Kabuenga, Mencari Jodoh dalam Kegiatan Jual Beli di Tanah Wakatobi

Kabuenga, Mencari Jodoh dalam Kegiatan Jual Beli di Tanah Wakatobi
info gambar utama

Di era modern pertemuan dengan jodoh untuk menjadi pasangan hidup dapat dilalui dengan cara paling sederhana, seperti bertemu dengan lawan jenis yang ada di lingkungan sekitar. Bahkan seiring berkembangnya zaman, hal yang bagi sebagian kalangan kerap menghadapi kesulitan ini kebanyakan sudah dibantu dengan kemajuan teknologi, yang sekarang dikenal dengan istilah aplikasi kencan.

Sementara itu di sisi lain, kekayaan budaya yang dimiliki setiap wilayah Indonesia rupanya juga menyentuh bagian kehidupan pada tahap pencarian jodoh. Di sejumlah wilayah tradisional yang masih mengedepankan adat dan budaya, proses penemuan pasangan hidup bahkan menjadi bagian yang juga memiliki tradisinya sendiri.

Beberapa tradisi pencarian jodoh yang ada di Indonesia dan masih dijalankan hingga saat ini sebut saja Kamomose bagi Suku Buton, Gredoan di Banyuwangi, Barempuk di Sumbawa, dan masih banyak lagi.

Setiap daerah sudah pasti memiliki keunikan dan maknanya masing-masing. Dari sekian banyak tradisi yang ada, satu yang tak kalah menarik untuk dibahas adalah tradisi pencarian jodoh bernama Kabuenga, yang hingga saat ini masih lestari dan berasal dari daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kamomose, Tradisi Warga Buton Mencari Jodoh dan Sambung Silaturahmi

Biasa dilakukan selepas Idulfitri

Kaum lelaki dari wilayah Wakatobi dulunya dikenal sebagai para pelayar ulung yang merantau ke seluruh pelosok Nusantara. Karena hal itu, muncul situasi yang menyebut jika kaum perempuan muda atau gadis setempat jarang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan lawan jenis, sehingga tak memungkinkan untuk menjalin perkenalan.

Akhirnya para lelaki dan perempuan lajang dipertemukan dalam tradisi kabuenga. Biasanya tradisi ini digelar dalam kurun waktu setahun sekali, yakni setiap usai merayakan Hari Raya Idulfitri. Pemilihan waktu tersebut oleh para tetua adat dianggap sebagai hal yang paling tepat.

Bukan tanpa alasan, pasalnya setiap momen Idulfitri setiap perantau yang biasa berkelana ke berbagai daerah akan pulang ke kampung halaman, alasan sama yang memang masih relevan hingga saat ini.

Menarik karena selain menjadi ajang pencarian jodoh yang dinantikan para pemuda-pemudi, proses pelaksanaan kabuenga juga biasa menjadi tontonan yang unik dan menarik bagi masyarakat setempat.

Gredoan, Mencari Jodoh Di Banyuwangi

Proses jual beli makanan tradisional

proses tradisi Kabuenga
info gambar

Membahas mengenai proses pelaksanaannya, para gadis yang sudah akil balik berkumpul melingkari altar kabuenga sambil menggunakan pakaian adat khas wakatobi. Tidak hanya itu, mereka juga menyiapkan liwo, yakni dulang bertumpuk yang terdiri dari berbagai macam makanan tradisional khas Wakatobi. Ragam makanan tersebut dihias dengan sejumlah aksesoris namun nilai naturalnya tetap terjaga.

Di saat bersamaan, ada juga yang mengalunkan gendang dan gong tradisional sambil mengiringi tarian Pajoge. Tarian satu ini dilakukan oleh para kalangan pria pencari jodoh dalam proses tradisi tersebut, di mana memiliki makna filosofis untuk menceritakan sebagian besar hidup mereka yang selalu menjadi perantau.

Selanjutnya, para gadis perempuan akan berjalan bersama-sama mengelilingi altar kabuenga sebanyak 7 kali sambil melantunkan syair dan pantun. Hal tersebut dilakukan sambil membawa makanan dan minuman ringan, yang akan dipersembahkan kepada setiap laki-laki yang nantinya akan menjadi calon pasangan hidup mereka.

Selama proses penawaran makanan dan minuman, para perempuan harus menunjukan perilaku sopan dan santun. Ketetapan tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah Adat Posambui.

Para lelaki yang belum menikah kemudian diperbolehkan membeli makanan dan minuman yang telah disiapkan salah satu gadis di barisan altar kabuenga. Dari proses jual beli makanan tersebut, terjadilah proses perkenalan yang diharapkan akan berlanjut ke hubungan selanjutnya, dengan menyambangi rumah masing-masing gadis yang disukai.

Saat berkunjung ke kediaman gadis yang disukai, laki-laki juga akan bergantian membawa sejumlah kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, alat kecantikan, dan lain sebagainya. Jika pemberian tersebut diterima artinya pihak perempuan menerima 'niat' baik dari pihak laki-laki untuk melanjutkan ke hubungan selanjutnya.

Sebaliknya, jika pemberian tersebut dikembalikan maka artinya niat yang dimaksud belum diterima, dan keduanya belum berjodoh.

Disebutkan jika awal mulanya, seluruh proses dari tradisi ini harus dilakukan secara tertutup. Namun seiring berjalannya waktu dan fungsi upacara yang dimaksud juga telah menjadi objek hiburan yang dinanti oleh masyarakat lokal, akhirnya tradisi ini mulai berubah dan dilakukan secara terbuka.

Meski begitu tradisi kabuenga tetap dipandang sakral, karena bukan semata-mata hanya untuk menjadi ajang pencarian pasangan hidup, namun kemeriahannya juga menjadi kesempatan untuk memperkuat tali silaturahmi dan nilai kebersamaan masyarakat di Kepulauan Wakatobi.

Tradisi Lawang Sakepeng Bermakna Pemutus Rintangan dan Malapetaka dalam Pernikahan Adat Dayak Ngaju

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini