Cirebon, Denyut Kota Toleransi Warisan dari Sunan Gunung Jati

Cirebon, Denyut Kota Toleransi Warisan dari Sunan Gunung Jati
info gambar utama

Kota Cirebon, Jawa Barat layaknya ladang subur bagi perkawinan kebudayaan dari berbagai bangsa dan agama. Ketiga keraton yang menjadi pemangku adat menanggung amanat untuk menjaga percampuran budaya itu berjalan damai.

Achmad Opan Safari Hasyim, dalam Kitab Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Carbon yang ditulis sekitar abad ke 17, menyebutkan awal mula kata Cirebon berasal dari kata sarumban, berkembang menjadi caruban, yang artinya campuran.

“Orang dari berbagai etnis dan agama campur baur di kota pelabuhan ini. Banyak pendatang singgah mengisi perbekalan atau berdagang,” ucap pengajar Sejarah Peradaban Islam di Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon ini dalam buku Toleransi Warisan Sang Wali terbitan Litbang Kompas.

Akulturasi tersebut berjalan setahap demi setahap, hingga membentuk kompleksitas budaya yang tumpang tindih. Dalam Babad Cirebon (PS Sulendraningrat: 1986), Cirebon merupakan kota yang telah terbentuk sejak abad ke 15.

Dari sebuah desa nelayan yang tidak begitu bermakna hingga dalam kurun waktu seabad telah menjadi ibu kota kerajaan merdeka yang dilengkapi dengan keraton, masjid, alun-alun, pasar, jarangan jalan darat hingga laut, pelabuhan, hingga bentang alam.

Mengunjungi Sitiwinangun, Desa Wisata Berbasis Budaya yang Ada di Jawa Barat

Perkembangan kota Cirebon yang pesat membuat perekonomiannya juga menjadi sibuk. Tidak hanya terbatas pada transaksi hasil-hasil pertanian, tetapi juga memproduksi dan memperjualbelikan keramik, logam yang terintegrasi dalam perdagangan antarnegara.

Geliat ekonomi ini menarik hadirnya kaum imigran dari China, Arab, India, dan etnis lainnya sehingga komposisi penduduk kian majemuk. Uniknya, di tengah kompleksitas entitas budaya ini, Kesultanan Cirebon masih menjadi corong syiar agama Islam.

Eksistensi Kesultanan Cirebon yang mampu memelihara Ukhuwah Islamiyah itu membuat kerajaan-kerajaan besar seperti Banten, Demak, dan Mataram Islam memberikan simpatinya. Walau pada abad ke 17 terjadi disharmoni antara kesultanan Islam ini.

Bulan Tanpa Awan

Pemerhati seni budaya Cirebon, Nurdin M Noer, dalam bukunya Menusa Cerbon (2009), menggambarkan Cirebon sebagai Bulan tanpa awan. Hal ini, jelasnya, memiliki arti sebagai kebudayaan yang bersinar.

Tetapi, lanjutnya, sinarnya bukanlah sinar murni sebab berasal dari kebudayaan lain, laksana sinar Bulan yang adalah pantulan dari sinar Matahari. Namun, sinar rembulan itu tidak kalah indahnya. Bahkan mengundang selaksa tanda tanya dan misteri.

Menurut Rini Kustiasih dalam artikel berjudul Bulan Tanpa Awan di Kota Cirebon menyebut pengaruh kebudayaan itu bergulat di hampir semua bagian arsitektur kompleks keraton dan lambang negara, utamanya gaya Hindu, Islam, dan China.

Gapura berundak seperti ditemui saat masuk ke sebuah pura atau kuil Hindu ada di Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Di Keraton Kasepuhan, misalnya gerbang itu ada saat memasuki kompleks Siti Inggil.

Kerupuk Melarat Cirebon, Camilan Unik yang Digoreng Tanpa Minyak

Di Kanoman, bangunan Siti Inggil bahkan ditempeli dengan keramik China yang beberapa telah lepas karena penjarah. Dua patung harimau putih di halaman Keraton Kasepuhan dan Kanoman menandakan pengaruh tinggalan Pajajaran yang Hindu.

Kesultanan Cirebon mengadopsi lambang ini dalam bentuk kaligrafi yang dikenal dengan Panji Macan Ali. Panji itu berupa kaligrafi bertuliskan dua kalimat syahadat yang dibentuk dalam citra seekor macan.

“Simbol itu menegaskan identitas Kesultanan Cirebon yang Islam, namun tak meninggalkan landasan budayanya di masa lampau,” jelasnya.

Sedangkan keharmonisan Arab-Tionghoa masih bisa ditemui dari rumah bergaya Hokkian yang tersisa di daerah Panjunan.

Sedikitnya ada lima rumah bergaya Hokkian di Kauman, dicirikan dengan atap melengkung, banyak jendela di loteng, dan pintu di bawah untuk berdagang.

Dalam hubungan dengan kelompok yang terlebih dahulu ada di Cirebon, seperti warga Sunda dan Jawa, Sunan Gunung Jati tidak membeda-bedakan perlakuan.

Bahkan, untuk urusan penyebaran agama dan penyelesaian konflik, dirinya lebih mengutamakan cara damai sesuai adat setempat.

Dialog budaya

Kehangatan relasi sosial, sejatinya dibangun sejak abad ke 14 oleh Syarif Hidayatullah yang juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Melalui dialog kebudayaan, Gunung Jati mengakomodasi tradisi lama dengan nafas keislaman yang damai dan percaya diri.

Sunan Gunung Jati dengan arif tak memaksakan segala sesuatunya bergaya Timur Tengah untuk menandai kerajaan Islam. Secara luwes, pengaruh Islam, Hindu, dan China itu melebur di hampir semua arsitektur masjid awal buatan wali.

“Islam disampaikan dengan tetap memperhatikan kesenian dan kebudayaan setempat. Bahkan, nama masjid pertama di Cirebon tidak ada yang memakai nama Arab atau desainnya kearab-araban,” kata Sultan Sepuh XIV Arief Natadiningrat.

Salah satunya ialah Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan. Masjid yang dari luar lebih kelihatan seperti padepokan atau kuil ini mewakili semangat akulturasi. Ada unsur Jawa dengan atapnya yang limasan dan joglo di bagian depan.

Tarian Romansa Sintren dalam Ketidak Sadaran

Bagian tiang sebagai sokoguru menunjukan kekhasan masjid ini sebagai bangunan orang Jawa. Arsiteknya adalah Sunan Kalijaga. Ada kisah, Sunan Gunung Jati memberikan salah satu kayu yang akan dipakai sebagai tiang di masjid itu kepada komunitas Tionghoa.

Pemberian itu sebagai bentuk kepedulian Sunan Gunung Jati kepada komunitas Tionghoa. Sebagai gantinya, dia dan Sunan Kalijaga membuat tiang baru dari sambungan potongan kayu yang dinamai “Saka Tatal”.

“Saka Tatal dari sambungan kayu ini perlambang persatuan. Sunan Gunung Jati sangat menghargai warganya yang berbeda-beda,” ujar Hasan Muhjiddin, Imam Masjid Sang Cipta Rasa.

Contoh lainnya adalah keberadaan bokor berisi dupa di salah satu pintu menuju makam Putri Ong Tien Nio, istri Sunan Gunung Jati dari China, di kompleks makam Sunan Gunung Jati. Sulit untuk memilah apakah ini budaya Islam, Hindu, Buddha, atau China.

Perilaku menghargai leluhur biasa dilakukan warga Tionghoa dengan berdoa di altar. Pada malam tertentu, terutama Jumat Kliwon dalam penanggalan Jawa, ratusan orang datang dan berdoa sambil menyalakan dupa, tak semua adalah keturunan Tionghoa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini