Mengintip Koleksi Unik Museum Rumah Adat Baanjuang Bukitinggi

Mengintip Koleksi Unik Museum Rumah Adat Baanjuang Bukitinggi
info gambar utama

Suku Minangkabau merupakan suku asli Indonesia yang terletak di Sumatera Barat. Suku Minangkabau memiliki banyak tradisi yang menarik.

Minangkabau merupakan salah satu suku asli Indonesia yang masyarakatnya mendiami Sumatra Barat, tetapi juga sebagian meliputi Riau, Bengkulu, Jambi, Aceh, dan Sumatra Utara. Termasuk salah satu suku dengan populasi terbanyak di Indonesia, orang Minang juga dikenal dengan kebudayaannya yang begitu kental.

Masyarakat Minang merupakan pemeluk agama Islam dan dikenal dengan konsep matrilineal, di mana adat dan budayanya menempatkan perempuan sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan, serta memiliki kedudukan istimewa sehingga dijuluki dengan sebutan Bundo Kanduang juga disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang atau pilar utama rumah.

Orang Minang juga memiliki tiga pilar dalam menjaga keutuhan budaya serta adat istiadatnya yaitu alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak. Ketiganya yang disebut Tungku Tigo Sajarangan saling melengkapi dan semua urusan masyarakat akan dimusyawarahkan oleh ketiga unsur tersebut.

Salah satu tempat yang dijadikan wadah pelestarian budaya Minangkabau adalah Museum Rumah Adat Baanjuang. Museum rumah adat ini dapat menjadi tujuan wisata sekaligus edukasi untuk mengenal budaya Minangkabau lebih jauh.

Pesona Pulau Sempu yang Penuh Keindahan Tapi Terlarang Bagi Wisatawan

Koleksi museum

Caption
info gambar

Museum Rumah Adat Baanjuang berlokasi di kompleks Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan di Jalan Cindur Mato, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Museum seluas 2.798 meter persegi ini dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi dan telah didirikan sejak 1 Juli 1935.

Pendirinya adalah Mondelar Countrolleur yang berkebangsaan Belanda. Tujuan dibangunnya museum ini untuk mengumpulkan benda-benda sejarah dan budaya terkait Tanah Minang. Pada awalnya museum ini bernama Museum Bundo Kanduang kemudian tahun 2005 berganti nama menjadi Museum Rumah Adat Baanjuang berdasarkan ketentuan pemerintah daerah.

Museum tersebut memiliki bangunan rumah tradisional yaitu rumah gadang yang sebagian besar bahan bangunannya masih dibuat dari ijuk, kayu, dan bambu, serta di area halamannya terdapat rangkiang atau lumbung padi khas Minangkabau.

Dijelaskan ahli budaya Silvia Devi, jumlah koleksi Museum Rumah Adat Baanjuang sebanyak 600 benda kuno yang terbagi dalam beberapa kategori seperti miniatur arsitektur tradisional, pakaian adat, perlengkapan rumah tradisional, kesenian, etnografika, dan numismatika.

Pada koleksi miniatur arsitektur tradisional, pengunjung dapat melihat surau (tempat ibadah), rumah gadang bangsawan, rumah gadang untuk masyarakat biasa, balairung (balai desa), dan lapau. Selain itu, ada pula koleksi pakaian adat mulai dari busana pengantin, pakaian adat sehari-hari, busana resmi, songket, peci, saluak, perhiasan, dan berbagai aksesori pendukung penampilan. Uniknya, koleksi pakaian adat ini tak hanya dipamerkan di museum, tetapi juga bisa disewa oleh pengunjung untuk berfoto dengan menggunakan baju adat.

Beralih ke koleksi perlengkapan rumah tangga tradisional, pengunjung dapat melihat benda-benda antik yang dibuat dari bahan kuningan, keramik, dan dihiasi ukiran khas Minangkabau. Benda-benda tersebut memang digunakan oleh orang Minang sehari-hari mulai dari alat memasak hingga perlengkapan makan.

Ada pula koleksi perlengkapan yang berhubungan dengan mata pencahariaan yaitu bertani, mencari ikan, berburu, dan peralatan pertukangan. Bahkan peralatan perang berupa senjata tradisional yang dipakai orang Minang zaman dahulu dalam melawan kolinial Belanda. Pengunjung juga bisa membayangkan bagaimana gambaran kehidupan masa lalu dengan peralatan sederhana.

Di Museum Rumah Adat Baanjuang juga ada peralatan kesenian seperti tari, musik, beladiri, benda-benda peninggalan sejarah, hingga pelaminan khas pengantin Minang. Selain iut juga ada naskah-naskah kuno, termasuk buku-buku yang diketik dengan mesin tik dan Al-Qur'an.

Untuk koleksi lain yang terbilang unik adalah hewan-hewan yang telah diawetkan. Anda bisa melihat koleksi hewan yang memiliki kekurangan fisik, misalnya kambing bermuka dua, harimau dan kerbau dengan dua kepala, kerbau yang punya delapan kaki, dan sebagainya. Sebagian besar hewan tersebut berasal dari sisa-sisa fosil di kebun binatang Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Dari museum, pengunjung juga bisa melanjutkan aktivitas liburan di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang juga dikenal dengan nama Kebun Binatang Bukittinggi karena masih di area yang sama. Kebun binatang ini merupakan salah satu yang tertua di Indonesia dan koleksi hewannya pun terlengkap di Sumatra. Di area ini juga ada Museum Zoologi, Jembatan Limpapeh, dan objek wisata benteng Fort de Kock yang dibangun tahun 1830 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda sebagai benteng pertahanan Belanda dalam terhadap perlawanan rakyat. Keberadaan benteng ini juga tidak dapat terpisahkan dari sejarah Perang Paderi pada 1803-1838.

Jatiluwih, Desa Wisata dengan Pesona Alam dan Subak di Bali

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini