Tempeh Grenada, Kreasi Tempe Tak Biasa dari Kepulauan Karibia

Tempeh Grenada, Kreasi Tempe Tak Biasa dari Kepulauan Karibia
info gambar utama

Masyarakat Indonesia tentu sudah mengenal tempe sebagai makanan sehari-hari dan mudah dijumpai di berbagai daerah. Tempe termasuk makanan sederhana yang digemari banyak orang. Harganya terjangkau, rasanya enak, dan bisa diolah jadi berbagai jenis makanan. Bahkan, tempe juga jadi makanan andalan para vegetarian sebagai substitusi protein hewani.

Tak hanya lezat dan mudah didapat, tempe juga disebut-sebut sebagai kelompok superfood karena kaya nutrisi, seperti protein tinggi dan mengandung berbagai vitamin dan mineral.

Tempe merupakan hasil fermentasi kedelai yang umumnya saat dijual umumnya berbentuk bongkahan persegi atau lembaran dan dibungkus satu per satu dengan daun pisang. Penampilan tempe identik dengan warna putih di bagian luar dan bagian dalamnya berwarna kuning kecokelatan khas warna kedelai. Begitulah tampilan tempe yang kita ketahui bertahun-tahun. Di pasar hingga supermarket, bentuk tempe saat dijual kurang lebih serupa.

Namun, ternyata ada pula tempe yang penampilannya sungguh menarik. Alih-alih berbentuk persegi panjang, tempe satu ini bisa memiliki bentuk bulat pipih atau kubus. Selain bentuknya, tempe juga dibuat warna-warni, diberi tambahan bunga, dan bahan-bahan lain yang tak biasa.

Ketika Tempe Selamatkan Tawanan Belanda dari Kematian di Penjara Jepang

Tempe warna-warni dari Kepulauan Karibia

Seperti kebanyakan orang Indonesia, Putri Gremmer asal Bintan, Kepulauan Riau, sangat suka makan tempe dengan sambal. Tempe selalu jadi makanan pokok di rumah keluarganya. Meski ketika masih kecil lebih menyukai tahu, seiring beranjak dewasa Putri yakin betul bahwa dirinya merasa tempe lebih enak dan ia makin menyukai tempe setelah mengetahui manfaatnya.

Mengutip pernyataannya pada Thesmedia.id, tempe penyet adalah masakan favoritnya. Ini adalah masakan yang sederhana dan mudah. Selama tempe dibumbui dengan baik dan membuat sambal yang enak, Putri bisa makan itu sepanjang hari. Selain tempe penyet, ia juga suka membuat tempe goreng dan disantap bersama nasi, sayuran, dan sambal.

Putri merupakan seorang pengusaha yoghurt, sourdough, tempe, dan makanan fermentasi dengan tampilan yang memukau. Kreasinya ia bagikan melalui akun Instagram @tempehgrenada. Di Instagram tersebut, Putri sering mengunggah foto dan video tempe yang begitu cantik secara visual.

Pindah ke Grenada, Kepulauan Karibia, Putri menyadari bahwa tak ada penjual tempe di sana. Sebagai penggemar tempe, ia pun membuatnya sendiri sekaligus memperkenalkan tempe di negara tempat ia tinggal.

Kata Putri, tempe di Amerika dianggap sebagai makanan kesehatan khusus yang mahal dan sulit ditemukan. Padahal di Indonesia, tempe termasuk makanan terjangkau yang dapat dinikmati berbagai kalangan.

Soal kreasi tempe buatannya, ada beberapa yang menarik perhatian. Misalnya yang diberi nama Wild Eden, di mana tempe dibuat dari beras hitam dari China yang rasanya mirip ketan hitam, kunyit, dan kacang Arab. Setelah proses fermentasi selesai, rasa tempe ini cenderung manis dan menyegarkan. Ditambah dengan kunyit yang memberi manfaat lebih sebagai antiinflamasi.

Kemudian ada tempe yang dibuat dari bahan unik seperti kacang kapri atau kacang polong, lentil dan milet, kacang hitam, dan biji bunga matahari. Ada pula Tempe Umbian yang dibuat dari labu, ubi, dan sukun, kemudian ditambahkan kelopak bunga mawar segar.

Selanjutnya adalah tempe buatan Putri yang paling terkenal yaitu Unicorn Tempeh yang penampilannya warna-warni. Untuk pewarnaan, Putri membuatnya dari bahan-bahan alami seperti annatto yang berwarna oranye-merah yang terbuat dari biji pohon achiote, daun pandan untuk warna hijau, kunyit untuk warna kuning-oranye, dan bunga telang untuk warna biru.

Tempe, Super Food Asal Indonesia yang Didaftarkan Sebagai Warisan Budaya UNESCO

Memanfaatkan bahan lokal

Putri mengaku memang jarang membuat tempe tradisional dengan kedelai kecuali mendapat permintaan khusus. Kedelai juga cenderung memiliki reputasi buruk karena produksi transgeniknya sehingga orang-orang ragu membeli, kecuali jika bersertifikat organik. Untuk itu, ia memilih cara lokal yaitu mengikuti kebiasaan masyarakat yang suka makan kacang dan lentil.

Sebagai gantinya, ia berkreasi dengan aneka kacang-kacangan. Ia pun menambahkan warna dan rasa yang bernuansa lokal Karibia seperti warna cerah dan memanfaatkan bahan seperti bunga-bungaaan.

“Awalnya, orang yang saya ajak bicara tentang tempe tidak tertarik untuk mencobanya,” kata Putri kepada Tastecooking.com. “Mereka bahkan tidak tahu itu difermentasi atau dibuat dengan jamur. Jadi saya pikir saya akan menambahkan warna dan rasa Karibia untuk membuatnya lebih menarik.”

Pada awal pembuatan tempe ia juga pernah membawa ragi dari Indonesia. Namun, seiring waktu ia membuatnya sendiri dan untuk kacang-kacangan bisa dibeli di sekitar tempat tinggalnya. Tempe buatan Putri bisa dipesan dan dijual di toko-toko lokal. Ia juga berencana menjual tempe di supermarket lokal dan mengadakan lokakarya pembuatan tempe yang bisa diikuti orang banyak.

Menurut Putri, respons orang Amerika dan Eropa sangat baik terhadap kreasi tempenya. Namun, untuk orang lokal terus diedukasi karena mereka tidak familier dengan makanan fermentasi. Baginya, tempe bukan sekadar bisnis, tetapi menjadi cara agar tetap terhubung dengan Indonesia yang merupakan negara asalnya.

Bukan Kedelai, Mahasiswa UNY Populerkan Tempe dari Biji Karet

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini