Lagu Hari Lebaran, Sindiran Ismail Marzuki kepada Para Penguasa

Lagu Hari Lebaran, Sindiran Ismail Marzuki kepada Para Penguasa
info gambar utama

Menyambut Idul Fitri atau Lebaran, lagu-lagu bertema hari raya mulai terdengar di berbagai tempat, termasuk di media sosial, radio, dan televisi. Menyebut soal lagu Lebaran, salah satu yang tidak pernah absen adalah lagu Hari Lebaran karya maestro Ismail Marzuki.

Lagu ini beberapa kali diaransemen sejumlah seniman seperti Tasya Kamila, Deredia, dan Sentimental Moods. Lagu ciptaan Ismail tersebut awalnya dilantunkan grup vokal Lima Seirama di Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1952.

Namun, Ninok Leksono dalam bukunya Ismail Marzuki; Senandung Melintas Zaman menulis yang mempopulerkan pertama kali adalah Didi dengan iringan Orkes Mus Mualim. Sosok Didi ini pernah mengundang pertanyaan, siapakah orang ini?

Belakangan diketahui bahwa Didi adalah nama samaran Suyoso Karsono. Pengamat musik Denny Sakrie dalam wawancara dengan Koran Tempo pada 2011 pernah mengatakan bahwa nama Didi dipakai untuk menutupi identitas asli penyanyi.

“Dia menggunakan nama samaran karena tidak ingin diketahui orang,” kata Denny seperti dilansir dari Koran Tempo.

Hari Lebaran lantas direkam kembali oleh Didi, namun dengan beda pengiring, lagu ini lantas populer. Popularitas lagu Hari Lebaran ini memang luar biasa. Sehingga banyak diperdengarkan di setiap media yang ada saat itu.

Nasionalisme Lewat Musik ala Ismail Marzuki

Bahkan seniman Melayu besar dari Malaysia, P Ramlee juga tak segan menyanyikan dan mempopulerkan lagu ini di negaranya pada tahun 1977. Akibatnya, warga Malaysia mengenal dan kemudian menggunakan istilah Lebaran sewaktu perayaan hari raya Idul Fitri.

Belakangan beberapa artis baru, seperti Gita Gutawa, Tasya dan grup musik Deredia membawakan lagu ini kembali. Deredia kemudian membawakan lagu ini dengan versi yang lebih lengkap.

Versi ini berbeda dengan yang dibawakan oleh Sentimental Moods yang menghilangkan lirik dan hanya berisi musik. Aransemen Deredia membuat badan ingin ikut bergoyang dan mulut melantunkan lirik.

Peneliti dan pengamat musik Michael Haryo Bagus Raditya mengatakan lagu Hari Lebaran memadukan unsur jazz dan Melayu. Hal yang menarik ucapnya, lagu ini memadukan beberapa dimensi dalam setiap liriknya.

“Yang menarik bagiku, lagu itu bisa masuk tiga nuansa sekaligus, yakni religi, kritik, dan hiburan. Tiga tarikan ini yang membuat lagu tersebut 'terjaga’, “ kata Michael yang dilansir dari Historia.

Menyampaikan pesan gembira

Dilansir dari Kompas, lagu ini dibuka dengan lirik perasaan riang gembira menyambut hari Lebaran. Setelah sebulan berpuasa dan berzakat fitrah, waktunya bersuka ria dan bermaaf-maafan.

Dalam lirik ini juga tercetus kalimat yang cukup populer ketika menjelang Lebaran yakni minal aidin wal faidzin, maafkan lahir dan batin. Tidak lupa mendoakan rakyat makmur sejahtera dan mengucapkan selamat kepada para pemimpin.

Minal aidin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin

Selanjutnya, bait dari lagu Hari Lebaran adalah memotret suasana Lebaran pada tahun 1950 an. Terutama cara merayakan Lebaran bagi warga desa, seperti memakai baju baru, naik terem ke kota dan berjalan-jalan sampai kaki lecet dan sandal harus dilepas.

Dalam lirik ini juga Ismail menggambarkan secara gamblang perbedaan cara merayakan Lebaran orang desa dan kota. Penggambaran ini sangat lucu dan membuat orang tertawa membayangkannya.

Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik terem listrik perey
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore
Akibatnya tengteng selop terompe
Kakinya pada lecet babak belur berabe

Ismail Marzuki Alias Maing, Pejuang Indonesia Melalui Lagu

Ismail tidak hanya mengolok-olok orang desa, dia juga menampar cara orang kota merayakan Lebaran. Lirik ini memang dihilangkan, sehingga kita tidak pernah mendengarkannya atau membacanya.

Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan ini dipakai buat berjudi
Sehari semalam maen ceki mabuk brendy
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri

Gambaran itu seperti menampar kaum urban pada masa itu yang lekat dengan kekerasan dalam rumah tangga. Penggambaran ini sangat tidak berbeda dengan kondisi Indonesia pasca kemerdekaan.

Bila lagu ini dibuat pada awal tahun 1950 an, sangat terlihat kondisi politik Indonesia sedang tidak stabil. Misalnya terlihat dengan adanya Republik Indonesia Serikat yang didirikan pada 1949 dan secara resmi berakhir pada 17 Agustus 1950.

Rachmi Aziah, putri Ismail pada wawancaranya dengan Koran Tempo pada tahun 2011 menyebut ayahnya memang sering membuat lagu yang berdasarkan kondisi masyarakat pada zaman itu.

“Bapak saya memang selalu membuat lagu berdasarkan peristiwa yang sedang terjadi,” ujar Rachmi.

Sindiran kepada pemerintah

Tidak hanya menggambarkan realitas kehidupan masyarakat, lagu ini juga menyindir pemerintah. Misalnya Ismail menulis lirik “Selamat pada pemimpin, rakyatnya makmur terjamin” sebagai bentuk sindiran karena kondisi rakyat yang belum sejahtera.

Sindiran juga terasa pada bagian lirik, di mana pada masa itu, mencari pekerjaan bukan hal yang mudah. Apalagi untuk negara yang baru seumur jagung, masih banyak yang perlu dikerjakan untuk membangun ekonomi negara.

Ismail juga mencatat kondisi ekonomi saat itu dengan menyebut agar hidup tetap prihatin, berharap tidak susah. Lagu ini juga menceritakan kebiasaan masyarakat saat itu - terutama suku Betawi - yang menikahkan anaknya di bulan Syawal.

Maafkan lahir dan batin
Lan taun hidup prihatin
Cari wang jangan bingungan
Lan syawal kita ngawinin

Ketika itu, Perdana Menteri Mohammad Natsir memiliki lima program kerja pokok. Pertama, menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman, kedua mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan.

Taman Ismail Marzuki: Mengenang Kembali Sang Maestro Legendaris

Ketiga, menyempurnakan organisasi Angkatan Perang. Keempat, mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat, dan terakhir memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.

Pada masa itu, dikenalkan juga program ekonomi Sumitro Plan, salah satunya dengan memberikan kredit kepada pengusaha agar menumbuhkan perekonomian nasional. Namun, pemberian kredit ini justru diselewengkan.

Munculah kasus korupsi di lembaga negara dan banyak pejabat yang hidup dengan gaya mewah. Korupsi inilah yang dikritik oleh Ismail. Kritik inilah yang tegas disampaikan pada dua baris terakhir lagu.

Kondangan boleh kurangin
Korupsi jangan kerjain

Meski begitu, lirik bernada sindiran tak terdengar lagi setelah didaur ulang sejumlah musisi setelah meninggalnya Ismail pada 1958. Michael menyebut, kemungkinan hal ini untuk kebutuhan lagu Idul Fitri yang liriknya jadi kurang pas bila disematkan.

Namun, sekian lama lagu Hari Lebaran yang ciptakan Ismail nyatanya masih sangat kontekstual hingga kini. Kita masih sering melihat perilaku berlebihan masyarakat terutama dalam menyambut hari Lebaran.

Begitu juga perilaku korupsi yang makin menggila, terutama pada pejabat dan lembaga-lembaga negara. Korupsi ini, sesuai juga sindiran lirik Ismail, membuat rakyat masih belum hidup sejahtera.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini