3 Kampung Islam di Pulau Dewata Tampilkan Kerukunan Umat Beragama

3 Kampung Islam di Pulau Dewata Tampilkan Kerukunan Umat Beragama
info gambar utama

Bali mungkin identik dengan pemandangan alam, tujuan liburan, dan mayoritas penduduknya yang beragama Hindu. Meski dikenal dengan julukan Pulau Seribu Pura yang erat dengan adat dan ritual, Bali juga memiliki beberapa kampung Islam yang jadi bukti keragaman dan toleransi beragama, serta kehidupan bertetangga yang rukun juga harmonis.

Penyebaran agama Islam di Bali tak lepas dari masa kejayaan Majapahit yang melakukan ekspansi besar-besaran di Bali tahun 1343. Ketika itu, agama Islam telah mendapat tempat dalam kerjaan dan ditemukan pemakaman di dekat kedaton yang menjadi tanda keberadaan pemeluk agama Islam di dalam keluarga kerajaan. Namun, ada pula dugaan bahwa agama Islam secara resmi masuk ke Bali pada masa kerajaan Gelgel.

Berdampingan dengan umat Hindu, kehidupan di kampung Islam menjadi cukup unik. Ketika momen Idulfitri, para pecalang atau petugas keamanan lokal Bali akan membantu menjaga ketertiban selama salat id. Sementara ketika Nyepi, umat muslim biasa ikut membantu menyiapkan berbagai kebutuhan yang diperlukan.

Berikut tiga kampung muslim di Bali dan bagaimana umat beragama hidup berdampingan:

Jejak Kampung Islam Kepaon, Bukti Kerukunan Umat Beragama di Bali

Kampung Gelgel

Masjid Nurul Huda bali | @nizar kauzar Shutterstock
info gambar

Kampung Gelgel berada di Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Dikenal dengan sebutan Kampung Islam, di wilayah ini terdapat masjid tertua di Bali yaitu Masjid Nurul Huda yang telah dibangun sejak abad ke-14. Di halaman masjid terdapat menara tua dengan tinggi 17 meter.

Pada bulan-bulan tertentu, di Kampung Gelgel rutin mengadakan pentas seni rodatan, yaitu pergelaran musik Islami yang dimainkan warga sekitar. Kampung ini juga menjadi salah satu objek wisata religi karena merupakan pemukiman Islam tertua di Bali. Toleransi antar umat beragama di wilayah ini juga kerap memicu rasa penasaran bagi wisatawan. Apalagi tak jauh dari lokasi masjid terdapat Pura Kawitan Pusat Pasek Gelgel Dalem Siwa Gaduh.

Di kampung ini masih ada tradisi megibung yang pertama kali dikenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi.

Megibung atau yang biasa disebut warga sebagai ngaminang merupakan pertemuan warga untuk berdiskusi sambil makan bersama. Namun, peserta hanya boleh memakan apa saja yang tersaji di depannya dan tidak boleh mengambil makanan milik teman di sebelahnya. Pun jika sudah cukup dan kenyang, orang tersebut tidak boleh beranjak pergi dan tidak boleh meninggalkan tempat atau temannya yang masih makan.

Warga Kampung Gelgel juga punya tradisi ngejot atau saling berkirim makanan untuk memperingati hari raya keagamaan. Misalnya, umat Islam mengirim makanan yang tidak mengandung daging sapi untuk umat Hindu dan sebaliknya, umat Hindu juga akan mengirim makanan halal pada warga muslim.

Saat umat Hindu memperingati Nyepi, warga yang beragama Islam akan membantu tugas pecalang dalam mengamankan wilayah. Sedangkan ketika umat muslim menggelar salat id, umat Hindu juga akan membantu mengatur arus lalu-lintas di sekitar lokasi salat.

Serabi Likuran, Tradisi Warga Desa Penggarit Sambut Malam Lailatulqadar

Kampung Loloan

Kampung Loloan berlokasi di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, dan wilayahnya terbagi dua, yaitu Loloan Barat dan Loloan Timur yang dibatasi dengan Sungai Ijo Gading. Kerukunan umat Islam dan Hindu di kampung ini juga sangat kuat.

Menurut sejarawan Eka Sabara, asal-usul kampung ini terbentuk tahun 1669 dan bermula dari kedatangan pasukan Bugis. Saat itu, orang-orang yang beragama Islam berlabuh di Sungai Ijo Gading yang saat itu bernama Kampung Bajo dan ditandai bukti fisik yaitu Sumur Bajo.

"Karena perjanjian Bung Gaya tahun 1667, Sultan Hasanuddin menandatangani sesutau yang ternyata beliau dan panglima perangnya tidak puas. Daripada berdamai dengan pihak penjajah, lebih baik mereka keluar dan dua tahun kemudian atau di tahun 1669 itu berlabuh di muara Sungai Ijo Gading Jembrana," jelas Eka kepada Detik.com.

Pada awalnya, mereka tinggal di kampung tersebut dan menyebar ke utara dengan menyusuri sungai. Namun, karena dekat dengan penguasa, Raja Jembrana ke-IV, I Gusti Arya Pancoran, mereka diberi izin untuk tinggal di sekitar Loloan yang dulu bernama Tibu Bunter.

Kampung Loloan juga dikenal sebagai pemukiman nelayan dan menjadi kampung Islam terbesar di Jembarana. Di kampung ini tersimpan mushaf Al-Qur'an berusia 431 tahun yang ditulis tangan oleh Tuan Guru H. Muhammad. Selain itu juga ada prasasti Encik Ya'kub, ikrar wakaf yang ditulis di atas sebuah papan dan dibuat pada tahun 1268 Hijriyah, berikut isi prasasti tersebut:

"Hijrah Nabi SAW, seribu dua ratus enam puluh delapan (1268) tahun kepada tahun Hijiriyah. Sehari bulan Zul Qo'Idah, kepada hari Isnen Dewasa itulah Encik Ya'Qub orang Terengganau, mewakafkan ia akan barang istrinya serta muwafaqoh ia akan segala warisnya, yaitu Qur'an dan sawah satu tebih, di Mertesari perolehan empat puluh sibak, di dalam Masjid Jembarana Loloan ketika pak Mahbubah menjadi Penghulu dan bapak Mustika jadi Pemekel, saksi bapak Abdulloh Bin Yahya Al Qadri, khatib bapak Abdul Hamid, itulah adanya."

Arsitektur Masjid Menara Kudus, Keindahan yang Dibalut Toleransi Islam dan Hindu

Kampung Pegayaman

Nama Pegayaman diambil dari lokasinya yang berada di hutan gayam, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Desanya berbukit dan menyerupai benteng alam yang kokoh di Buleleng. Dipercaya orang-orang yang tinggal di kampung ini merupakan orang Jawa, Sasak, dan Bugis yang beragama Islam dan kedatangannya dikirim oleh Kerajaan Buleleng.

Pada masa pemerintahan Ki Barak Panji Sakti, ia pernah membantu Kerajaan Mataram dan atas jasanya beliau diberikan 100 prajurit dan seekor gajah. 100 orang tersebut merupakan kelompok Islam pertama di Bali Utara yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas muslim di Kampung Pegayaman.

Hubungan antara umat muslim di Hindu di sekitarnya telah terjalin sejak abad ke-17 dan toleransi antar umat beragama pun sangat erat di kampung ini. Terbukti saat Nyepi, Galungan, dan Kuningan, masyarakat muslim akan membantu membuat ogoh-ogoh dan ikut menghentikan aktivitas saat Nyepi. Umat Hindu juga akan ikut megibung saat berbuka puasa dan turut mengirim makanan halal pada umat muslim ketika hari raya Idulfitri dan Iduladha.

Di kampung ini, akulturadi budaya Bali, agama Hindu dan Islam juga ditampilkan dalam kesenian burde dan sokok base. Burde merupakan kesenian yang memadukan lantunan salawat, seni tabuh, dan tari Pegayaman yang nada dan tariannya mirip seni tradisional Bali. Sedangkan sokok base adalah rangkaian daun sirih, kembang, buah, dan telur yang dirangkai pada batang pisang mirip pajegan dalam upacara di pura.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini