Jatiluwih, Desa Wisata dengan Pesona Alam dan Subak di Bali

Jatiluwih, Desa Wisata dengan Pesona Alam dan Subak di Bali
info gambar utama

Selain destinasi wisata alam dan budaya yang sudah ada, Bali juga tengah mengembangkan desa-desa yang punya potensi lebih untuk menjadi desa wisata. Sebelumnya kita sudah mengenal nama Desa Penglipuran yang terkenal karena kebersihannya dan Tenganan Pegringsingan dengan corak Bali kuno.

Kemudian, ada lagi desa wisata lain di Pulau Dewata yang tak kalah menarik yaitu Jatiluwih. Desa wisata itu disebut Kemenparekraf sebagai representasi dari pengembangan berbasis wisata berkelanjutan di Indonesia.

Desa Jatiluwih berada di lereng Gunung Batukaru yang merupakan salah satu Gunung tertinggi yang ada di Bali. Desa ini berlokasi di wilayah Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, dan telah dibentuk sejak tahun 1978. Berada di daerah dataran tinggi dan dikelilingi oleh pegunungan dan area pertanian, mata pencaharian sebagian besar penduduk desa adalah petani. Apa saja potensi wisata yang ada di Desa Jatiluwih?

Masjid Walima Emas dan Tempat Wisata Religi di Kota Serambi Madinah

Daya tarik Desa Jatiluwih

Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, nama Jatiluwih berasal dari kata jaton dan luwih. Jaton berarti jimat dan luwih artinya bagus. Sederhananya, nama desa ini diartikan sebagai sebuah desa dengan jimat yang benar-benar bagus.

Desa Jatiluwih terdiri dari dua desa adat dan tujuh banjar adat. Banjar adat merupakan bentuk himpunan masyarakat berdasarkan satu kesatuan lingkungan dan unsur pengikat warganya adalah batas wilayah teritorial sesuai dengan peraturan banjar adat yang berlaku (awig-awig).

Adapun desa adat yang dimaksud adalah Desa Adat Jatiluwih dan Desa Adat Gunungsari. Desa Adat Jatiluwih terdiri dari 5 banjar adat yaitu Kesambi, Kesambahan Kaja, Kesambahan Kelod, Jatiluwih Kawan, dan Jatiluwih Kangin. Sedangkan Desa Adat Gunungsari terdiri dari 2 banjar adat yaitu Gunungsari Umakayu dan Gunungsari Desa.

Karena berada di area pertanian, desa ini punya produk unggulan seperti kopi, durian, pisang, talas, jambu klutuk, dan ketela. Sedangkan untuk bidang peternakan ada sapi Bali, ayam petelur, babi, ayam buras, serta lele dan mujair di sektor perikanan.

Soal potensi pariwisata, Desa Jatiluwih mengedepankan wisata alam seperti sawah berundak atau terasering yang unik serta air terjun yang jernih. Selain itu ada pula pilihan wisata religi karena di sana banyak pura yang terbentang dari utara ke selatan, seperti Pura Taksu, Pura Batur, Pura Dukuh, Pura Ulun Siwi, Pura Luhur Kawitan Bhujangga Waisnawa, Pura Luhur Petali, dan Pura Sri Rambut Sedana.

Di desa ini juga ada atraksi manyi, dalam bahasa lokal berarti tanam padi, di mana wisatawan dapat mengikuti kegiatan menanam padi dengan menggunakan peralatan tradisional dan didampingi para petani setempat.

Dalam kunjungannya pada Senin (2/5/2022), Sesmenparekraf/Sestama Baparekraf, Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan bahwa Desa Jatiluwih merupakan representasi dari pengembangan pariwisata Indonesia di masa depan yaitu pariwisata yang berbasis keberlanjutan lingkungan.

"Kita bisa melihat destinasi ini mampu menunjukkan bahwa kita menekankan (pengembangan pariwisata berbasis) quality tourism dan sustainable tourism," jelasnya. Perlu diketahui bahwa sebelum pandemi, Desa Jatiluwih dikunjungi sekitar seribu wisatawan per hari. Namun, sejak pandemi kunjungan wisatawan menurun drastis. Kemudian, desa wisata ini mulai bangkit dan perlahan-lahan jumlah kunjungan terus meningkat sampai 400-500 orang per hari.

Idenberg, Danau Misterius di Kawasan Puncak Jaya Wijaya

Subak Jatiluwih

Desa Jatiluwih juga terkenal dengan subaknya. Bahkan, subak Jatiluwih telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO pada tahun 2012. Subak merupakan organisasi masyarakat petani di Bali yang secara khusus mengatur sistem irigasi sawah secara tradisional.

Keberadaan subak juga merupakan manifestasi dari filosogi Tri Hita Karana yang berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan. Penerapan konsep tersebut dalam sistem subak yaitu Parahyangan atau hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, Pawongan atau hubungan harmonis antara manusia dan sesama, juga Palemahan atau hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungan.

Dijelaskan I Gde Pitana, mantan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, bahwa penetapan tersebut berhasil didapatkan karena ada subak Jatiluwih masih asli dan asri jika dibandingkan subak lain di Bali yang sudah dibatasi beton.

Selain itu, varietas padi yang ditanam di subak Jatiluwih merupakan varietas lokal yaitu padi bali merah. Ditambah lagi subak yang satu ini punya pemandangan indah dan masih mengikuti aturan tradisional dalam melestarikannya.

Desa Jatiluwih terbagi menjadi dua wilayah Subak Abian yaitu Subak Abian Jatiluwih dan Subak Abian Gunungsari. Selain itu juga ada beberapa Subak Basah meliputi Kedamean, Besikalung, Kesambi, Uma Duwi, Gunungsari, Gunungsari Umakayu, dan Telabah Gede.

Menikmati Keindahan Alam Jambi dari 4 Desa Wisata Unggulan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini