Post Holiday Blues, Kondisi Negatif Setelah Liburan yang Wajib Dihindari

Post Holiday Blues, Kondisi Negatif Setelah Liburan yang Wajib Dihindari
info gambar utama

Setelah melalui libur panjang lebaran selama lebih dari satu pekan, sebagian besar masyarakat Indonesia tepat di hari ini, Senin (9/4/2022) mulai kembali ke rutinitas harian baik sekolah, bekerja, atau aktivitas lainnya. Bagi beberapa kalangan, bahkan ada yang sudah mulai bekerja lebih awal tak lama setelah hari utama lebaran berlalu.

Bisa diduga sejak Minggu (8/4) sore, tak sedikit sejumlah kalangan yang merasa berat menghadapi hari Senin, lebih dari biasanya. Bukan sekadar rasa berat atau malas biasa dalam menghadapi keharusan untuk kembali beraktivitas secara normal, dalam dunia medis kondisi tersebut rupanya memiliki istilah sendiri, yakni Post Holiday Blues.

Diyakini oleh para ahli berhubungan dengan kondisi mental yang dapat memengaruhi kegiatan sehari-hari, ini penjelasan mengenai post holiday blues dan hal apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Revenge Travel, Fenomena Liburan Balas Dendam untuk Memuaskan Hasrat Berwisata

Tak rela berpisah dengan libur panjang

Ilustrasi liburan
info gambar

Momen liburan kali ini bisa dibilang sebagai kesempatan libur terpanjang yang kembali dimiliki masyarakat Indonesia untuk pertama kalinya, semenjak pandemi melanda. Sebelumnya dalam dua tahun terakhir, kebijakan cuti bersama ditiadakan dan masyarakat hanya bisa mendapatkan libur lebaran selama 1-2 hari utama.

Karena itu, tak heran jika pada kesempatan liburan kali ini semuanya terasa begitu istimewa. Hampir semua orang menyiapkan rencana berlibur yang padat agar waktu dan kesempatan yang dipunya bisa termanfaatkan dengan baik.

Namun siapa sangka, kondisi itulah yang nyatanya menuntun kepada kondisi post holiday blues. Mengutip Halodoc, post holiday blues adalah suatu kondisi di mana seseorang merasa sedih dan tidak bisa menerima kenyataan berpisah dengan momen liburan.

Lebih lanjut, semakin panjang usia atau masa liburan maka semakin sulit pula seseorang untuk kembali memulai aktivitas harian, menjadi malas, dan cenderung masih memiliki keinginan untuk bersantai atau bersenang-senang.

Hal tersebut terjadi lantaran otak manusia secara otomatis telah merekam hal-hal yang menyenangkan selama liburan, dan merangsang otak untuk beristirahat. Dengan kata lain, ketika dihadapkan dengan keharusan untuk kembali bekerja, secara tak sadar otak atau pikiran seseorang menjadi ‘kaget’ saat harus kembali menyesuaikan dan melakukan aktivitas harian.

Bagi beberapa kalangan kondisi satu ini mungkin terdengar biasa, dan nyatanya memang bisa diatasi setelah melalui beberapa hari penyesuaian. Namun bagi sebagian kalangan lainnya, kondisi yang sama justru dapat menimbulkan sejumlah gejala ringan hingga serius seperti sakit kepala, kesulitan tidur di malam hari atau insomnia, gelisah, hingga penambahan atau penurunan berat badan.

Liburan Tak Jauh dari Rumah, Ini 5 Alasan Staycation Patut Dicoba

Gejala dan cara mengatasi post holiday blues

Laman medis Very Well Mind, di lain sisi mengungkap beberapa gejala yang bisa mengindikasikan jika seseorang mengalami post holiday blues. Meski tidak semuanya dialami secara sama oleh masing-masing orang, namun mereka meyakini jika sejumlah gejala negatif ini tidak akan berlangsung dalam waktu lama.

Adapun beberapa gejala yang dimaksud terdiri dari:

  • Merasa cemas dan frustasi berlebih,
  • Merasa tidak memiliki motivasi,
  • Memiliki suasana hati yang cenderung buruk,
  • Mudah tersinggung,
  • Mengalami gangguan tidur,
  • Mengalami kekhawatiran tentang materi (uang), dan
  • Melamun atau merenung secara berlebih.

Meski diyakini hanya terjadi selama sebentar atau rata-rata berlangsung selama seminggu setelah melalui momen liburan panjang, namun ada juga beberapa kalangan yang mengalami kondisi satu ini dalam kurun waktu yang berbeda.

Karena itu, terdapat beberapa cara yang biasanya perlu dilakukan untuk mengatasi kondisi post holiday blues secara lebih cepat.

Masih menurut sumber yang sama, salah satu cara untuk menghindari rasa ‘kaget’ atau transisi yang mengejutkan dari liburan menuju rutinitas bekerja bisa dilakukan dengan cara ‘mencicil’ pekerjaan atau aktivitas harian secara ringan, pada satu atau dua hari sebelum waktu rutinitas harian benar-benar dimulai.

Misal, jika waktu kembali bekerja setelah libur panjang dilakukan pada hari Senin, upaya untuk mencicil pekerjaan dan rutinitas harian bisa dimulai secara perlahan dan ringan sejak hari Sabtu sebelumnya. Namun bukan hanya itu, ada juga beberapa cara yang tak kalah penting dan diyakini ampuh untuk menghadapi perubahan kegiatan yang sangat berbanding terbalik.

Beberapa cara yang dimaksud di antaranya beristirahat yang cukup, memenuhi asupan makanan yang sehat untuk menjaga daya tahan dan kesehatan tubuh, serta memancing sejumlah hormon yang dapat menimbulkan rasa semangat dengan melakukan olahraga ringan sebelum beraktivitas.

Hari Tidur Sedunia: Kenali Dampak Kekurangan dan Kelebihan Tidur Bagi Kesehatan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini