Pertama di Indonesia, Pusat Industri Bahan Peledak Terbesar se-Asia Tenggara Diresmikan

Pertama di Indonesia, Pusat Industri Bahan Peledak Terbesar se-Asia Tenggara Diresmikan
info gambar utama

Sejak beberapa waktu lalu, sudah banyak pemberitaan mengenai target Indonesia untuk memiliki perusahaan terintegrasi di bidang pertahanan, dan memperkuat posisi Indonesia di industri pertahanan dunia. Cara untuk mencapai target tersebut dilakukan dengan membentuk sebuah inisiasi holding BUMN yang terdiri dari lima perusahaan di bidang terkait, bernama DEFEND ID.

Adapun lima perusahaan yang dimaksud terdiri dari Dirgantara Indonesia yang mewakili platform udara, Pindad yang mewakili platform darat, alat berat, senjata dan munisi, PAL Indonesia yang bergerak di bidang platform laut, LEN Industri di bidang sistem elektornik, dan Dahana dari bidang berenergi tinggi, yang terkenal akan produk bahan peledak.

Pada tanggal 20 April 2022, entitas dari DEFEND ID akhirnya secara telah diresmikan oleh Presiden RI. Sama seperti tujuan di awal, target dari didirikannya lembaga ini adalah untuk membuat industri pertahanan Indonesia masuk dalam jajaran 50 besar industri pertahanan dunia.

Bukan saja peresmian entitas Defend ID, dalam kesempatan yang sama juga dilakukan peresmian salah satu fasilitas berupa pusat industri untuk mewujudkan tujuan yang telah disebutkan di atas. Yakni berupa pusat industri sekaligus pabrik peledak atau elementated detonator milik Dahana.

Yang istimewa, tidak hanya menjadi pabrik peledak terintegrasi pertama di Indonesia, namun fasilitas ini digadang-gadang sebagai pabrik bahan peledak terbesar yang ada di kawasan Asia Tenggara.

Mengenal Defend ID, dan Impian Indonesia Jadi Pemain Penting di Industri Pertahanan Dunia

Kapasitas produksi 8 juta unit detonator per tahun

Pabrik elemented detonator di Subang
info gambar

Mengutip keterangan resmi Dahana, disebutkan bahwa proyek pembangunan pabrik peledak terbesar di ASEAN ini sebarnya sudah dijajaki sejak tahun 2018, dengan menggandeng perusahaan terkait asal Korea Selatan, yakni Hanwha Corporation selaku pihak yang memasok peralatan detonator elemented.

Pembangunan pabrik yang berlokasi di Subang, Jawa Barat ini memulai tahap groundbreaking pada tahun 2019 dan prosesnya sendiri berjalan sesuai dengan target, di mana kala itu diharapkan dapat mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2022.

Dalam rancangannya, pabrik peledak ini kedepannya ditargetkan akan mampu memproduksi elemented detonator, dengan kapasitas hingga 8 juta unit per tahun.

Sedikit informasi, selain banyak digunakan di bidang pertahanan untuk industri militer, elemented detonator merupakan salah satu bahan utama peledak yang terdiri dari high explosives serta mengandung delay element untuk mengatur waktu tunda detonator, yang banyak digunakan di industri pertambangan, kuari, dan konstruksi.

Disebutkan jika nilai investasi Hanwha pada pembangunan fasilitas ini mencapai angka 13,62 juta dolar AS, atau sekitar Rp199 miliar.

Libatkan IBC Hingga Foxconn, Ekosistem EV Indonesia Diguyur Investasi Rp114 Triliun

Ragam proyeksi positif yang dimiliki

Truk peledak Dahana
info gambar

Saat peresmian fasilitas dilakukan, Suhendra Yusuf selaku Direktur Teknologi dan Pengembangan Dahana menyebut jika keberadaan pabrik elemented detonator ini merupakan salah satu strategi untuk mewujudkan kemandirian bahan peledak dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan akan impor, terutama pada sektor inititating device.

Lebih dari itu, Suhendra juga menyebut jika fasilitas ini dapat membuat Indonesia berhemat devisa negara hingga mencapai puluhan miliar per tahunnya.

“Merupakan strategi backward integration dari hilir ke hulu, serta mewujudkan kemandirian teknologi bahan peledak sehingga mengurangi impor, dan menghemat devisa negara sebesar 6 juta dolar AS per tahun atau setara Rp87 miliar per tahun,” paparnya.

Lebih detail, disebutkan juga jika pabrik elemented detonator di Indonesia dapat membuat sejumlah peningkatan dari segi industri dalam negeri, di antaranya:

  1. Peningkatan penguasaan teknologi bahan peledak dari yang tadinya berada di tingkat 35 persen menjadi 80 persen,
  2. Peningkatan nilai TKDN detonator yang naik dari 14 persen menjadi 50 persen,
  3. Dual use of technology yang dapat mendukung keperluan bahan peledak komersial dan militer, serta
  4. Teknologi bahan peledak yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik dan harga yang kompetitif.

Di saat bersamaan, selain pembangunan pabrik peledak elemented detonator yang telah rampung ini, Dahana juga disebut sedang mengakselerasi kemampuan dalam membangun pabrik bahan baku peledak lain berupa amonium nitrat di Bontang, menyiapkan pabrik propelan di lokasi yang sama di Subang, serta ragam inisiasi lain dalam rangka mendukung kemandirian bahan peledak Indonesia.

Punya Pabrik Baja Tercanggih Kedua di Dunia, Indonesia Bisa Hemat Devisa Rp29 Triliun

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini