Jalur Pantura Jawa, Ada Sejak Mataram Islam yang Jadi Favorit ketika Mudik

Jalur Pantura Jawa, Ada Sejak Mataram Islam yang Jadi Favorit ketika Mudik
info gambar utama

Meski pemerintah telah membangun jalan tol, namun Jalur Pantai Utara (Pantura) sepertinya tidak akan pernah sepi dari pemudik. Jalur ini selalu menjadi favorit dengan berbagai macam geliat warga yang tampak sepanjang jalan ini.

Jalur ini memang terus hidup sepanjang waktu. Geliat aktivitas warga tidak hanya terlihat dari hilir mudik kendaraan yang melintas, tetapi juga adanya warung, toko oleh-oleh, tempat makan, dan lainya yang ada di sepanjang jalur ini.

Istilah Pantai Utara Jawa Tengah pertama kali muncul dalam Majalah Indie dengan judul Een en Ander Over het Verkeerwezen in Noord-Midden Java (Satu dan Lain Hal tentang Pengangkutan di Pantai Utara Jawa Tengah) yang terbit pada April 1923.

Artikel ini dengan runtut menyajikan bahwa jalur transportasi Pantura yang berkembang pada abad 20, merupakan kelanjutan dari jalur transportasi pada masa-masa sebelumnya dengan perubahan arus utama transportasi darat.

“Jalan raya itu semula merupakan bagian dari jalan raya di pesisir utara Jawa yang merupakan bagian wilayah Kerajaan Mataram Islam,” tulis Endah Sri Hartatik dalam Dua Abad Jalan Pantura: Sejak Era Kerajaan Mataram Islam hingga Orde Baru.

Kenapa Indonesia Menggunakan Jalur Kiri di Jalan Raya?

Menurut Endah, Jalan Raya Pantura merupakan sarana mobilitas dan barang. Pada masa Mataram, jalan raya ini berfungsi untuk kepentingan konsolidasi kekuasaan antara wilayah pedalaman dan pesisir.

Jalan Raya Pantura ini juga sebagai media penghubung untuk diplomasi antara Mataram dengan utusan dalam dan luar negeri, seperti utusan VOC. Mataram juga berusaha mengontrol wilayah pesisir dengan menempatkan orang yang dipercayainya.

Karena itulah kunjungan wajib pada hari-hari pisowanan merupakan cara untuk mengontrol kesetiaan wilayah Pesisir tersebut. Dalam proses pengawasan ini sarana transportasi darat berupa jalan raya yang menghubungkan Mataram dengan pesisir diperlukan.

Jalan Raya Pantura juga menjadi sarana diplomasi antara orang Belanda dan Mataram. Hal ini terlihat dari cerita perjalanan Hendrick de Haen yang pada tahun 1621 menjadi duta VOC ke Mataram.

Diceritakan bahwa dia berangkat dari Batavia menuju Tegal menggunakan jalur laut. Sementara itu perjalanan dari Tegal menggunakan jalur darat. Dia menggunakan armada kuda untuk sampai ke Mataram.

Daerah pesisir tersebut kemudian secara bertahap jatuh ke tangan VOC sebagai imbalan atas bantuannya kepada raja-raja Mataram sepeninggal Sultan Agung. Di wilayah Pesisir Utara yang dikuasai VOC ini terdapat lalu lintas jalan raya, kelak jadi Jalan Raya Pantura.

Kisah kelam kerja paksa

Jalan Pantura yang sudah ada pada masa Kerajaan Mataram hingga masa VOC tersebut mengalami revitalisasi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Jalan Pantura ini menjadi bagian dari Jalan Raya Pos di Jawa.

Jalur Pantura dibangun pada masa Pemerintah Hindia Belanda dan dikenal dengan nama Groote Postweg atau jalan raya pos. Dahulunya jalur ini dikhususkan sebagai sarana pos informasi yang menghubungkan berbagai wilayah di pesisir Jawa.

Jalan ini dibangun membentang dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1.000 kilometer. Jalur Pantura juga dikenal sebagai jalan Daendels karena jalan ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Salah satu alasan terpenting pembangunan jalan raya itu adalah karena ekonomi, yaitu mengangkut produk pertanian terutama kopi di wilayah Priangan. Ketika itu Daendels memang sedang membangun pelabuhan alternatif di Cirebon dan Tegal.

Sejarah Hari Ini (25 September 1810) - Hari Jadi Kota Bandung

Pada 1808, dirinya mengumpulkan seluruh bupati di Pulau Jawa dan menugaskan mereka untuk membangun jalan yang akan melewati wilayah mereka. Sementara tenaga kerja yang dilibatkan berasal dari penduduk setempat dengan sistem kerja paksa.

Inisiasi Daendels untuk membangun Jalan Raya Pos – yang awalnya untuk menghubungkan Buitenzorg (Bogor) - Karangsambung– ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) tertanggal 5 Mei 1808.

Selanjutnya pembangunan dilanjutkan pada tahun 1809 dengan di mulai dari Anyer hingga menyusuri pesisir Pulau Jawa. Pemerintah Hindia Belanda berharap dengan adanya jalur ini, komoditi unggulan seperti kopi dapat didistribusikan ke pelabuhan dalam waktu singkat.

Namun ada kisah kelam di balik pembangunan Jalan Raya Pantura yaitu adanya sistem kerja paksa. Walau ada yang menyebut pembangunan ini tidak dapat disebut sebagai kerja paksa karena adanya upah kepada pekerja.

Direktur Jenderal Hindia Belanda pada saat itu menyiapkan upah untuk para pekerja, berupa uang, beras, dan garam. Namun, pemberian upah ini menjadi kabur karena tidak ada bukti sejarah apakah benar-benar sampai kepada para pekerja.

Hal yang pasti kekejaman dalam sistem kerja paksa ini menyebabkan pekerja tak sanggup bertahan hingga akhirnya meninggal dunia. Pramoedya Ananta Toer menyebutkan pembangunan jalan Anyer-Panarukan sebagai sebuah genosida.

“Hanya dalam waktu dua sampai tiga tahun pembangunan, jalan ini memakan korban hingga 12.000 jiwa.”

Transformasi jalur Pantura

Dampak yang ditimbulkan oleh proyek monumental Daendels tersebut pada awalnya hanya dapat dinikmati kelompok tertentu, antara lain kereta kuda pos milik pemerintah dan kereta kuda milik kaum bangsawan pribumi.

Namun, setelah dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) No.4 tertanggal 19 Agustus 1857, pedati milik rakyat diperbolehkan mengakses jalan raya tersebut. Sebelum SK itu keluar, rakyat biasa melewati jalan rusak yang ada di sisi Jalan Raya Pos.

Selain itu sebelum pembangunan Jalan Raya Pos, perjalanan dari Batavia sampai Surabaya pada musim kemarau ditempuh kurang lebih selama satu bulan. Akan tetapi, setelah jalan raya ini dibangun, perjalanan bisa ditempuh hanya 10 hari.

Dengan pembangunan jalur yang sekarang menjadi jalan nasional pun sangat membantu dalam mobilitas sosial dalam masyarakat. Karena adanya jalur ini, wilayah pedalaman pun bisa terhubungkan.

Sejarah Hari Ini (28 Januari 1807) - Daendels Dikirim ke Hindia Belanda

Geliat aktivitas dan perekonomian di Jalur Pantura terus berjalan hingga media 2000 an. Kendati sejak medio 1800 an, mendapatkan saingan berat yakni kereta api yang mulai dibangun di wilayah Jawa Tengah.

Pada 1930 an, migrasi penduduk di Pulau Jawa tidak terelakan. Kondisi inilah yang membuat selama kurun waktu 50 tahun, perkembangan Pantura semakin pesat sampai akhirnya terlihat pada tahun 1980.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti, kapan kemunculan istilah ‘Pantura’ untuk menamai jalan nasional ini. Tetapi menurut Endah, istilah ini baru muncul dalam wacana media massa pada penghujung tahun 1980 .

‘Pantura’ kemudian kerap ditampilkan dalam pemberitaan koran Kedaulatan Rakyat, Kompas, dan Suara Pembaruan yang merujuknya sebagai kawasan Pantai Utara Jawa dengan segala aktivitas perekonomian di pesisirnya.

Memang sejak 80 an, orientasi ekonomi Pulau Jawa berubah dari tanaman perkebunan menjadi tanaman pangan dan industrialisasi di pesisir pantai utara Jawa. Sudah tidak ada lagi bunyi gerobak kuda yang mengantar surat seperti fungsi awal jalan ini dibuat.

Suasana berganti deru knalpot truk, asap pekat bus lintas Jawa dan nada sumbang pengamen pada tiap lampu merah. Pantura kini jadi ikon memori kolektif masyarakat tiap kali mudik ke kampung halaman.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini