dengan lelaki bumiputera sama saja menjatuhkan harga diri. Sehingga bila ada perempuan Eropa yang nekat untuk menikahi pasangannya itu, hak kewarganegaraannya akan dicabut.

Pandangan ini ternyata berbeda bila lelaki Eropa menikahi (red: menjadikan gundik) para perempuan bumiputera. Bagi orang Eropa, perilaku lelaki ini malah terpuji karena telah memperbaiki keturunan dari para pribumi.

“Ini sebenarnya bisa dianggap sebagai sistem patriarki,” ketusnya.

Perlawanan untuk mencintai

Pendidikan modern telah melahirkan priyayi-priyayi baru yang berpikiran lebih terbuka dan membenci feodalisme. Mereka tidak lagi melihat calon pasangan dari keturunan, asal usul atau harta, namun lebih kepada kecocokan, kepribadian dan pola pikir.

Misalnya tulisan dari Mas Marco Kartodikromo yang menyebut gadis-gadis dan jejaka-jejaka tidak lagi suka dengan gaya pernikahan Majapahit. Hal yang dimaksud di sini adalah para kaum kolot yang masih melanggengkan kepatuhan buta tuli kepada orang tua.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Semaun dalam Hikayat Kadirun yang mengibaratkan cinta sejati seperti bercermin. Di mana seorang lelaki hanya benar-benar bisa mencintai perempuan bila isi pikiran, watak, dan jiwa memiliki kecocokan, begitu pun sebaliknya.

Abdoel Moeis dalam novelnya berjudul Pertemuan Jodoh juga mengisahkan seorang perempuan dari kalangan biasa yang membenci tabiat “gila turunan” para priyayi lama pada masa itu.

Dirinya lebih mementingkan kebangsawanan hati dan pikiran dibandingkan kebangsawanan kedokteran. Dia juga mengagumi kekasihnya yang walaupun seorang keturunan menak dan pelajar kedokteran, namun tidak memikat dirinya dengan embel-embel status.

Ada juga kisah cinta yang menarik antara Soetomo dan Everdina Broering. Kelembutan sikap Soetomo ternyata meluluhkan hati Everdina, keduanya kemudian lantas menikah.
Everdina berjanji akan selalu berada disamping Soetomo.

Dalam pernikahannya, Everdina melarang suaminya untuk melakukan gelijkstelling (mempersamakan hak) dengan bangsa Eropa. Hal ini bermakna bahwa Everdina tidak ingin suaminya melanggar cita-cita perjuangan bumiputera.

KAA, Bandung, dan Romansa Nostalgia Soekarno

“Kisah cinta Soetomo dan Everdina menunjukan bahwa percintaan yang dibangun atas persahabatan karib mampu meruntuhkan batas-batas rasial, dalam suasana perkawinan mereka telah tercipta kesetaraan antara satu ras dengan ras lainnya,” paparnya.

Cerita cinta dalam masa pergerakan memang ada yang berbalut dengan kepentingan politik. Menjalin percintaan dengan bangsa kulit putih ketika itu dimaknai sebuah kemenangan sebab mampu berdiri sejajar dengan bangsa penjajah.

Kisah ini, jelas Ismi, bisa dilihat dalam cerita cinta Soekarno dengan perempuan Belanda bernama Rika Meelhuysen. Soekarno mengakui bahwa gadis Belanda inilah yang pertama dirinya cium. Walau akhirnya kisah cintanya kandas karena ditolak oleh orang tua Rika.

Memang tidak sedikit, hubungan cinta pada masa itu yang lahir dalam momen-momen pergerakan. Misalnya cinta S.K Trimurti dan dan Sayuti Melik yang terbiasa berdebat sengit karena memiliki perbedaan pandangan.

Namun pada suatu hari, Sayuti meminta agar Trimurti menjadi pasangan hidupnya. Ajakan menikah keluar begitu saja dari mulut Sayuti saat mereka berdebat soal politik. Sayuti berkata, “Kelihatannya kita bisa bekerja sama. Bagaimana kalau kau menjadi istri saya?

Dari perkataan Sayuti, menurut Ismi terlihat bagaimana sosok pribumi yang terpelajar. Alih-alih melarang pasanganya berhenti bekerja atau merasa tersaingi dengan kesibukan perempuan. Sayuti menginginkan bergerak bersama melalui jalur politik

“Apa yang dialami oleh S.K Trimurti mencerminkan realitas orang-orang pada masa pergerakan terutama tokoh-tokoh politik menjadi lebih idealis ketika memilih pasangan hidup, mereka menginginkan pasangan yang mampu mengiringinya menggapai cita-cita,” tegas Ismi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini