Mak Yong, Seni Teater Tradisional yang Menampilkan Budaya Melayu di Tiga Negara

Mak Yong, Seni Teater Tradisional yang Menampilkan Budaya Melayu di Tiga Negara
info gambar utama

Indonesia memiliki kesenian tradisional yang beranekaragam mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, seni sastra, dan seni teater. Dengan berbagai suku bangsa yang ada di negeri ini membuat jenis kesenian pun semakin beragam dan memiliki identitas dari masing-masing etnis.

Seni tradisional sendiri diartikan sebagai unsur kesenian yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dalam suatu etnis tertentu dan telah turun-temurun dari nenek moyang. Kesenian tradisional juga menjadi sarana dalam mengekspresikan keindahan dengan latar belakang tradisi masyarakat.

Dari berbagai kesenian yang ada di Nusantara, salah satu yang menarik adalah Mak Yong. Kesenian yang memadukan gerak tari, syair lagu, sandiwara, dan instrumen tradisional ini juga menggabungkan unsur seperti agama dan adat Melayu dari tiga negara yaitu Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Besale, Upacara Adat Suku Anak Dalam Memohon Kesembuhan

Kesenian lintas negara

 Mak Yong | @Kurdiansyah Shutterstock
info gambar

Mak Yong sebenarnya bukan berasal dari Indonesia, tetapi dari Nara Yala, Pattani, Thailand sekitar abad ke-17. Kemudian kesenian tersebut menyebar ke Kelantan, Malaysia, dan sampai ke Riau, Batam, dan Bintan.

Di Indonesia, Mak Yong mencapai masa keemasan pada masa Kesultanan Riau-Lingga sekitar tahun 1950-an. Pada masa itu, Mak Yong dianggap sebagai kesenian istana dan hanya dapat ditemukan di Tanah Merah dan di Mantang Arang. Seiring berjalannya waktu, Mak Yong juga menyebar di kalangan masyarakat biasa di daerah Kijang, Bintan Timur, serta Rempang atau Sembulang, Dompak, Kasu, Pulau Buluh, dan Cate di pinggiran Pulau Batam.

Menurut penjelasan Jeanne Cuisinier dalam “Dances Magiques de Kelantan” (1931), Mak Yong diartikan sebagai roh leluhur yaitu Mo Yang ‘nenek’ dan Po Yang ‘datuk’. Jeanne menerangkan bahwa Mak Yong berasal dari Main Puteri, upacara pengobatan yang dilakukan dengan iringan tarian dan nyanyian.

Sementara itu, Walter William Skeat dalam “Malay Magic Being: An Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula” (1967) berpendapat bahwa Mak Yong berasal dari kata Mak Hiang yang artinya roh ibu atau roh padi.

Pertunjukkan Mak Yong biasanya dilakukan di panggung terbuka berbentuk tapal kuda memiliki atap, dan terdapat 6 tiang penyangga untuk menopang atap. Adapun peralatan lain yang dibutuhkan adalah rotan, parang, keris, panah, kapak, tongkat kayu, topeng, dan cangai atau kuku palsu yang panjang.

Selain itu, seperangkat alat musik untuk menunjang pementasan antara lain gendang pendibu, gendang penganak, gedombak, geduk, gong, mong, breng-breng, cecrek, nafiri, rebab, anak ayam, dan biola bambu. Untuk kostum para pementas meliputi baju lengan pendek, celana, kain samping, alas dada, selampai, bengkung, pending, sabuk, kebaya panjang, kain sarung, baju kurung, dan selendang.

Karena alur pementasan Mak Yong cenderung lambat, biasanya pertunjukkan Mak Yong berlangsung semalaman dan ceritanya bahkan tidak selesai satu malam. Sebuah cerita bisa dipentaskan berminggu-minggu sampai 44 malam.

Peran Bundo Kanduang, Penjaga 'Harta Pusaka' dalam Masyarakat Minangkabau

Kemeriahan pementasan Mak Yong

Bukan sekadar pementasan hiburan biasa, Mak Yong dianggap sebagai kesenian yang sakral. Pada awal pertunjukkan akan selalu diawali dan ditutup dengan ritual buka tanah dan tutup tanah oleh bomoh, orang yang memiliki keahlian supranatural. Seluruh pemain akan diberi air dan mantra yang dipercaya akan membuat mereka bisa mementaskan Mak Yon dengan baik. Selain itu, semua peralatan, topeng, dan alat musik juga diberi mantra dan jimat.

Mak Yong dimainkan sekurang-kurangnya 15 orang. Setiap pemain terkadang merangkap peran dan bertukar topeng. Pemain terdiri dari tokoh utama yaitu Pak Yong, Mak Yong, dan Cik Wang. Selain itu ada beberapa peran pembantu seperti Inang Perempuan Bertopeng, Mamak Bertopeng, Pembatak Bertopeng, dan dayang-dayang.

Pada pementasannya, Mak Yong menggabungkan unsur ritual, tari, nyanyian, dan musik. Untuk ceritanya selalu berkisah tentang kehidupan istana dan kerajaan, seperti cerita raja, permaisuri, dan putri mahkota yang ditimpa musibah kemudian berjuang meraih kemenangan yang diperoleh dari bantuan dewa-dewi dari kayangan atau tokoh sakti.

Para pemain, terutama pria, umumnya memakai topeng seperti topeng nenek betara guru, topeng awang pengasuh, topeng wak dukun, topeng raja jin, dan topeng pembatak.

Beberapa cerita yang sering dibawakan Mak Yong antara lain Tuan Putri Ratna Emas, Nenek Gajah dan Daru, Gondang, Wak Peran Hutan, Gunung Intan, Putri Makyang Emas, Selindung Bulan, Raja Muda Lembek, Gading Bertimbang, Wak Perambun, Raja Lak Kenarung, Tumenggung Era Wangsa, dan Timun Muda.

Selama pementasan, dialog antar pemain dilakukan secara improvisasi dan dapat dikembangkan sesuai imajinasi pemain. Untuk penampilan tari dan iringan musik juga disesuaikan dengan cerita yang dipentaskan.

Adapun nyanyian yang sering dibawakan antara lain Kelantan, Ikan Kekek, Memanggil Awang, Alip Dunia, Timang Anak, Anak Tudung, O Oi, Selendang Mayang, Senandung, Timang Burung, Timang Anak, dan Bong Oi. Sementara untuk tarian antara lain Betabik, Gembira, Perang, Timang Welo Berjalan Jauh, dan Cik Milik.

Asta Kosala Kosali, Aturan Tata Letak dan Ruangan Serupa Fengshui dalam Budaya Bali


Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini