Kisah Pulau Onrust, Tempat Tukang Kapal Terbaik di Dunia pada Masa Lampau

Kisah Pulau Onrust, Tempat Tukang Kapal Terbaik di Dunia pada Masa Lampau
info gambar utama

Pulau Onrust merupakan sebuah pulau yang termasuk ke dalam wilayah perairan Kepulauan Seribu. Agar dapat memijakkan kaki ke Pulau Onrust pada masa sekarang cukup pergi ke pelabuhan seperti Marina Ancol, Muara Angke serta Muara Kamal.

Dari ketiga pelabuhan tersebut yang paling dekat dengan Pulau Onrust adalah Pelabuhan Muara Kamal. Dengan menggunakan perahu tradisional Pulau Onrust dapat dicapai dalam waktu antara 15-20 menit.

Masyarakat setempat menyebut Pulau Onrust dengan sebutan pulau kapal, hal itu dikarenakan dari kebiasaan dari pertengahan abad 17 sampai abad 18, sehingga masyarakat lokal seperti nelayan menamakan pulau tersebut demikian.

Sedangkan bangsa Belanda menamakannya sesuai dengan keadaan pulau tersebut yang selalu sibuk dengan aktivitas bongkar muat dan tidak pernah berhenti. Onrust terdiri dari dua suku kata on dan rust yang berarti tanpa istirahat.

Sebelum abad ke 17, Pulau Onrust digunakan sebagai tempat peristirahatan raja-raja Banten. Daerahnya yang sejuk dan pepohonan yang rindang membuat para petinggi Kerajaan Banten sangat menyenangi pulau ini.

Berkah Sungai Hadirkan Peradaban Kuliner bagi Masyarakat Betawi

“Maka tak salah jika raja-raja Banten menggunakan pulau ini sebagai tempat peristirahatan,” tulis sejarawan Asep Kambali dalam artikel bertajuk Taman Arkeologi Onrust: Melacak Jejak Sejarah Kolonial di Teluk Jakarta.

Perkembangan di Pulau Onrust mulai terjadi antara tahun 1644 sampai 1772. Di tahun-tahun tersebut VOC gencar membangun berbagai infrastruktur yang menunjang aktivitas mereka, baik perdagangan, diplomasi, hingga kolonialisasi.

Pada tahun 1656, sebuah benteng dibangun untuk menghadang serangan dari Kerajaan Banten. Enam tahun setelahnya, benteng ini diperkokoh dengan dua buah selekoh (bastion) baru, yakni Beekhuis dan Town Punt untuk menghadapi gempuran dari Prancis.

Tukang kapal terbaik

Pada tahun 1668, sebuah galangan dibangun di bagian barat daya pulau ini. Dibantu dua buah derek yang dibangun di tempat yang sama, galangan ini digunakan untuk mendaratkan kapal.

Selain itu, sebuah dermaga kayu juga dikonstruksi agar kapal-kapal besar juga bisa bersandar ke pulau ini. Gudang-gudang penyimpanan untuk keperluan ekspor pun mulai bermunculan.

“Mulai dari lada, timah, kopi, gula, sayuran, barang-barang kelontong, dan beras sudah tersedia di gudang-gudang tersebut,” tulis Endi Aulia Garadian dalam artikel Pulau Onrust: Bengkel, Pemukiman, dan Orang Sakit.

Endi menyebut pulau ini juga dikenal sebagai bengkel kapal terbaik pada masanya. Berbagai bangsa datang ke Pulau Onrust untuk mereparasi kapal-kapalnya sebelum melanjutkan perjalanan.

Fungsinya ucap Endi seperti Kota Water 7 dalam serial manga terkenal karangan Eiichiro Oda, One Piece. James T Cook memuji pulau ini sebagai yang terbaik di seluruh wilayah timur. Kapal Cook, Endeavor juga diperbaiki di pulau ini pada 1770.

"Tidak ada galangan kapal laut di seluruh dunia yang lebih baik daripada di Batavia." tulis Cook.

Kampung Akuarium, Jejak Laboratorium Oseanografi Terbesar di Asia Tenggara

Adolf Hauken juga mengungkapkan dalam bukunya Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (2007) yang dimuat di VOI bahwa para tukang kayu di Onrust dapat memperbaiki segala macam kapal.

"Baik Dhow Arab, Oostindievaarders Belanda, Bark Inggris, dan Junk Tionghoa."

Karena itu tulis Adolf, seorang kepala tukang di Onrust bernama Baas van Onrust hidup bagaikan seorang pangeran. Layaknya pejabat tinggi di Batavia, Baas saat itu memperkerjakan para tukang yang ditempatkan di bawah kuasanya.

Namun, pada 1803 dan 1806, Pulau Onrust terkena serangan oleh Inggris sebanyak dua kali. Banyak bangunan hancur karena serangan ini. Sampai 1824, pulau ini sempat ditelantarkan oleh Belanda.

Kemudian oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Godert van der Capellen (1816-1826), Pulau Onrust kembali dibangun. Pembangunanya terus tumbuh pesat dengan dipulihkannya fungsi pelabuhan pada 1848.

Tempat tinggal untuk orang Belanda pun semakin bertambah banyak. Gereja juga bisa ditemukan di Pulau Onrust kala itu. Hal ini juga berdampak pada sedikitnya lahan kosong di pulau tersebut.

Bahkan, kata Endi, pulau yang awalnya berfungsi sebagai bengkel mulai kehilangan bengkelnya satu demi satu. Dermaga kayu mulai disulap dengan batu bata. Di tahun itu, Onrust menjadi tempat kecil yang penuh kesibukan.

Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 kembali menghancurkan bangunan-bangunan yang telah dibangun oleh Belanda. Ketika itu gelombang laut menghancurkan pangkalan angkatan laut Kolonial Belanda di Pulau Onrust.

“Dahsyatnya erupsi katastropik Gunung Krakatau 27 Agustus 1883 memicu tsunami yang menerjang Pulau Onrust yang merupakan bagian gugus pulau di Kepulauan Seribu. Sejak 1848 Pulau Onrust difungsikan pemerintah Kolonial sebagai Pangkalan Angkatan Laut, namun sarana ini rusak berat diterjang tsunami 1883,” tulis Kepala Bidang Mitigasi dan Tsunami pada BMKG Daryono.

Pulau yang ditinggalkan

Pada 1911, Pulau Onrust kembali dibangun. Lagi-lagi pulau ini beralih fungsi. Pada pembangunan tahun itu, pulau tersebut bertransformasi menjadi tempat karantina orang-orang yang sakit lepra.

Sebagai tempat karantina, beberapa fasilitas penunjang turut dibangun. Mulai dari rumah dokter, rumah bidang, gudang, kantor, hingga barak dibangun agar fasilitas karantina ini bisa berfungsi maksimal.

Pada era selanjutnya, Pulau Onrust berubah fungsi dan digunakan sebagai karantina haji hingga tahun 1933. Pelaksanaan karantina haji ini merupakan suatu kekhawatiran dari pemerintah kolonial Belanda terhadap gerakan Pan Islamisme.

Biasanya orang-orang yang pergi melaksanakan ibadah haji akan bertahan di Tanah Arab paling sedikit 3 bulan. Kesempatan ini digunakan untuk belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka di Timur Tengah.

M.H Thamrin, Politisi Betawi Pejuang Masyarakat Miskin Perkotaan

Kekhawatiran pemerintah Hindia Belanda ini ternyata berbuah kenyataan. Hampir semua pimpinan perlawanan di Hindia Belanda adalah mereka yang telah menunaikan ibadah haji, seperti KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya.

Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda mengalihkan fungsi Pulau Onrust dari tempat karantina haji menjadi tempat tahanan politik. Tahanan pertama yang menghuni bekas barak tersebut adalah pemberontak di Kapal Zeven Provincien.

Pulau Onrust juga pernah menjadi tempat untuk menahan orang-orang Jerman di Hindia Belanda pada zaman Perang Dunia II. Mereka ditempatkan dalam barak-barak yang dahulu digunakan untuk para tahanan pemberontak di Kapal Zeven Provincien.

Setelah Indonesia merdeka, Pulau Onrust dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, di antaranya sebagai Rumah Sakit Menular (1950-1960), tempat penampungan para gelandangan dan pengemis (1960-1965), dan tempat latihan militer.

Memasuki tahun 1968, Pulau Onrust mulai ditinggalkan penghuninya dan mengalami penjarahan material bangunan secara besar-besaran oleh masyarakat sekitar. Karena itu pemerintah menetapkannya sebagai pulau bersejarah yang dilindungi.

Sampai sekarang, kata Endi, Onrust tidak ayalnya sebagai Jurassic Park yang hanya menyisakan puing-puing. Bekas bangunan tua terhampar di sana-sini, menguak memori tentang kehidupan manusia di Pulau Onrust yang telah berubah-ubah.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini