Menapaki Alas Roban, Jalur Tengkorak yang Banyak Menyimpan Cerita Misteri

Menapaki Alas Roban, Jalur Tengkorak yang Banyak Menyimpan Cerita Misteri
info gambar utama

Seorang pemudik asal Bogor diinformasikan tewas karena menjadi korban kecelakaan di Alas Roban, Minggu (1/5/2022). Kecelakaan maut di Alas Roban itu melibatkan motor yang adu banteng dengan truk.

Pemudik asal Bogor itu tewas usai kecelakaan maut terjadi. Informasi kecelakaan maut di Alas Roban itu diinformasikan oleh akun Instagram @Batanghelp. Kecelakaan maut itu terjadi sekitar pukul 11.42 WIB.

“Bus baru saja keluar melewati Pos Luwes yang ada portalnya. Sepeda motor mengambil jalur kanan menyalip kendaraan lainnya tanpa melihat depan. Peristiwanya sangat cepat, sepeda motor sama bus langsung adu banteng,” ujar Sarif Mugianto, warga Desa Surodadi yang merupakan salah satu relawan di Pos Luwes yang dinukil dari Radar Semarang, Selasa (3/5/2022).

Korban mengalami luka parah dibagian kepala dan kaki kiri patah. Sepeda motor Yamaha Mio berplat F4458 EU yang dikendarai juga mengalami ringsek di bagian depan. Saat kejadian, langsung mengalami kritis dan sempat dibawa ke RSI Weleri.

“Korban meninggal dunia saat perjalanan menuju rumah sakit,” terangnya.

Jalur Alas Roban memang dikenal sebagai salah satu tempat yang angker. Jalur ini berupa tanjakan curam yang berada di Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), tepatnya di Kecamatan Gringsing.

Larangan Mudik pada Era Kemerdekaan, Karena Faktor Perang dan Permintaan Soekarno

Jalur ini cukup angker karena di sisi kanan dan kirinya dihiasi jajaran pohon jati yang tinggi menjulang. Tingginya angka kecelakan di Alas Roban ini membuat hutan yang masuk wilayah Batang dan Kendal ini kerap dijuluki jalur tengkorak.

Alas Roban memang hutan yang dibelah untuk menjadi jalur lalu lintas. jalurnya cukup ekstrim terdiri dari kelokan dan tanjakan tajam. Sejumlah rambu agar pengendara yang melintas berhati-hati dipasang di ruas jalan itu.

“Semoga selamat sampai tujuan, ingat berdoa,” demikian salah satu rambu yang terdapat di jalur Alas Roban.

Kini jalur Alas Roban memang tidak lagi jadi pilihan. Bukan karena cerita mistis menyeramkan yang jadi legenda. Namun karena sudah ada jalur tol bebas hambatan. Seorang sopir mengaku melewati Alas Roban bila tidak sedang buru-buru.

“Lewat Alas Roban kalau santai saja,” kata Anton yang dinukil dari CNN Indonesia.

Alas Roban dan cerita menyeramkan

Alas Roban merupakan rimba jati. Belantara yang tak luput jadi mega proyek ambisius Jalan Raya Pos semasa Daendels. Nama hutan ini pamor berlumur kisah mistis. Dari asal-usul namanya, Roban bermula dari kata ‘rob’ yang berarti air yang naik.

Kondisi geografis Alas Roban memang berada di pesisir pantai utara Jawa, sehingga akan rentan terendam ketika hujan atau volume air laut meningkat, banyak hutan basah di sekitar Alas Roban.

Sejarawan Arief Dirhamzah menyebut eksistensi Alas Roban telah ada sejak permulaan abad ke 17 era Kerajaan Mataram Islam. Alas Roban merupakan belantara yang dibuka sebagai tanah perdikan.

Pekerjaan membuka (babad) Alas Roban di bawah seorang Raja Pajang bernama Pangeran Benawa (berkuasa dari 1587-1588 M). Pangeran Benawa menyerahkan penugasan babad Alas Roban kepada Ki Bahurekso, seorang panglima dari Mataram.

Sekitar tahun 1605 diperkirakan wilayah Alas Roban mulai terbentuk area pemukiman dan persawahan. Bila semasa Mataram jadi tempat keramat, perwujudan Alas Roban menjadi angker ketika memasuki masa kolonial hingga era kemerdekaan.

Ini Dia, 8 Wilayah Aglomerasi yang Mendapat Izin Mudik Lokal Pada 6-17 Mei 2021

Alas Roban menjadi lokasi yang menyeramkan karena dua alasan yang kerap jadi kambing hitam. Pertama adalah pembantaian massal atas kerja paksa masa Daendels dan tempat pembuangan mayat korban penembak misterius (Petrus) di sekitar tahun 1980 an.

“Istilah angker atau tidak angker sebenarnya bergantung persepsi masyarakat. Tetapi dalam persepsi masyarakat. Jawa, tempat yang paling angker memang hutan,” ujar guru besar sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Warsino.

Endah Sri Hartatik dalam bukunya Dua Abad Jalan Raya Pantura mengatakan Alas Roban menyimpan kekhasan tersendiri. Hutan ini, katanya, menampilkan dua wajah yang akrab dengan masyarakat Indonesia, yakni klenik dan prostitusi.

Dalam penelitiannya, Endah membuktikan bahwa prostitusi hadir ketika pangkalan truk, tempat beristirahat pada sopir didirikan di sana. Soal keangkeran Alas Roban, Endah mengembalikannya kepada kepercayaan masyarakat.

Namun dirinya tidak menampik adanya kisah yang menyebut Alas Roban pernah menjadi ladang pembuangan mayat-mayat yang diduga ditembak pada masa rezim Orde Baru. Hal yang memang dirinya saksikan sendiri.

“Saya masih ingat, ketika pulang sekolah (SMA) waktu itu. Pagi-pagi ada mayat dalam karung goni, di dalamnya diselipkan uang untuk biaya penguburan, masyarakat sudah tahu itu,” ujar dia.

Slamet, seorang warga sekitar mengakui dahulu sering ditemukan mayat di sekitar Alas Roban. Istrinya juga menambahkan, sekitar tahun 1980 an, dirinya sering mendengar suara tembakan di dalam hutan Alas Roban.

Jalur yang terlupa

Dari dua peristiwa tersebut, muncul adanya dugaan arwah para korban kerja paksa hingga peristiwa Petrus ini bergentayangan dan menghantui siapapun yang melintasi Jalur Alas Roban.

Tidak heran banyaknya kecelakaan yang dialami para pengemudi saat melintas jalur angker ini dihubungkan dengan cerita mistis. Kecelakaan lalu lintas ini dianggap sebagai tumbal atau bentuk balas dendam arwah-arwah penasaran dari korban tersebut.

Namun sebenarnya kecelakaan yang kerap terjadi di Alas Roban ini bisa dijelaskan secara logika dan tidak berkaitan dengan label angker. Pasalnya jalur Alas Roban memiliki kontur jalan yang sangat curam dengan banyak tikungan serta turunan tajam.

Selain itu, jalur ini minim dengan fasilitas penerangan. Sehingga saat malam hari, pengemudi harus menyalakan lampu sorot jarak jauh. Karena itu secara teknis, hal tersebut sangat berbahaya.

Maka dari itu, tidak heran banyak kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di jalur Alas Roban. Kemungkinan hal ini disebabkan keteledoran sopir atau pengendara saat mengemudi yang tidak memperhatikan kecepatan kendaraan.

Sebagai salah satu jalur Pantai Utara (Pantura), jalur Alas Roban juga dikenal dengan kemacetannya. Kemacetan ini menjadi salah satu faktor terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalur tersebut.

Menilik Kembali Tradisi Mudik Zaman Dahulu

Guna mengurangi resiko kecelakaan, pemerintah telah membuat jalur alternatif di kawasan Alas Roban yang dikenal dengan jalur lingkar utara dan selatan. Jalur utara biasa digunakan untuk pengemudi kendaraan pribadi sedangkan jalur selatan dimanfaatkan truk.

Menurut Slamet, wajah Alas Roban pernah berubah setelah pembangunan dua jalur alternatif ini. Volume kendaraan yang melintas semakin banyak setelah pembangunan jalur alternatif tersebut.

“Tadinya satu jalur berkelok, sekarang jadi tiga. Padang Roban,” kata Slamet.

Tetapi setelah munculnya tol Trans Jawa, kondisi kembali seperti pada masa lalu. Hutan Alas Roban kembali senyap. Katanya, monyet-monyet yang sempat menghilang dari jalur ini kembali lagi.

“Padahal dahulu pas dibangun sempat nggak ada, tetapi sekarang ada lagi. Saking sepinya, monyet-monyet muncul lagi,” kata Slamet.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini