Jejak Kemakmuran Demak Sebagai Kota Terkaya di Pesisir Utara Jawa

Jejak Kemakmuran Demak Sebagai Kota Terkaya di Pesisir Utara Jawa
info gambar utama

Kurang lebih enam abad silam berdasarkan letak geografisnya, kawasan yang bernama Demak ternyata tidak terletak di pedalaman yang jaraknya lebih kurang 30 km dari bibir laut Jawa seperti sekarang ini.

Kawasan tersebut pada waktu itu berada di dekat Sungai Tuntang yang sumbernya berasal dari Rawa Pening. Geografi kesejarahan mengenai kawasan Demak bisa dibaca dalam buku berjudul The Soil of East Central Java (1955), karya T.W.G Dames.

Dalam buku tersebut, Dames menjelaskan bahwa Demak dahulunya terletak di tepi laut, atau lebih tepatnya berada di tepi Selat Silungangga yang memisahkan Pulau Muria dengan Jawa Tengah (Jateng).

DR H.J. De Graaf menulis bahwa letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan. Hal ini disebabkan selat yang ada di depannya cukup lebar sehingga perahu dari Semarang yang menuju Rembang akan berlayar dengan bebas melalui Demak.

Begitulah penjelasan buku-buku dan penelitian sejarang mengenai Demak. Namun kini pengetahuan tentang kota ini hanya terbatas pada kedudukannya sebagai pusat politik kerajaan Islam pertama di Jawa.

Dan belum banyak hal yang diungkapkan tentang perannya dalam jalur rempah. Padahal letak kota Demak yang tidak terlalu jauh dari pantai menjadikan kota ini banyak dikunjungi para pedagang, diperkirakan sudah sejak abad ke 14.

Cilegon, Kota Baja yang Pernah Buat Geger Pemerintah Belanda

Catatan Tome Pires dalam The Suma Oriental of Tome Pires juga memperlihatkan bahwa kota ini ramai disambangi orang-orang asing. Orang Persia, Arab, Gujarat, Melayu, dan China. Selain itu banyak juga orang Islam yang datang ke Demak kala itu.

“Demak tumbuh besar dan menjadi salah satu kota terkaya di pesisir utara Pulau Jawa,” tulisnya.

Menurut Pires, orang-orang asing yang datang umumnya adalah para saudagar. Sebagian dari mereka memutuskan menetap dan kawin-mawin dengan penduduk sekitar. Sarana peribadatan, terutama masjid semakin banyak ditemui di Demak.

Dalam sejarah, antara Islam dan Pedagang Muslim merupakan hasil dari peradaban kota. Karena itu tidak heran orang-orang Islam yang datang ke Demak adalah pedagang. Selain berniaga, mereka juga akan menyebarkan agama.

Simpul penting perdagangan

Endi Aulia Garadian dalam artikel berjudul Demak: Salah Satu Kota Terkaya di Pesisir Utara Jawa menyebut Demak memang sudah unggul secara geografis. Hal inilah yang menarik orang-orang berdatangan, terutama orang-orang Islam.

Menurutnya salah satu sumber yang cukup kuat mengenai peran Demak dalam kancah perdagangan Internasional terdapat dalam prasasti zaman Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

“Disebutkan bahwa nama Demak (Dmak) menjadi salah satu dari 33 pangkalan dari jaringan lintas air pada masa itu,” ucapnya.

Selain itu, katanya ada sebuah peta kuno yang memperlihatkan bahwa Demak menjadi simpul penting dalam lalu lintas perdagangan di jalur rempah. Terdapat kota-kota, ujar Endi dengan menara berwarna merah.

Kota itu adalah Banten, Daramayo (Indramayu), Dama (Demak), dan Lapara (Jepara). Peta yang disebutnya berbahasa Latin ini digunakan oleh pelayar-pelayar asing dalam menapaktilasi kota-kota pelabuhan besar, salah satunya Demak.

Singkawang, Kota Toleransi dari Kalimantan dengan Panorama Seribu Kelenteng

Kemudian pada abad ke 16, Demak juga menjadi menjadi tempat penimbun komoditi perdagangan padi yang berasal dari daerah-daerah pertanian di sekitarnya. Peranan Demak sebagai pusat kegiatan ekonomi pertanian kemudian menjadi semakin penting.

Endi juga berpendapat bahwa majunya Demak sebagai kota perdagangan karena
dihancurkannya Kota Juwana yang terletak di sebelah timurnya oleh penguasa Majapahit terakhir sekitar tahun 1513.

“Juwana semula merupakan kota Pelabuhan dengan Pati sebagai ibukotanya. Sama seperti halnya kota pelabuhan Jepara dengan Demak sebagai ibukotanya,” ucap Endi.

Menurut cerita, kota Juwana dan Pati merupakan wilayah Sandang Garba yang berarti “raja kaum pedagang”. Sebutan ini baginya mengindikasikan bahwa kota tersebut merupakan kota pelabuhan yang cukup penting.

Karena itu, keruntuhan Juwana mengakibatkan Demak secara penuh mendominasi perekonomian di pesisir utara Jawa, khususnya di selat sebelah selatan Pegununan Muria sekitar abad ke 15 Masehi.

Komoditas di Demak

Menurut Endi keterangan tentang komoditi yang diperdagangkan di Demak sebagian bisa diketahui dalam catatan Pires. Disebutkan bahwa komoditi utama yang menjadi ekspor Kerajaan Demak adalah beras dan bahan-bahan makanan yang lain.

Malaka menjadi tempat tujuan ekspor komoditas tersebut. Tidak dijelaskan secara detail mengenai bahan-bahan makanan yang lain. Juga tidak disebutkan jenis barang-barang yang didatangkan dari negeri asing.

Meski begitu, tulis Pires, secara umum dikatakan bahwa barang dagangan dikonsumsi dalam jumlah yang besar di negeri ini. Barang-barang tersebut berasal dari Gujarat, Keling, China, dan Bengala.

Pires juga menyebutkan bahwa surplus hasil panen kerajaan Demak diangkut ke Malaka dengan kapal jung dan pangajava. Menurut Endi, sangat jelas bahwa kedua jenis angkutan air tersebut mempunyai ukuran cukup besar dan masuk kategori kapal kargo.

Sementara itu, wilayah dan penduduk Demak pada awal abad 16 tergolong lebih besar daripada kota-kota pantai lain di sekitarnya. Kotanya, ucap Endi, memiliki delapan sampai sepuluh ribu rumah.

Menurut S Rahardjo dan W.D Ramelan dalam Kota Demak sebagai Bandar Dagang di Jalur Sutra memperkirakan jumlah penduduk Demak pada waktu itu berkisar antara 40.000 hingga 50.000.

“Suatu jumlah yang cukup masuk akal untuk kota Demak pada waktu itu,” tulisnya.

B.J Schrieke pada bukunya berjudul Indonesia Sociological menelusuri sejumlah keterangan menyangkut wilayah dan sistem jalan darat maupun air di daerah Jawa. Dikemukakan pada masa Mataram, daerah pesisir terbagi menjadi dua oleh sungai Serang (Tedung).

Datangi Kampung Kayutangan Malang, Lompati Waktu ke Zaman Kolonial Belanda

Sungai ini terletak antara Demak dan Jepara sehingga wilayah ini terbagi dua menjadi timur dan barat. Ini berarti, ucap Endi, ada jalan air yang dapat dimanfaatkan untuk sarana lalu lintas dari wilayah pedalaman ke wilayah hilir dan sebaliknya.

Endi melanjutkan bahwa sejumlah pemukiman ini dihubungkan satu dengan yang lain dengan jalan-jalan darat. Dari daerah pedalaman (wilayah Mataram), katanya, terdapat jalan menuju ke pantai utara, yaitu ke pelabuhan Semarang.

Namun, semuanya berakhir pada awal abad ke 17. Sedimentasi Selat Muria sudah sangat parah sehingga membuatnya jadi semakin dangkal. Bahkan di musim kemarau, bisa dikatakan selat ini mengering hingga membuat Gunung Muria seperti bersatu dengan Jawa.

Gara-gara hal ini, Kerajaan Demak langsung mengalami kemunduran karena pelabuhan yang jadi sendi utama ekonominya praktis tidak bisa lagi beroperasi. Posisi Demak lantas digantikan oleh Jepara hingga akhirnya terus ke pedalaman, yaitu Mataram Islam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini