Ajarin, Platform Edukasi untuk Tingkatkan Kualitas Tenaga Pendidik

Ajarin, Platform Edukasi untuk Tingkatkan Kualitas Tenaga Pendidik
info gambar utama

Selain kesehatan dan perekonomian, kondisi pandemi Covid-19 juga berpengaruh pada dunia pendidikan. Dengan adanya kebijakan untuk membatasi kerumunan dan kegiatan di luar rumah, para siswa dan tenaga pendidik pun harus cepat beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi digital demi kelancaran proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan adalah belum semua masyarakat paham betul bagaimana pemanfaatan teknologi, khususnya untuk kegiatan belajar-mengajar yang selama ini umumnya dilaksanakan dengan tatap muka.

Berangkat dari persoalan tersebut, tiga mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam Tim Toudy mengembangkan sebuah platform untuk membantu para tenaga pengajar agar lebih mahir dalam menggunakan teknologi dan dapat melakukan kegiatan mengajar dengan lebih efektif.

Hanya Satu di Indonesia, Mengenal Prodi Magister Laboratorium Klinis yang Ada di UNIMUS

Platform buatan mahasiswa ITS

Ajarin | Dok. ITS
info gambar

Platform bernama Ajarin buatan mahasiswa ITS tersebut bisa dibilang termasuk wadah untuk kegiatan edukasi dan meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Tim mahasiswa yang tergabung dalam pengembangan Ajarin adalah Daniel Hermawan, Christopher Marcelino Mamahit, dan Adifa Widyadhani Chanda.

Ketiga mahasiswa angkatan tahun ajaran 2020 itu merancang platform berbasis web yang harapannya dapat mendukung dunia pendidikan di tengah kondisi pandemi.

Dijelaskan Daniel sebagai ketua tim bahwa situs Ajarin akan melibatkan berbagai pihak terkait seperti guru dan dosen yang masih merasa kesulitan beradaptasi pada sistem pembelajaran digital.

“Kami berpikir bahwa Ajarin bisa menjadi solusi sekaligus sarana yang baik bagi para tenaga pendidik serta masyarakat dalam belajar untuk mengajar, tanpa adanya kontak langsung,” jelasnya.

Ajarin memiliki banyak layanan yang dapat diakses pengguna agar proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik. Untuk jenis layanannya termasuk kursus daring, webinar, video pendek, alat mengajar, dan komunitas Ajarin. Tentunya desain tampilan juga dirancang sedemikian rupa agar ramah pengguna dan mudah digunakan.

Pada layanan kursus daring dapat dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi yang lebih interaktif antara para pengguna, yaitu tenaga pendidik dengan orang yang lebih ahli di bidangnya. Kursus daring ini akan membahas lebih rinci mengenai teknik penggunaan Zoom, Canva, dan sebagainya pada sesi masing-masing. Kemudian untuk webinar, pengguna dapat mengikuti materi yang lebih umum tentang pembelajaran daring.

Pengguna juga bisa mengakses layanan video pendek yang menjadi solusi bagi tenaga pendidik yang ingin belajar tetapi tidak punya waktu untuk mengikuti kursus atau webinar. Video pendek yang ada di Ajarin berisi tentang tips penggunaan aplikasi untuk mendukung proses pembelajaran dan materinya mudah dipahami.

Pada halaman web juga sudah terhubung dengan alat mengajar sehingga pengguna tidak perlu membuka aplikasi lain seperti Zoom dan Canva untuk mengaplikasikan langsung hasil pembelajaran. Pengguna tinggal masuk ke aplikasi dari halaman alat belajar yang diinginkan.

Selain itu Ajarin juga memiliki layanan komunitas yang berisi data dan informasi yang bisa ditanyakan kepada sesama pengguna lain. Di dalam layanan ini pengguna dapat memperluas relasi dan menambah pengalaman sehingga pengetahuan tidak terbatas pada apa yang dipelajari di web, tetapi juga dari sesama pengguna.

Daniel pun mengungkapkan harapannya agar platform Ajarin dapat membantu mendukung dunia pendidikan di masa pandemi dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Tidak Tamat SD, Haerul Buktikan Pesawat Buatannya Layak Terbang

Tantangan dunia pendidikan di masa pandemi

Dalam survei yang dilakukan pada rentang waktu 5 - 8 Agustus 2020 terkait pendidikan daring di masa pandemi, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan bahwa 92 persen peserta didik mengalami banyak masalah dalam mengikuti pembelajaran daring. 89 persen di antaranya mengaku masih melakukan pembelajaran daring sedangkan 13 persen lainnya tidak belajar.

Pembelajaran daring di Indonesia memang mengalami banyak tantangan nyata. Antara lain adanya ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, keterbatasan guru dalam memanfaatkan aplikasi pembelajaran, keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan seperti internet dan kuota, serta relasi antara guru, murid, dan orang tua belum integral.

Media pembelajaran daring seperti ponsel pintar, laptop, dan komputer juga belum bisa diakses semua siswa dan guru. Ditambah lagi, proses belajar juga membutuhkan internet dengan biaya cukup tinggi dan siswa yang tinggal di pedesaan atau daerah terpencil bahkan sulit mengakses internet karena keterbatasan jaringan. Persoalan ini pada akhirnya menjadi tantangan besar bagi proses belajar-mengajar di masa pandemi.

Baik pelajar dan tenaga pendidik sama-sama beradaptasi dengan proses pembelajaran yang baru. Para siswa didorong untuk lebih kreatif dalam mengakses sumber pengetahuan, berkarya, dan mengasah wawasan. Sedangkan para pendidik harus bisa mengajar jarak jauh, mempelajari pembuatan bahan ajar daring, mengajar dengan memanfaatkan teknologi, dan membuat proses belajar daring menjadi lebih efektif.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini