Cingcowong, Ritual Memanggil Hujan dengan Boneka Serupa Jelangkung

Cingcowong, Ritual Memanggil Hujan dengan Boneka Serupa Jelangkung
info gambar utama

Jika Anda sering menonton film atau tertarik pada kebudayaan Jepang, mungkin sudah tidak asing dengan teru teru bōzu, boneka tradisional yang terbuat dari kertas atau kaun putih yang digantung di jendela dengan benang. Boneka ini mirip dengan boneka hantu yang sering muncul pada perayaan Halloween dan dipercaya memiliki kekuatan ajaib yaitu mendatangkan cuaca cerah dan menghentikan hujan. Jika digantung terbalik, berarti orang memohon agar teru teru bōzu mendatangkan hujan.

Ritual terkait hujan dan menggunakan boneka ternyata juga ada di Indonesia. Salah satunya adalah cingcowong dari Kuningan, Jawa Barat. Pada zaman dahulu, masyarakat Luragung, Kabupaten Kuningan, melakukan sebuah ritual memanggil hujan jika di daerah tersebut hujan sudah tidak turun lebih dari tiga bulan.

Uniknya, ritual juga dilakukan dengan menggunakan media berupa boneka perempuan berwajah cantik. Lantas, seperti apa ritual cingcowong dilakukan guna memohon hujan turun?

Mak Yong, Seni Teater Tradisional yang Menampilkan Budaya Melayu di Tiga Negara

Tradisi masyarakat Kuningan memanggil hujan

Cingcowong | Infobudaya.net
info gambar

Sebagai sumber kehidupan, tentunya masyarakat membutuhkan air untuk memasak, minum, mencuci, dan kebutuhan pengairan di lahan pertanian. Tradisi cingcowong sendiri tak terlepas dari hubungan erat antara manusia dengan alam dan menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan agar segera diturunkan hujan saat kemarau berkepanjangan.

Untuk melaksanakan ritual memanggil hujan, dibutuhkan beberapa peralatan yaitu taraje (tangga dari bambu) untuk menyambut turunnya arwah lelembut, samak (tikar anyaman pandan) untuk tempat duduk, sisir untuk menata rambut cingcowong, cermin untuk memperlihatkan raut wajah cingcowong kepada arwah lelembut yang akan masuk ke dalam tubuh boneka, dan bunga kamboja yang dicampur air untuk saweran dan jadi media pemancing turunnya hujan.

Tentunya tak lupa boneka cingcowong itu sendiri yang bagian kepalanya terbuat dari batok kelapa dan badannya dari rangkaian bambu. Batok kelapa akan dilukis menyerupai seorang putri yang cantik, dan tubuhnya akan dipakaian kebaya kuning, ikat pinggang dari kain katun berwarna putih, mengenakan anting, dan kalung dari untaian bunga kamboja. Meski dibuat seperti sosok wanita cantik, boneka cingcowong juga sering disebut mirip jelangkung.

Selain perlengkapan tersebut, masih ada beberapa alat musik pengiring yang harus disiapkan, yaitu jambangan dari kuningan (ceneng), buyung (tempayan dari tanah liat), ruas bambu sepanjang 20cm untuk memukul ceneng, dan hihid (kipas anyaman bambu) untuk menambahkan efek suara pada buyung.

Ritual cingcowong akan dipimpin oleh sosok punduh, orang yang memiliki kemampuan spiritual dan dianggap memiliki kecapakan untuk berhubungan dengan makhluk dan kekuatan supernatural. Punduh akan dibantu pembantu punduh dengan tugasnya masing-masing, seperti memegang boneka cingcowong, memainkan alat musik, dan menjadi sinden.

Sebelum ritual dimulai, aneka sesajen pun tak lupa disiapkan berupa parukuyan (pedupaan) lengkap dengan kemenyan, telur asin, tumpeng kecil (congcot), cerutu, kopi, gula batu, kue-kue, buah-buahan, perlengkapan menyirih, dan kembang rampe tujuh warna. Boneka cingcowong dan sesajen juga akan dibawa ke parit (selokan) dan disimpan di sana semalaman dan diberi mantra-mantra untuk memanggil jurig jarian dan jurig comberan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi cingcowong telah mengalami perubahan makna. Dari ritual pemanggil hujan, kini dilestarikan sebagai tarian dan seni hiburan rakyat.

Asta Kosala Kosali, Aturan Tata Letak dan Ruangan Serupa Fengshui dalam Budaya Bali

Pelaksanaan ritual cingcowong

Boneka cingcowong : kebudayaan.kemdikbud.go.id
info gambar

Setelah semua persiapan telah lengkap, ritual pun siap dilaksanakan. Para pemain alat musik akan mulai beraksi mengiringi nyanian sinden. Berikut nyanyian dalam ritual cingcowong:

Cingcowong-cingcowong

Bil guna bil lembayu

Shalala lala lenggut

Lenggute anggedani

Aya panganten anyar

Aya panganten anyar

Lili lili pring

Denok simpring ngaliro

Mas borojol gedog

Mas borojol gedog

Lilir guling gulinge sukma katon

Gelang-gelang layone

Layoni putra maukung

Maukung mangundang dewa

Anging Dewa anging sukma

Bidadari lagi teka

Bidadari lagi teka

Jak rujak ranti

Kami junjang kami loko

Pajulo-julo

Temu bumiring mandiloko

Punduh dan pembantunya akan memegang boneka cingcowong memasuki lokasi dan berjalan di antara anak tangga yang telah diletakkan di lantai selama tiga kali bolak-balik. Punduh akan duduk di tengah tangga dan memangku cingcowong. Pada saat itu, cingcowong dihadapkan ke arah cermin, dan punduh akan menyisir rambut boneka.

Di samping punduh, pembantu duduk dan ikut memegangi sabuk yang dipakai cingcowong. Seiring dengan berakhirnya nyanyian sinden, boneka akan bergerak mengikuti irama lagu dan terus bergerak sampai tidak terkendali. Namun, boneka terus dipegang oleh punduh dan pembantunya.

Gerakan dari boneka cingcowong yang semakin tak beraturan menjadi tanda bahwa boneka telah dirasuki roh gaib. Boneka bahkan bisa bergerak ke arah penonton dan membuat orang-orang ketakutan. Untuk menetralkan suasana, punduh pun biasa mengucap "cingcowong cingcowong, hulu canting awak bubu" sambil menyipratkan air bunga kamboja lalu mengatakan "Hujan..hujan.. hujan."

Besale, Upacara Adat Suku Anak Dalam Memohon Kesembuhan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini