Serabi Likuran, Tradisi Warga Desa Penggarit Sambut Malam Lailatulqadar

Serabi Likuran, Tradisi Warga Desa Penggarit Sambut Malam Lailatulqadar
info gambar utama

Lailatulqadar merupakan salah satu malam penting yang terjadi di bulan Ramadan. Dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Qadar, lailatulqadar digambarkan sebagai malam yang istimewa dan lebih baik dari seribu bulan.

Umat muslim percaya bahwa dua puluh hari terakhir atau sering disebut likuran, terutama pada malam-malam ganjil, sebagai momen turunnya lailatulqadar. Demi menyambut datangnya malam tersebut, berbagai daerah di Indonesia punya tradisi khusus.

Sejak awal masuknya ajaran agama Islam di Pulau Jawa, Keraton Yogyakarta biasanya menggelar tradisi malam selikuran untuk menyambut datangnya malam lailatulqadar. Tradisi ini dikenalkan oleh Wali Songo sebagai metode memperkenalkan agama Islam dan memadukannya dengan tradisi Jawa.

Malam selikuran diharapkan menjadi momen pengingat bagi umat muslim untuk memperbanyak sedekah, introspeksi diri, dan meningkatkan ibadah di sisa bulan Ramadan.

Berbeda dengan yang ada di Keraton Yogyakarta, masyarakat di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, punya tradisi lain yang dikenal dengan nama serabi likuran.

Berbagi Bubur Pedas, Tradisi Menikmati Berbuka Puasa dalam Masyarakat Melayu

Serabi likuran

Ilustrasi serabi | Wikimedia Commons
info gambar

Tradisi serabi likuran dilakukan dengan cara saling mengirim serabi kepada para tetangga dan saudara pada 10 hari terakhir bulan puasa. Serabi likuran yang dikirim biasanya diberi kuah kinca atau semacam saus gula merah kemudian diberi santan kelapa muda. Tak hanya saling memberi penganan serabi, tradisi tersebut juga menjadi media komunikasi dan silaturahmi warga desa.

Tahun lalu di Desa Penggarit juga diadakan Pasar Serabi Likuran. Menurut penuturan Imam Wibowo selaku Kepala Desa Penggarit, penyelenggaraan pasar tersebut berawal dari keprihatinan sebagian tokoh masyarakat karena tradisi serabi likuran yang belakangan mulai luntur padahal sejak zaman dahulu biasa dilakukan setiap tahun saat Ramadan.

Kegiatan tersebut diadakan di salah satu ruas jalan di desa dan diikuti oleh 30-an warga pembuat serabi. Kebanyakan para pedagang serabi itu sudah sepuh tetapi masih memiliki keahlian membuat serabi yang diharapkan dapat memberikan edukasi pada generasi penerus.

Uniknya, transaksi di pasar tersebut juga terbilang unik. Bagi masyarakat yang ingin membeli serabi akan bertransaksi dengan uang klithik atau koin kayu yang disediakan panitia dengan harga Rp1 ribu per koin. Untuk harga serabi sendiri sekitar Rp2-3 ribu per dua buah.

Pada masa pandemi, kegiatan ini tentu diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan masker dan ada petugas yang berkeliling untuk mengingatkan pengunjung agar mematuhi protokol kesehatan.

Desa Penggarit rupanya telah ditunjuk oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai percontohan Desa Pemajuan Kebudayaan. "Budaya lokal yang pernah ada di Desa Penggarit memang kita upayakan untuk kita lestarikan," jelas Imam.

Di Sumatra Utara, Lalapan Favorit Berasal dari Pucuk Rotan

Potensi Desa Penggarit

Kawasan Desa Penggarit dikelilingi persawahan yang luas. Salah satu potensi pertanian di desa ini adalah padi organik non-pestisida yang juga dijadikan wisata edukasi. Pengunjung akan diajarkan bagaimana proses menanam padi organik dan langsung praktik di sawah.

Selain pertanian, keindahan alam di desa ini pun masih alami dan terjaga dengan baik. Di sana juga ada perkebunan mangga yang sangat luas, di mana pengunjung dapat memetik mangga arumanis secara langsung dan memakan buahnya di kebun.

Dengan berbagai potensi yang ada, Desa Penggarit bisa jadi desa wisata yang terus berkembang. Apalagi di desa tersebut ada berbagai destinasi wisata yang bisa dikemas menjadi paket menarik bagi wisatawan yang berkunjung.

Adapun destinasi wisata di Desa Penggarit antara lain kebun anggrek, Kafe Bumdes, gardu pandang Gunung Mutih, wisata petik mangga dan jambu, produk UMKM, dan budaya seperti tarian penyambutan serta gending Jawa.

Selain itu ada Benowo Park, kawasan wisata yang namanya diambil dari nama Pangeran Benowo, salah satu anak Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir dari Kerajaan Pajang, yang menurut catatan sejarah dimakamkan di Desa Penggarit. Makam Pangeran Benowo juga banyak dikunjungi peziarah yang datang dari luar Pemalang. Selain makam Pangeran Benowo juga ada makam Syeh Jamur Apu, salah satu sesepuh Kabupaten Pemalang.

Ragam Permainan Tradisional Jawa Barat untuk Kegiatan Ngabuburit

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini