Binarundak, Tradisi Reuni Lebaran Ala Suku Mongondow

Binarundak, Tradisi Reuni Lebaran Ala Suku Mongondow
info gambar utama

Idulfitri memang merupakan hari rayanya umat muslim. Setelah sebulan berpuasa, umat muslim akan merayakan hari yang istimewa. Meski identik dengan kegiatan keagamaan, perayaan lebaran juga diwarnai dengan sentuhan kebudayaan Indonesia dan berbagai tradisinya.

Di Indonesia, kita mengenal beberapa tradisi yang selalu dilakukan dari sebelum ramadan, menjelang Idulfitri, sampai setelah lebaran. Adapun tradisi paling umum seperti mudik, ziarah ke makam, kumpul keluarga, takbiran di malam hari jelang Idulfitri, salat id, makan ketupat dan opor, dan tak lupa berbagi rezeki kepada sanak saudara.

Selain tradisi yang umum dilakukan, ada pula kebiasaan yang lebih dikenal di sebagian daerah. Misalnya seperti tradisi binarundak yang terus dilestarikan masyarakat Suku Mongondow di Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Seperti apa tradisi binarundak khas Suku Mongondow?

5 Tradisi Kemeriahan Malam Takbir dan Idulfitri di Berbagai Penjuru Indonesia

Tradisi membakar nasi jaha

Nasi jaha | Wikimedia Commons
info gambar

Tradisi binarundak merupakan kegiatan yang dilakukan Suku Mongondow yang tinggal di wilayah Bolaang Mongodow Raya, Kelurahan Motoboi Besar, ketika lebaran. Masyarakat akan berkumpul bersama-sama dan membakar nasi jaha.

Apa itu nasi jaha? Hidangan ini merupakan khas Sulawesi Utara yang berbahan dasar beras dan dimasak dalam batang bambu. Dari penampilannya mirip lemang khas Sumatra, tetapi nasi jaha memiliki cita rasa jahe yang kuat dan gurih dari santan. Nasi jaha juga memiliki proses pengolahan yang khas.

Untuk membuat nasi jaha, diperlukan bahan-bahan berupa beras ketan, jahe, santan, bawang merah, serai, daun jeruk purut, garam, gula, dan sedikit minyak goreng. Sebelum diolah, beras ketan akan direndam dengan air semalaman agar beras menjadi lebih lunak dan lebih cepat matang ketika nanti dimasak.

Setelah direndam, beras ketan pun akan dikukus sampai setengah matang kemudian dimasak dengan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan. Jika bumbu sudah meresap, beras ketan dibungkus daun pisang dan dimasukkan ke dalam selongsong bambu untuk kemudian dibakar dengan asap api sampai benar-benar matang.

Jika sudah matang, nasi jaha siap disajikan dengan cara dipotong-potong menjadi beberapa bagian seperti lontong dan dapat dinikmati bersama lauk-pauk seperti abon ikan cakalang, gulai daging sapi, abon daging rusa, ataupun kari.

Tradisi binarundak biasanya dilakukan sekitar tiga hari sampai seminggu setelah Idulfitri dan digelar secara massal. Sebenarnya penyelenggaraan tradisi ini adalah ajang reuni dan silaturahmi para warga Kotamobagu yang merantau ke luar kota dan kembali ke kampung halaman saat lebaran. Dengan mengikuti binarundak, para perantau akan berkumpul setelah berpisah sekian lama lalu membakar nasi jaha bersama-sama sambil bermaaf-maafan sebelum kembali ke perantauan.

Diadakannya binarundak juga terinspirasi dari tradisi tujuh hari setelah Idulfitri yang dilakukan oleh masyarakat Jawa-Tondano di Gorontalo. Binarundak sendiri memang awalnya sengaja dibuat oleh para warga yang mudik dari perantauan seperti dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan daerah lain.

Pada puncak perayaannya, akan disiapkan hingga berton-ton sabut kelapa untuk pembakaran nasi jaha. Tradisi ini akan diselenggarakan di sepanjang ruas jalan dan semua orang berkumpul di satu area. Setelah nasi jaha dibakar kemudian dapat dinikmati beramai-ramai dengan iringan musik tradisional, syair-syair pujian, dan doa syukur.

Tak hanya sebatas tradisi, binarundak juga telah menjadi ikon Kotamobagu. Bahkan pada tahun 2014, pemerintah meresmikan Tugu Binarundak setinggi 18 meter di Jalan Teuku Umar, Motoboi Besar.

Ketupat Colet, Hidangan Lebaran Unik dari Kalimantan Barat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini