Menjelajah Wisata di Kabupaten Majene, dari Pantai Hingga Makam Raja

Menjelajah Wisata di Kabupaten Majene, dari Pantai Hingga Makam Raja
info gambar utama

Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi besar di bidang pariwisata. Daerah-daerah di Sulbar punya beragam tempat wisata, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, dan sejarah.

Salah satu daerah yang wajib dikunjungi di Sulbar adalah Kabupaten Majene. Lokasinya berada di pesisir barat Pulau Sulawesi dan berjarak sekitar 143km dari kota Mamuju atau 378km dari Makassar, Sulawesi Selatan. Sebagian besar penduduk Majene berasal dari Suku Mandar, suku asli Sulbar, dan mereka umumnya menggunakan bahasa Mandar.

Dalam beberapa tahun belakangan, pariwisata di Majene terus meningkat dan bermunculan berbagai destinasi wisata baru di daerah tersebut. Potensi wisata yang sudah ada sejak lama pun mulai dikenal wisatawan lebih luas. Meski namanya belum sepopuler wisata lain yang ada di daerah sekitarnya, tetapi pesonanya tak kalah mengagumkan.

Berikut beberapa destinasi wisata yang dapat dikunjungi di Majene:

Pulau Gam Tawarkan Keindahan Gua Batuan Karst dan Laguna Misterius di Raja Ampat

Kompleks Makam Raja–Raja Banggae

 Kompleks Makam Raja–Raja Banggae | @Alfandhy Shutterstock
info gambar

Kabupaten Majene memiliki objek wisata berupa kompleks pemakaman raja di Jalan Ondongan, Kampung Pangali-ali, Kel/Desa Pangali-ali, Kecamatan Banggae. Keberadaan area pemakaman ini bisa menjadi bukti eksistensi peradaban Mandar.

Kompleks ini merupakan pemakaman bagi raja atau mara’dia dan anggota hadat Banggae. Kemunculan hadat Banggae sendiri diperkirakan pada masa pemerintahan Daenta Melanto (Mara’dia Banggae II) saat bergabungnya Totoli kedalam kerajaan Banggae.

Secara keseluruhan ada 471 makam di kompleks seluas 1,6 hektare tersebut dan ini menjadikannya sebagai kompleks makam adat terluas di Sulbar. Keunikan dari kompleks adat ini adalah pusaranya terbuat dari batu padas atau batu karang yang dipahat. Bentuk pusara juga lebih besar dan disusun dari batu pahat sedemikian rupa dengan sistem kuncian yang tidak mudah terlepas.

Pada pusara juga terdapat berbagai motif ukiran seperti kaligrafi, geometri, swastika, hiasan antropomorfis dengan motif manusia dan binatang, dan motif bunga. Namun, di sana tidak ada prasasti atau petunjuk tulisan yang menjelaskan siapa yang dimakamkan beserta waktunya.

Jatiluwih, Desa Wisata dengan Pesona Alam dan Subak di Bali

Pantai Dato

Sejak dibuka tahun 1998, objek wisata Pantai Dato terus menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Pantai ini berlokasi di Dusun Pangale, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur dan menawarkan pemandangan indah yang memanjakan mata. Untuk pantainya sendiri, ada dua bagian yang beralaskan pasir putih dan karang.

Di sepanjang garis pantainya, pengunjung akan melihat kepiting, kerang, dan hewan laut kecil. Dengan perairan lepas pantai yang cenderung tenang, ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan di pantai ini mulai dari bermain pasir, berenang, memancing, dan menyelam. Di bawah lautnya, terumbu karang juga masih terjaga dengan baik.

Selain menikmati kegiatan di pantai, pengunjung juga bisa mencicipi kuliner khas Majene yaitu ikan terbang dan ikan seribu. Jika berkunjung ke Pantai Dati pada bulan Agustus hingga September, Anda juga berkesempatan menyaksikan ajang Sandeq Race atau balapan perahu khas Mandar.

Desa Sawai, Perkampungan Tertua dan Bersahaja di Maluku Tengah

Buttu Pattumea

Buttu Pattumea merupakan destinasi wisata yang memiliki perpaduan keindahan alam pegunungan dan sejarah. Objek wisata satu ini ada di Dusun Timbogading, Desa Betteng, Pamboang atau sekitar 22km dari pusat kota Majene. Untuk akses ke Buttu Pattumea dapat ditempuh melewati Jalan trans Sulawesi menuju Pasar Pamboang di Desa Tinambung sampai ke Desa Betteng.

Sesampainya di Buttu Pattumea, pengunjung akan disambut dengan pemandangan berupa gunung-gunung yang membentang luas dan menjulang tinggi. Dari ketinggian, panorama di sekitar pun sungguh mengagumkan, mulai dari birunya laut, pemukiman di sekitar Majene, hingga gemerlap lampu ketika malam tiba.

Di Buttu Pattumea juga telah disediakan fasilitas untuk pengunjung seperti kolam renang, spot foto, aula, kafe, dan gazebo. Selain itu ada pula monumen bersejarah yaitu Benteng Ammana I Wewang setinggi 4,2 meter.

Bukan di Lombok, Objek Wisata Pantai Gili Juga Ada di Pulau Jawa

Museum Mandar

Museum Mandar | Majenekab.go.id
info gambar

Museum Mandar berada di Jalan Raden Suradi No. 17, Kel. Pangali-ali, Kec. Banggae dan memiliki koleksi sejumlah 1.304 buah yang terdiri dari koleksi geologi, geografi, numismatik, heraldik, filologi, keramik, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, seni rupa, dan teknologi.

Memasuki museum, pengunjung akan melihat nuansa seperti berada di rumah sakit. Memang gedung ini awalnya berfungsi sebagai rumah sakit dan telah dibangun oleh Belanda beberapa dekade sebelum kemerdekaan.

Adapun beberapa koleksi di museum ini antara lain pakaian pengantin Mara’dia (Raja) dan bangsawan adat atau Topia yang secara keseluruhan disesuaikan dengan status sosial. Kemudian ada pula koleksi alat musik tradisional Mandar, yaitu ganrang, sattung, kanjilo, dan permainan tradisional seperti gasing dan pakkaracangang. Di museum ini juga ada seekor ular sawah yang diawetkan dan panjangnya sekitar 8 meter.

Pada sayap kiri bangunan, terdapat truktur kerajaan Pamboang, Sendana, Banggae, dan silsilah raja-raja Balanipa Mandar, dari raja pertama I Manyambungi sampai raja ke-53 I Puang Monda’. Selain itu ada ruangan tempat menyimpan replika 3 panji kebesaran, yaitu I Macan dari kerajaan Banggae, I Naga dari kerajaan Pamboang, dan Cakkuriri dari kerajaan Sendana.

Koleksi unik lain di Museum Mandar adalah patung batu berbentuk kepala manusia, tiga cincin ukuran raksasa, sarkofagus, koleksi corak sarung Mandar, miniatur rumah adat, perkakas tradisional, alat tenun, perkakas pertanian dan nelayan, senjata tradisional, hingga perlengkapan upacara adat, dan perhiasan.

Bledug Kuwu, Fenomena Semburan Lumpur dan Pengolahan Garam di Jawa Tengah

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini