Para Penyapu Koin, Meraih Rezeki dari Kisah Mistis Jembatan Sewo

Para Penyapu Koin, Meraih Rezeki dari Kisah Mistis Jembatan Sewo
info gambar utama

Pemandangan yang tidak biasa terlihat ketika arus mudik Lebaran 2022 di Jalur Pantai Utara (Pantura), Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Terlihat banyak orang berkumpul untuk menyapu koin dari pengendara yang melalui wilayah Indramayu.

Jalur tersebut merupakan salah satu rute perjalanan mudik langganan setiap tahunnya. Ribuan pemudik dari sejumlah daerah memang melintasi jalur Pantura untuk sampai ke kampung halaman setiap tahunnya.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh puluhan warga untuk berjejer menunggu pengendara motor yang memberikan sedekah dengan melemparkan uang koin. Tradisi penyapu koin ini tepatnya di Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, perbatasan Indramayu dengan Subang.

Pada video yang diunggah di akun Instagram @Infojawabarat pada Jumat, 29 April 2022, terlihat puluhan warga berjejer di sisi jalan jalur tersebut. Mereka terlihat membawa sapu berukuran cukup panjang, dan berbaris rapi memperhatikan para pengendara jalan.

Warga kemudian akan mengambil koin yang dilemparkan oleh para pengendara dengan menggunakan sapu tersebut. Kegiatan ini disebut telah menjadi tradisi setiap arus mudik Lebaran yang dilakukan oleh ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak.

“Bahkan menurut informasi, biasanya pada momen arus mudik Lebaran, warga penyapu koin di Jembatan Sewo jumlahnya mencapai ratusan,” tutur pihak @Infojawabarat.

Pelestarian Budaya lewat Literasi Nusantara

Tradisi penyapu koin ini tidak terlepas dari kisah mistis. Carta (40) seorang penyapu koin mengatakan asal usul kebiasaan masyarakat mengemis dengan cara menyapu koin berasal dari kisah mitos sungai yang di berada di bawah Jembatan Sewo.

Dahulu dipercaya ada kakak beradik yang bernama Saedah dan Saeni. Kedua bersaudara ini konon orang yang sangat miskin. Mereka berdua bertahan hidup dengan menjadi pengemis hingga meninggal dunia di sekitar Jembatan Sewo.

Sedangkan ada juga versi lain yang menuturkan bahwa keduanya dahulunya aktif dalam pementasan seni tari ronggeng. Walau kisahnya sudah berlangsung lama, masyarakat mempercayai arwah dari kakak beradik itu berada di bawah Jembatan Sewo.

Hal inilah yang membuat Jembatan Sewo dikenal sebagai jembatan angker, hingga sekarang Carta menyebut masih saja ada masyarakat yang datang ke tempat itu untuk mendapatkan berkah.

Selain sebagai tradisi, alasan para pengendara melempar koin tidak lain agar usaha yang tengah mereka geluti bisa lancar dan selalu untung. Juga agar perjalanan mereka bisa selamat sampai tujuan.

Menolak bala

Terlepas dari itu, memang banyak dari pengendara yang melempar koin untuk meminta keselamatan dari gangguan makhluk halus selama perjalanan melintasi jalur Pantura hingga sampai ke tujuan.

Kisah mistis Jembatan Sewo bertambah kental, setelah peristiwa kecelakaan maut yang menimpa sebuah bus transmigran asal Boyolali. Peristiwa naas ini terjadi pada 11 Maret 1974 di Jembatan Sewo.

Rombongan transmigran tersebut hendak menuju Sumatra Selatan (Sumsel). Namun, salah satu bus yang membawa rombongan tersebut tergelincir, kemudian masuk ke sungai dan terbakar di kali Sewo Desa Sukra Kabupaten Indramayu.

Musibah tersebut terjadi pada pukul 04.30 dini hari. Sebanyak 67 orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak tewas akibat kejadian tersebut. Di antara rombongan yang mengalami musibah hanya tiga anak-anak saja yang selamat.

Semua korban yang tewas dimakamkan di dekat pemakaman umum yang terletak di dekat lokasi kejadian. Semenjak kejadian itu, banyak para pengendara yang melempar koin ketika melewati jembatan.

Berkeliling Menikmati Ekowisata Mangrove Karangsong Indramayu

Hal ini bertujuan agar diberi keselamatan selama perjalanan melintasi Jalur Pantura dari gangguan makhluk halus. Tidak jelas kapan ritual lempar koin ini mulai ada. Namun, sebagian besar masyarakat meyakini jika tradisi ini sudah ada sejak zaman Belanda.

Masyarakat juga sangat meyakini bahwa yang meminta atau menyapu koin di sekitar jembatan ini, salah satunya merupakan jelmaan makhluk halus yang biasa menghuni Jembatan Sewo.

“Makannya yang lewat sini pada melempar koin. Misal dari Jakarta mau ke Surabaya, mereka pasti lempar koin, untuk memohon diselamatkan dalam perjalanannya, agar tidak mengantuk, dan lain-lain,” ungkap Carta.

Hingga kini, tradisi melempar koin oleh para pengendara sudah menjadi tradisi. Bahkan yang dilempar bukan hanya uang koin saja. Terkadang mereka melempar lebih dari 1 koin, bahkan uang kertas dengan pecahan yang besar.

Tradisi menyapu koin pun telah menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat di sana. Bahkan ada penyapu koin yang telah puluhan tahun terjun sebagai penyapu koin di Jembatan Sewo.

Hal ini dikarenakan penghasilannya yang sangat menggiurkan, walaupun harus beraktivitas di bawah terik matahari. Tentunya juga risiko yang mengancam karena bisa mengakibatkan kecelakaan saat berusaha mengambil koin yang dilemparkan.

Mengais rezeki dari koin

Gerombolan orang berjejer sigap menyapu koin-koin yang dilempar pengendara yang melintas di Jembatan Sewo. Pandangan mata orang-orang tersebut membidik setiap kendaraan, mengawasi manakala pengendara melempar uang.

Bila ada yang melempar, aksi rebutan antara orang-orang ini tidak terelakkan lagi, Mereka akan mengambil uang koin ini dengan sapu yang dipegangnya walaupun harus berdesakan di badan jalan.

“Setiap hari ini (red: penyapu koin) ada. Kerjanya yang nunggu mobil-motor lempar koin. (Alasan pengendara melempar koin) Katanya biar selamat di jalan,” cerita seorang penyapu koin, Sirtini yang dilansir dari Detik, Sabtu (30/4/2022).

Perempuan 36 tahun itu mengaku menjadi penyapu koin menyusul jejak sang suami yang sedari kecil melakukan hal tersebut. Dia menceritakan bahwa para penyapu koin sebenarnya memiliki profesi lain seperti pekerja pabrik, peternakan, dan penggilingan padi.

Merawat Tradisi Leluhur, Simbol Petani Menjaga Budaya Agraris

Sedangkan, kata Sirtini, mengais rezeki dari koin-koin yang dilempar oleh pengendara di Jembatan Sewo, merupakan kebiasaan yang akhirnya jadi sambilan di kala waktu senggang warga setelah rutinitas pekerjaan.

Sartini mengaku bisa membawa pulang Rp30 ribu jika hari biasa. Namun, saat musim mudik seperti Hari Raya Lebaran datang, pendapatannya bisa meningkat dua kali lipat hingga ratusan ribu.

“Kalau hari biasa nih ya, Rp30 ribu ya dapat. Ini bulan puasa malah sepi, ya dapat Rp10 ribu saja sudah syukur. Nah beberapa hari lagi, kalau sudah ramai mau lebaran, Rp100 ribu. Apalagi kalau hari H-nya, saya dan suami mungkin bisa dapat Rp500 ribu,” terangnya.

Namun aktivitas ratusan warga penyapu koin receh di atas Jembatan Sewo tersebut sangat membahayakan, baik bagi pengendara ataupun warga sendiri karena akan rawan terjadinya kecelakaan serta dapat menimbulkan kemacetan.

Karena itu, Kapolsek Pusakanagara AKP Jusdi Jachlan menghimbau para warga yang menjadi penyapu koin untuk menghentikan aktivitasnya selama arus mudik dan balik Lebaran pada tahun 2022.

“Kami paham, aktivitas warga penyapu koin di atas Jembatan Sewo tersebut sudah merupakan tradisi budaya masyarakat setempat dalam mencari nafkah dengan cara mengais rezeki sebagai penyapu koin tersebut,” ujarnya yang dikutip dari Tribunjabar.

Dirinya juga menghimbau kepada para pengguna jalan, khususnya pemudik agar tak melempar uang receh saat melintasi Jembatan Sewo. Hal ini, jelasnya demi keselamatan bersama dan kelancaran arus mudik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini