Memahami Makna Pelepasan Lampion Hari Waisak di Candi Borobudur

Memahami Makna Pelepasan Lampion Hari Waisak di Candi Borobudur
info gambar utama

Pada 16 Mei 2022 ini umat Buddha akan memperingati Hari Raya Waisak 2566 BE atau yang juga sering disebut Trisuci Waisak. Tahun ini, peringatan Hari Waisak bertema “Jalan Kebijaksanaan Menuju Kebahagiaan Sejati” dan rangkaian perayaannya dimulai sejak tanggal 14 Mei.

Bagi umat Buddha, Trisuci Waisak dirayakan untuk memperingati tiga peristiwa penting yaitu lahirnya Pangeran Siddharta (calon Buddha) di Taman Lumbini pada tahun 623 SM, Pangeran Siddharta mencapai penerangan agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya pada tahun 588 M, dan momen saat Buddha Gautama wafat pada usia 80 tahun di tahun 543 SM.

Setiap tahun perayaan Trisuci Waisak diselenggarakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Adapun pelepasan ribuan lampion menjadi acara puncak perayaan dan selalu sukses menarik perhatian wisatawan dari tahun ke tahun.

Setelah absen pada tahun 2020 dan 2021 karena kondisi pandemi Covid-19, Festival Lampion Borobudur kembali digelar tahun ini. Tentunya ini akan menjadi pengalaman menarik bagi wisatawan untuk bisa menyaksikan langsung bagaimana perayaan Trisuci Waisak di Candi Borobudur dan mengabadikan momen pelepasan lampion.

Misteri Borobudur : Bunga Teratai Raksasa yang Dibangun Ditengah Danau

Makna pelepasan lampion di Hari Waisak

Pelepasan lampion | @Agung Widiyanto Shutterstock
info gambar

Ada makna yang mendalam di balik acara penerbangan lampion saat Hari Raya Waisak. Salah satunya adalah menghilangkan hal-hal negatif dari diri manusia serta mewujudkan impian dan harapan dari setiap umat. Maka dari itu, setiap umat dapat menuliskan doa dan harapannya di lampion yang akan mereka lepaskan demi menjalani hidup yang lebih baik ke depannya.

“Dengan menerbangkan lampion ke langit, diharapkan doa-doa serta keinginan lebih mudah terwujud, karena dekat dengan langit,” ujar Rusli, Ketua umum Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia (LKBI), kepada Kompas.com.

Masyarakat umum mungkin lebih familier terhadap pelepasan lampion, tetapi selain itu juga banyak ritual lain yang dilakukan dalam perayaan Waisak, misalnya membakar kertas dan upacara memanjatkan doa.

Rangkaian perayaan Hari Raya Waisak meliputi tiga upacara penting. Pertama adalah pengambilan air berkat dari Mata Air Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi di Mrapen, Kabupaten Grobogan. Obor tersebut akan disemayamkan di Candi Mendut dan dilanjutkan dengan prosesi arak-arakan menuju Candi Borobudur.

Kedua adalah ritual Pindapatta atau pemberian dana makanan kepada para bhikkhu atau pertapa oleh umat Buddha untuk memberikan kesempatan dalam melakukan hal-hal yang baik. Ketiga yaitu samadhi atau pertapaan pada detik-detik puncak bulan purnama. Untuk penentuan bulan purnama sendiri berdasarkan perhitungan falak atau orbit benda-benda langit, sehingga puncaknya dapat terjadi pada siang hari.

Selain tiga upacara utama, akan ada acara lain seperti ritual mengelilingi Candi Borobudur, pawai, acara kesenian, dan tentunya pelepasan lampion.

Menyaksikan Kemeriahan Musik Nusantara dalam Relief Candi Borobudur

Rangkaian acara pelepasan lampion

Pelepasan lampion | @Arighi Imawan Shutterstock
info gambar

Tahun ini rencananya jumlah lampion yang akan diterbangkan sebanyak 2.022 buah dan merupakan lampion buatan Thailand. Menurut Ketua 2 DPD Walubi Jateng, Tanto Soegito Harsono, lampion tersebut terbuat dari bahan sejenis tisu, jika diterbangkan akan habis terbakar di udara dan tidak sampai turun tanah. Lampion ini merupakan jenis yang sama dengan yang pernah digunakan pada tahun 2019 tetapi ada sedikit perbaikan pada kekurangannya.

Pada puncak perayaan Waisak 6 Mei 2022, rangkaian acara akan dimulai pukul 18.00 WIB dengan penampilan tarian dan sambutan, kemudian dilanjutkan doa Waisak 2566 BE dipimpin Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho, pertunjukkan drama musikal Trisuci Waisak, dan terakhir adalah pelepasan lampion di zona 2 Candi Borobudur.

Pelepasan lampion akan dibagi dua sesi, yaitu pukul 19.30 WIB dan pukul 21.00 WIB. Berikut lebih jelas untuk jadwal pelepasan lampion:

  • Penukaran tiket di buka mulai pukul 15.00 WIB
  • Open Gate sesi 1 pukul 18.00 WIB
  • Acara sesi 1 dimulai pukul 18:00-19:30 WIB
  • Open Gate sesi 2 pukul 20.30 WIB
  • Acara sesi 2 dimulai pukul 20:30-22.00 WIB

Untuk menyaksikan langsung acara tersebut, tiketnya dijual dengan harga Rp210 ribu dan dapat dibeli lewat Tiket.com atau bisa juga berdonasi sebesar Rp200 ribu dengan metode pembayaran lewat transfer rekening BCA Nomor 7015234555, atas nama MAJELIS AGAMA BUDDHA MAHANIKAYA INDONESIA dan konfirmasi ke panitia di nomor 082123196066 (Stefie).

Tiket tersebut merupakan tiket pelepasan lampion saja, sehingga pengunjung tetap harus membeli tiket masuk kawasan Candi Borobudur sebesar Rp50 ribu untuk dewasan dan Rp25 ribu untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun.

Adapun persyaratan lain untuk menyaksikan acara ini adalah telah mendapatkan vaksin Covid-19 dosis lengkap dan booster. Sesampainya di sana, pengunjung juga akan menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Dusun Prumpung, Tempat Para Pematung Ulung di Balik Kemegahan Candi Borobudur

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini