Cerita Soeharto Memimpin Malam Gema Takbir di Lapangan Monas

Cerita Soeharto Memimpin Malam Gema Takbir di Lapangan Monas
info gambar utama

Malam takbiran tahun 1997, merupakan perhelatan agama dan budaya nasional yang dilaksanakan di kawasan Monumen Nasional (Monas). Presiden Soeharto langsung memimpin gema takbir.

“Inilah kali pertama dia memimpin acara takbiran secara nasional,” tulis Selamat Ginting jurnalis senior dalam artikel bertajuk Soeharto, Tabir dan Takbir 1997 yang dimuat Republika.

Untuk pertama kali juga, acara takbiraan nasional diperdengarkan secara resmi. Gema takbir ini dipimpin secara langsung oleh Soeharto. Hal yang menarik, bukan hanya memimpin takbir, dirinya juga ikut menabuh bedug.

Soeharto mengenakan baju koko putih, kopiah putih dan sarung. Jenderal bintang lima itu melantunkan takbir seperti umumnya masyarakat, didampingi oleh Wakil Presiden Try Sutrisno, beberapa tokoh nasional, dan perwakilan negara sahabat.

Suasana takbir makin syahdu dengan kehadiran Rhoma Irama, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat itu, KH Hasan Basri. Kehadiran Rhoma, Cak Nun, Zainuddin menjadi daya tarik masyarakat untuk hadir.

Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan

“Semua khidmat selama mengikuti acara. Pak Harto pun terharu,” demikian kesan Dubes Saudi Arabia yang dikutip KH Hasan Basri mengungkapkan acara Gema Takbir di Monas.

Tahun 1997, setahun sebelum Soeharto lengser menjadi puncak mantan orang nomor satu di Indonesia ini tampak begitu dekat dengan Islam. Ketika usianya memasuki 75 tahun, dia lebih banyak mendahulukan kepentingan ibadah.

Perubahan Soeharto sebenarnya telah di mulai sejak akhir tahun 80 an atau awal tahun 90an. Soeharto mulai mendekatkan diri pada kelompok Islam yang menurut para pengamat disebut sebagai langkah evaluasi dalam strateginya.

Langkah ini cukup mengejutkan banyak pihak, mengingat sebelumya arah bandul politik Orde Baru (Orba) tidak begitu memihak kelompok mayoritas di negeri ini, bahkan sempat dianggap begitu alergi dengan Islam.

Misalnya saja, pada awal kekuasaanya, walau membebaskan pemimpin politik Islam seperti Muhammad Natsir. Harapan agar nama Masyumi direhabilitasi dari statusnya sebagai partai terlarang tak dikabulkan.

Soeharto juga membiarkan para pejabatnya melarang jilbab. Dirjen Pendidikan dan Menengah (Dikdasmen), Prof Darji Darmodiharjo, SH, pada 17 Maret 1982, mengeluarkan surat keputusan 052/C/Kep/D.82 tentang Seragam Sekolah Nasional yang berujung pada pelarangan jilbab di sekolah negeri sekuler.

Sejarawan Anhar Gonggong menganggap bentuk ‘ketidaksenangan’ Soeharto dengan Islam tak lepas dari kepercayaannya sebagai Islam abangan atau kejawen. Selain itu, Soeharto juga punya kekhawatiran sendiri terhadap kekuatan Islam.

Perolehan suara partai Islam pada pemilu 1971 yang mencapai hampir 20 persen dianggap sebuah ancaman. Realitas ini dinilai tak menyenangkan, padahal Soeharto berambisi menjadikan Golkar pemenang tunggal.

Sejak itulah, dirinya melarang penggunaan syariat Islam sebagai asas partai politik dan organisasi kemasyarakatan.

“Memang Soeharto tampaknya ada kekhawatiran terhadap kekuatan Islam itu. Tetapi dalam beberapa hal, Islam pada saat tertentu juga melakukan perlawanan,” kata Anhar.

Perjalanan ritual

Tetapi 25 tahun setelah berkuasa, sikapnya kemudian berubah. Dia tak cuma merestui terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dipimpin BJ Habibie pada 1990, dan mulai melonggarkan pengenaan jilbab di sekolah-sekolah.

Pada Juni 1991, Soeharto bahkan mengumumkan dirinya dan keluarga akan menunaikan rukun Islam kelima yakni naik haji. Dia mengaku sebetulnya, niat pergi haji sudah muncul sejak Pelita I, ketika mulai memimpin Orba.

“Tetapi, saya pikir waktu itu keadaan negara kita masih perlu pemikiran dan tenaga untuk melaksanakan pembangunan, maka terpaksa saya tunda,” ujar Soeharto seperti dikutip dari Berita Buana, 28 Juni 1991.

Sepintas alasan ini dapat dipahami, mengingat haji memang menyita waktu cukup panjang. Berbeda dengan umrah yang bisa dilakukan lebih singkat, dan Soeharto telah berkali-kali menunaikannya.

Soeharto, Ibu Tien dan sanak keluarganya tiba di Jeddah, Arab Saudi, pada 17 Juni 1991. Meski perjalanan ibadah itu bersifat pribadi tanpa biaya negara, sebagai pemimpin dari negara berpenduduk Muslim terbesar, pihak Arab Saudi memberikan pelayanan khusus.

Gubernur Mekah Pangeran Majid bin Abdul Azis, yang mewakili Raja Fadh menyambut rombongan. Kerajaan Arab Saudi bahkan menyediakan penginapan di Royal Guest House, juga perkemahan khusus di Arafah.

Soeharto mengawali ibadah dengan perjalanan ke Madinah, berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, sahabat Abu Bakar As Shiddiq, dan Umar bin Khattab. Setelah itu, dia menjalankan rangkaian haji pada umumnya.

Kisah Soeharto dari Lapangan Golf, Bertemu Istri Soekarno hingga Kalahkan Rambo

Dirinya mendapat pengawalan dari tentara Kerajaan Arab Saudi, sebagai fasilitas yang disediakan kerajaan bagi kepala negara selama menunaikan ibadah haji. Saudi bahkan memberikan keistimewaan untuk bisa memasuki Ka’bah.

Awalnya Soeharto menolak, sebab istrinya, Hartinah tidak termasuk yang diperbolehkan memasuki Ka’bah. Sebagai rasa cinta dan penghormatan pada sang istri, Soeharto mengabaikan undangan raja tersebut.

Namun, takdir berkehendak lain, untuk menghormati Soeharto dan bangsa Indonesia, Raja Saudi akhirnya mempersilahkan Soeharto ditemani oleh Ibu Tien untuk memasuki Rumah Allah, Ka’bah.

“Mungkin, itu untuk pertama kali perempuan di dunia yang diperbolehkan memasuki Ka’bah,” ujar Siti Hutami Endang Adiningsih atau akrab dipanggil Mamiek Soeharto, putri bungsu Soeharto yang dikutip dari Indonesia Inside.

Bandul yang berubah

Usai ibadah haji, tepatnya pada 22 Juni 1991, Raja Fahd melalui sebuah surat memberikan pilihan nama Islam kepada Soeharto yakni Mohammad atau Ahmad dan Siti Fatimah atau Siti Maryam bagi istrinya.

Rupanya, Soeharto lebih suka menggunakan nama Haji Mohamamad Soeharto, sementara istrinya Hajjah Siti Fatimah Hartinah Soeharto. Sejak itulah dirinya akrab dipanggil HM Soeharto. Dan seiring usia, sikapnya terhadap Islam berubah.

Dia mulai merangkul orang-orang Islam. Sebelumnya juga telah menyetujui pendirian ICMI juga memperbolehkan pemakaian jilbab di sekolah. Dirinya juga kembali mendekatkan pada ormas di mana dia pernah dididik.

“Saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia, dan Alhamdulilah memperoleh kepercayaan masyarakat Indonesia untuk memimpin pembangunan nasional. Semoga apa yang saya lakukan ini tidak mengecewakan warga Muhammadiyah,” kata Soeharto dalam pembukaan Muktamar Muhammadiyah di Banda Aceh pada 1995.

Soeharto juga menyetujui pendirian perbankan Syariah pertama di Indonesia, Bank Muamalat Indonesia pada 1 November 1991. Dirinya bahkan turut menggalang dana untuk modal awal.

Robert F Hefner dalam bukunya Civil Islam: Muslim and Democratization in Indonesia mengatakan bahwa perubahan Soeharto memang dipengaruhi oleh analisis tentang situasi dan kebutuhan politik.

Patung Kristus Raja, Hadiah Soeharto yang Gagal Rebut Hati Masyarakat Timtim

“Soeharto dari semula sudah bermaksud memanfaatkan ICMI untuk tujuan politiknya sendiri,” tulis Hefner.

Banyak pengamat dan pakar yang berpikir sama dan meragukan niat Soeharto mendekatkan diri kepada kelompok Islam. Pengamat politik Islam, Dr Syafii Anwar menyebut dukungan Soeharto kepada ICMI sangat luar biasa.

Tetapi, terlepas dari berbagai jurus politik yang diperagakan, menurut Syafii, Soeharto disebutnya adalah seorang ahli strategi yang hebat. Meski akhirnya harus lengser pada tahun 1998.

Namun, pandangan lain datang dari wartawan Antara, Arnaz Ferial Firman yang menyebut perubahan pada diri Soeharto tidak hanya terlihat dari kebijakan politik. Namun juga dari amalan-amalan baik yang jarang diketahui publik.

“Pak Harto juga menghajikan para karyawan di lingkungan kepresidenan hingga tukang bakso atau tukang ketoprak yang mencari nafkah di sekitar Jalan Cendana,” ujar Arnaz.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini