Lupus, Penyakit Autoimun yang Belum Ada Obatnya

Lupus, Penyakit Autoimun yang Belum Ada Obatnya
info gambar utama

Setiap tahunnya, Hari Lupus Sedunia diperingati pada tanggal 10 Mei dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit lupus yang bisa terjadi pada semua bangsa, ras, etnis, jenis kelamin, dan usia.

Lupus eritematosus sistemik (SLE) atau yang biasa disebut lupus saja merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan dan nyeri di seluruh tubuh.

Menurut The Johns Hopkins Lupus Center, sekitar 1 dari 2.000 orang di Amerika Serikat menderita lupus, dan 9 dari 10 diagnosis terjadi pada wanita. Gejala awalnya dapat terjadi pada masa remaja dan meluas ke orang dewasa di usia 30-an. Diketahui figur publik ternama seperti Lady Gaga dan Selena Gomez juga berjuang dengan kondisi lupus.

Di Indonesia, jumlah penderita lupus belum diketahui secara pasti. Prevalensi SLE di masyarakat berdasarkan survei yang dilakukan Prof. Handono Kalim, dkk di Malang memperlihatkan angka sebesar 0,5 persen tehadap total populasi.

Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online, pada 2016 terdapat 2.166 pasien rawat inap yang didiagnosis penyakit lupus dengan 550 pasien di antaranya meninggal dunia. Tren ini meningkat dua kali lipat jika dibandingkan tahun 2014 dengan ditemukannya 1.169 kasus baru. Disebutkan bahwa sebagian pasien dengan lupus adalah wanita dari kelompok usia produktif (15-50 tahun), akan tetapi lupus juga dapat menyerang laki-laki, anak-anak, dan remaja.

Dalam rangka memperingati Hari Lupus Sedunia, ada baiknya kita memahami penyakit ini lebih lanjut untuk memahami bagaimana lupus dapat terjadi dan perawatan apa yang dapat dilakukan jika Anda atau orang terdekat mengalaminya.

Post Holiday Blues, Kondisi Negatif Setelah Liburan yang Wajib Dihindari

Memahami kondisi lupus

Lupus | @korn ratchaneekorn Shutterstock
info gambar

Penjelasan sederhana mengenai lupus ialah ketika sistem kekebalan tubuh Anda menyerang jaringan dan organ Anda sendiri (penyakit autoimun). Peradangan yang disebabkan oleh lupus dapat memengaruhi banyak sistem tubuh yang berbeda, termasuk persendian, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung, dan paru-paru.

Lupus termasuk penyakit yang cukup sulit terdeteksi karena tanda dan gejalanya seringkali mirip dengan penyakit lain. Namun, tanda paling khas dari penyakit ini adalah munculnya ruam di wajah menyerupai sayap kupu-kupu yang membentang di kedua pipi. Ruam kupu-kupu ini terjadi pada banyak kasus, tetapi tidak semua mengalaminya. Ruam juga bisa muncul sebagai bercak berbentuk cincin pada bagian lengan, kaki, dada, leher, punggung atas, wajah, dan bahu.

Untuk gejala lupus juga berbeda setiap orang, tetapi yang paling umum terjadi adalah demam tinggi, sendi pegal, kelelahan parah, ruam kulit, pergelangan kaki bengkak, nyeri dada saat bernapas, rambut rontok, sensitif terhadap cahaya matahari, luka pada mulut dan hidung, jari tangan dan kaki pucat atau ungu saat kedinginan atau stres, mulut dan mata kering, sakit perut, kejang, hingga masalah paru-paru, ginjal, dan pencernaan.

Lupus juga menyebabkan rasa sakit dan nyeri yang luar biasa, serta komplikasi serius pada organ utama Anda. Karena lupus adalah penyakit autoimun, kondisi ini menyebabkan tubuh Anda menyerang dirinya sendiri dan dapat menyebabkan kerusakan organ dari waktu ke waktu.

Selain ruam, odapus (orang dengan lupus) juga mengalami masalah dengan kerontokan rambut dan sariawan. Selain itu, ada kemungkinan mengalami pengurangan jumlah sel darah merah dan sel darah putih. Perubahan dalam jumlah berbahaya dapat menyebabkan gejala kelelahan, infeksi serius, dan tubuh mudah memar. Odapus juga rentan mengalami gumpalan di kaki, paru-paru, dan otak akibat pembekuan darah.

Masalah sendi juga umum terjadi, mungkin dengan rasa sakit, kekakuan, pembengkakan, dan rasa tidak nyaman untuk beraktivitas. Lupus juga menyerang ginjal dan berpotensi mengancam nyawa. Masalah ginjal dapat menjadi jelas ketika pasien lupus merasa sakit radang sendi, mengalami ruam, demam dan penurunan berat badan.

Untuk masalah pada jantung dan paru-paru sering disebabkan oleh peradangan pada penutup jantung (perikardium) dan paru-paru (pleura). Ketika struktur ini meradang, Anda mungkin mengalami nyeri dada, detak jantung tidak teratur dan penumpukan cairan di sekitar paru-paru serta jantung.

Mengapa lupus terjadi

Sebenarnya apa penyebab lupus tidak diketahui secara pasti. Namun, para ahli berpikir ada sesuatu atau kombinasi yang memicu sistem kekebalan tubuh. Kemungkinannya termasuk kombinasi genetika dan lingkungan seperti paparan sinar matahari, asap rokok, virus, infeksi, dan konsumsi obat-obatan tertentu, misalnya beberapa jenis obat tekanan darah, obat anti kejang, dan antibiotik.

Hanya ada sedikit bukti bahwa gen tertentu secara langsung menyebabkan lupus, tetapi beberapa gen tampaknya meningkatkan risiko penyakit tersebut. Namun, jelas bahwa gen saja tidak cukup untuk menyebabkan penyakit. Bahkan pada kembar identik (yang memiliki gen identik) di mana satu kembar menderita lupus, kembaran lainnya hanya sekitar 30 persen lebih mungkin mengembangkan penyakit ini.

Kemungkinan lain adalah hormon. Ini yang membuat lupus lebih sering terjadi pada wanita dan gejalanya tampak meningkat sebelum periode bulanan dan selama kehamilan ketika estrogen lebih tinggi. Meski demikian, lupus bahkan bisa terjadi pada pria dan bayi baru lahir.

Perlu diingat bahwa lupus bukanlah penyakit menular. Bahkan jika ada anggota keluarga dengan lupus, ia pun tidak mendapatkannya dari orang lain dan tidak dapat menularkannya kepada orang lain. Selain itu lupus juga belum ada obat khusus untuk menyembuhkan.

Saat ini, obat-obatan diberikan kepada odapus untuk membantu pasien mengeloa gejalanya. Karena gejala lupus dapat berubah seiring waktu, dokter pun akan mengubah resep dan dosis menyesuaikan dengan kondisi pasien.

Adapun beberapa jenis obat yang mungkin diberikan antara lain obat untuk menenangkan sistem kekebalan tubuh, obat untuk mengurangi jumlah pembengkakan atau peradangan, serta membantu mencegah kerusakan pada persendian atau organ dalam.

National Health Service juga merekomendasikan perubahan gaya hidup untuk membantu mengelola gejala lupus seperti menghindari paparan sinar UV yang berlebihan, mengonsumsi suplemen yang dapat membantu mengurangi gejala, seperti vitamin D, kalsium, dan minyak ikan, makan sehat dan olahraga teratur, serta berhenti merokok.

Seluk-Beluk Hepatitis Misterius yang Curi Perhatian Dunia, Apa Penyebabnya?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini