5 Tradisi Kemeriahan Malam Takbir dan Idulfitri di Berbagai Penjuru Indonesia

5 Tradisi Kemeriahan Malam Takbir dan Idulfitri di Berbagai Penjuru Indonesia
info gambar utama

Gema takbir jadi saat paling dinanti bagi masyarakat Indonesia yang merayakan momen Idulfitri setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah Ramadan. Dari sekian banyak ciri khas yang identik dengan perayaan yang juga dikenal dengan sebutan lebaran ini, malam takbiran jadi salah satu yang tak boleh terlewat kemeriahan dan euforianya.

Umumnya, malam sebelum perayaan Idulfitri selalu identik dengan lantunan takbir yang disuarakan dari masjid di berbagai tempat tanpa terkecuali. Selain itu, tak lupa juga ramainya tabuhan beduk masjid yang biasa mengiringi keramaian yang ada.

Lagi-lagi karena Indonesia sendiri merupakan negara yang kaya akan budaya, tak heran jika ada berbagai macam tradisi perayaan menyambut Idulfitri atau malam takbiran yang dimiliki setiap daerah. Mulai dari bagian paling barat seperti Sumatra bahkan hingga timur ke wilayah Papua, masing-masing memiliki tradisi yang berbeda untuk menyambut hari kemenangan.

Apa saja tradisi malam takbir atau perayaan Idulfitri yang ada di Indonesia? Berikut daftarnya.

Cerita Soeharto Memimpin Malam Gema Takbir di Lapangan Monas

Ronjok sayak

Dari pulau paling barat yakni Sumatra, ada sebuah tradisi Ronjok Sayak yang berasal dari Bengkulu, khususnya oleh masyarakat suku Serawai yang ada di wilayah Bengkulu Selatan. Penamaan tradisi itu sendiri beradal dari istilah Sayak yang berarti batok kelapa.

Sehingga definisi sekaligus dalam praktiknya, tradisi ini merupakan bentuk kegiatan membakar tumpukan batok kelapa yang dibuat menggunung, dengan cara disusun seperti tusuk sate hingga tingginya dirasa cukup menjulang atau sekitar satu meter.

Mengutip Ayoindonesia, tradisi satu ini dipercaya sudah berjalan sejak ratusan tahun lalu. Batok kelapa melambangkan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga sebagai doa bagi arwah para leluhur yang telah meninggal.

Tidak hanya pada malam takbir, sebenarnya kegiatan ini sendiri sudah banyak yang mulai melakukan pada malam ke-27 Ramadan, selepas waktu Isya. Lokasinya sendiri dilakukan di tiap depan rumah masing-masing warga, dan setiap satu rumah ada yang membakar lebih dari satu gunung batok kelapa.

Di lain sisi, ada juga yang menyebut jika tradisi ini muncul karena keinginan masyarakat Bengkulu dalam menghadirkan penerang sebagai lambang kegembiraan, dalam menyambut Idulfitri.

Tradisi Bakar Batok Kelapa Menjelang Idulfitri di Bengkulu

Meriam karbit

Meriam karbit di Pontianak
info gambar

Pada Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat tepatnya di Pontianak, ada tradisi malam takbir dan menyambut Idulfitri yang dinamakan Meriam Karbit. Untuk memeriahkan malam yang biasa diisi dengan pukulan beduk atau mungkin petasan, masyarakat di kota ini justru menggunakan meriam yang ditembakkan untuk menghasilkan suara ledakan yang keras.

Biasanya, meriam tersebut dinyalakan di pinggiran sungai Kapuas sepanjang malam, mulai dari saat menyambut azan magrib hingga menjelang waktu pagi. Mengutip salah satu sumber, tradisi ini awalnya diwariskan oleh oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Sosok tersebut merupakan pendiri dan sultan pertama dari Kerajaan Pontianak.

Bicara mengenai tujuan, membunyikan meriam dimaksudka untuk mengusir roh jahat agar tidak mengganggu masyarakat saat hari kemenangan tiba. Hal itu juga yang membuat tradisi meriam kambit dulunya disebut sebagai salah satu cara untuk mengusir hantu kuntilanak.

Meriam Karbit Si Pengusir Kuntilanak

Tumbilotohe

Jika di Bengkulu masyarakatnya menyalakan penerangan dengan membakar batok kelapa, lain halnya dengan masyarakat Gorontalo yang memiliki tradisi bernama Gorontalo. Untuk memeriahkan penerangan, mereka menyalakan obor atau lampu minyak yang tidak sedikit jumlahnya, yakni mencapai ribuan dan biasa dinyalakan di tengah tanah lapang.

Tradisi satu ini disebut sudah berlangsung sejak abada ke-15 dan biasa mulai dilakukan sejak tiga hari sebelum Hari Raya tiba. Dulunya lampu yang dibuat masih menggunakan damar dan getah pohon, namun seiring berjalannya waktu lampu kemudian diganti dengan minyak kelapa atau minyak tanah.

Yang menarik, tidak hanya meletakkan lampu obor di tengah lapangan, tapi biasanya lampu-lampu tersebut dirangkai hingga menyerupai berbagai bentuk, misalnya bentuk kitab suci Al-Qur’an, ketupat, berbagai kaligrafi atau tulisan yang indah, dan masih banyak lagi.

Selain di lapangan, obor atau lampu minyak juga banyak dipasang oleh masyarakat Gorontalo di halaman rumah, sawah, atau tempat umum lainnya.

Makna Setiap Atribut Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo

Grebeg Syawal

Menjadi salah satu pulau dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, tentu ada banyak ragam tradisi Idul Fitri atau malam takbir yang ada di Jawa, namun salah satu yang menarik untuk diketahui adalah tradisi Grebeg Syawal yang berasal dari wilayah Yogyakarta, yang biasanya dilakukan oleh pihak Keraton.

Tradisi ini terdiri dari rangkaian kegiatan yang dimulai dari menyusun hasil pertanian dan perkebunan yang disebut gunungan. Kemudian, gunungan tersebut nantinya akan diarak keliling Keraton hingga Masjid Agung Yogyakarta.

Biasanya, dalam tradisi grebeg syawal pihak Keraton akan membagikan kelengkapan gunungan yang berisi 2.700 tangkai rengginang. Sebelum dibagikan, gunungan tersebut diarak dengan rute yang telah ditentukan lalu dibagikan kepada warga ketika kegiatan hajad dalem Grebeg Syawal, yaitu pada hari pertama Idul Fitri.

Sama seperti ragam tradisi lain, grebeg syawal merupakan media atau cara untuk mengungkap rasa syukur Sultan Keraton atas datangnya Idulfitri, setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Tak Selenggarakan Grebeg Syawal, Kraton Jogja Tetap Jaga Budaya

Pawai hadrat

Jangan kira di Papua tidak ada tradisi untuk tersendiri yang dimiliki masyarakatnya untuk merayakan Idulfitri. Kebiasaan tak kalah menarik bisa dijumpai di salah satu wilayah Kaimana yang berada di Papua Barat, yang memiliki tradisi bernama Hadrat atau Pawai Hadrat.

Pawai ini dilakukan oleh masyarakat setempat dan dilengkapi dengan kemeriahan tabuhan gendang khas tanah Papua yakni tifa, sambil diiringi rebana dan selawat. Sambil berkeliling dan bersilahturahmi, sebagian besar warga kota juga ada yang menari bersama-sama.

Mengutip Kompas.com, tradisi ini sendiri disebut sudah ada sejak tahun 1970-an yang diambil dari Syekh Abdul Qodir Jailani. Mengenai waktu pelaksanaan, hadrat biasanya dilakukan pada hari kedua Idulfitri.

Yang menarik, kemeriahan dari acara ini tidak hanya mengundang partisipasi dari mereka yang beragama muslim. Sekaligus memberikan bukti nyata toleransi, dalam pelaksanaannya ternyata kerap dijumpai masyarakat beragama lain yang ikut merayakan, dengan ikut memainkan alat musik tifa atau menyediakan makanan serta minuman.

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini