Mahasiswi Asal Sulawesi Barat Sukses Ekspor 25 Ton Sapu Lidi ke India

Mahasiswi Asal Sulawesi Barat Sukses Ekspor 25 Ton Sapu Lidi ke India
info gambar utama

Sapu lidi selama ini dikenal sebagai salah satu perlengkapan rumah tangga sederhana bagi masyarakat Indonesia. Harganya pun tak seberapa, bisa didapat mulai dari kisaran Rp25 ribu untuk satu ikatnya. Alat yang dibuat dari pelepah pohon kelapa atau pohon aren ini bahkan bisa didapat dengan harga jauh lebih murah, jika dibeli langsung dari pembuatnya di sejumlah daerah perkampungan.

Meski menjadi barang yang sekilas terkesan tak terlalu bernilai, tak disangka jika lidi sendiri telah lama menjadi salah satu komoditas ekspor dengan nilai yang tak sedikit. Beberapa negara tujuan ekspor lidi asal Indonesia diketahui terdiri dari Kanada, Pakistan, dan India.

Tidak hanya di Indonesia, lidi juga banyak digunakan oleh sejumlah negara sehingga memunculkan kebutuhan global yang tak sedikit. Mengutip penjelasan dari laman Pertanian Mamuju, terungkap jika kebutuhan pasar global untuk sapu lidi rupanya terus meningkat.

Misalnya pada tahun 2020, kebutuhan tersebut berada di angka 11,7 ribu ton. Kemudian meningkat sebesar 30 persen atau menjadi 15,2 ribu ton di tahun 2021. Beberapa wilayah yang saat ini diketahui sudah menjadi asal eksportir sapu lidi di antaranya Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim yang tahun 2021 lalu mengeskpor sebanyak 25 ribu ton lidi ke Kanada.

Selain itu, ada juga Sidoarjo yang mengekspor produk lidi sawit ke Pakistan di tahun yang sama. Belum lama ini, laporan ekspor perdana atas komoditas yang sama juga telah dilakukan oleh pengusaha sekaligus eksportis asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Lebih dari sekadar kegiatan ekspor biasa dan banyak menyita perhatian, pengusaha yang mengirim komoditas lidi ke negara pembeli merupakan seorang pemuda perempuan berusia 22 tahun, bernama Sadaria.

Ekspor bernilai Rp147 juta

Sadaria dalam pelepasan ekspor lidi ke India
info gambar

Sadaria merupakan seorang perempuan muda yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswi di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Surabaya, Jawa Timur. Selama pandemi, dirinya banyak menghabiskan waktu perkuliahan secara daring di kampung halamannya di Polewali Mandar.

Namun tak hanya berkuliah, di samping pendidikan rupanya ia juga merintis berbagai usaha yang pada saat itu belum berhasil mencapai potensi maksimal. Ia kemudian memutar otak dan menganalisis potensi apa yang sebenarnya dimiliki oleh kampung tempat tinggalnya berasal.

Sadaria kemudian menemukan kampungnya memiliki kelebihin dalam hal memproduksi sapu lidi. Pembukaan usaha sapu lidi pun lebih dulu ia lakukan secara kecil-kecilan, dengan memberdayakan pemasok lidi di lingkungan sekitar.

Sebenarnya sejak tahun 2017 saat usia Sadaria masih jauh lebih muda, ia telah mendirikan sebuah perusahaan dengan entitas CV bernama Coco Mandar Indonesia.

Setelah menemukan potensi lidi, kemudian ia memasukkan komoditas tersebut untuk dipasarkan dan bertemu dengan seorang pembeli yang ingin melakukan ekspor ke India. Pada tahun 2021 lalu, sebenarnya Sadaria sudah lebih dulu melakukan ekspor ke negara tersebut.

Namun terbaru pada tahun 2022 ini, ekspor kembali dilakukan dengan mendapat sambutan dan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian.

Pada Jumat (22/4/2022) kemarin, Sadaria kembali melakukan pengiriman sebanyak 25 ton sapu lidi ke India, dengan nilai ekspor mencapai Rp147 juta. Berkesempatan melakukan pelepasan dengan pemotongan pita secara simbolis, Sadaria bersanding langsung dengan Menteri Pertanian, Gubernur Sulawesi Barat, Bupati Polewali Mandar, dan jajaran penting lainnya.

Penolakan keluarga hingga ditipu supplier

Tidak ada keberhasilan yang instan, sama seperti kisah kesuksesan yang dimiliki oleh sejumlah pemuda yang menginspirasi, Sadaria juga memiliki bagian asam-pahit sendiri dalam perjalanannya merintis usaha sapu lidi.

Awalnya Sadaria mengaku sempat mendapat penolakan dari keluarga, yang meragukan bisnisnya dan lebih meminta ia untuk fokus menggeluti pekerjaan yang lebih pasti.

"Awalnya keluarga meragukan, baru ji ini men-support. Bapak yang tidak men-support, dia sempat meragukan apa yang saya kerjakan dan meminta saya fokus agar bisa menjadi guru," terang Sadaria, mengutip Detik.com.

Namun penolakan itu tak menjadi penghalang. Sadaria yang sejak kecil mengaku sudah memiliki keinginan untuk menjadi pengusaha terus menggeluti apa yang menurutnya akan berhasil. Setelah sempat melakukan ekspor lebih dulu di tahun 2021, ia kemudian mengubah rumahnya menjadi gudang penampungan sapu lidi.

Tak berhenti sampai di situ, tantangan yang dilalui selama merintis usaha sapu lidi juga pernah ia dapatkan dengan mengalami penipuan dari pemasok.

"Saya pernah ditipu oleh warga. Supplier begitu. Itu karena ada supplier yang mengaku siap memenuhi kebutuhan, namun setelah sapu lidi dibutuhkan karena kontainer harus segera berangkat, itu orang tidak bisa dihubungi, akhirnya buyer marah-marah," beber Sadaria.

Akhirnya, demi memenuhi kebutuhan tersebut Sadaria mengaku sampai sempat bermalam di jalan, hanya untuk berkunjung ke sejumlah daerah untuk mencari pasokan sapu lidi guna memenuhi kebutuhan.

“Mudah sekali jika kita mau mengundurkan diri, tinggal mengembalikan uang, tapi itu artinya kita tidak bertanggung jawab," ucapnya.

Menurutnya lagi, salah satu alasan dari masih adanya tantangan untuk memenuhi kebutuhan pasokan adalah karena masih banyak masyarakat yang belum teredukasi, dan belum memercayai jika sapu lidi bisa menjadi komoditas ekspor yang bernilai.

Tak jarang, dirinya juga mengalami kerugian yang lumayan karena kualitas lidi yang diberikan oleh pemasok tidak sesuai kebutuhan. Padahal, pihaknya telah lebih dulu melakukan pembayaran di muka (DP).

Meski begitu, keberhasilannya kini tidak lantas membuat Sadaria merasa puas hati. Meski dirinya mengaku bahagia karena bisa membuka lapangan pekerjaan dengan total sekitar 66 pekerja, Sadaria berharap ke depan akan ada banyak kalangan anak muda yang bisa mengikuti jejaknya dalam menjadi pengekspor.

"Ekspor itu mudah, asal tau ilmunya," ujar Sadaria.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini