Tekan Impor, KAI Commuter Akan Pakai Kereta Buatan Lokal

Tekan Impor, KAI Commuter Akan Pakai Kereta Buatan Lokal
info gambar utama

Kereta rel listrik (KRL) Commuter Line, telah menjadi salah satu moda transportasi andalan yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah penyangga Jabodetabek, selama lebih dari satu dekade. Setiap harinya, ada jutaan masyarakat yang mengandalkan transportasi satu ini untuk berpindah tempat melakukan berbagai aktivitas harian terutama bagi para pekerja.

Bicara mengenai perkembangannya, sistem pelaksanaan dan operasional KRL sendiri telah melalui jalan yang panjang sejak pertama kali ada.

Perubahan besar yang paling terasa, dan membawa dampak yang berarti hingga sampai di titik ini setidaknya dimulai pada kisaran tahun 2000-an. Kala itu, akhirnya KRL memiliki sistem kereta berpendingin (AC) pertama, dan menghadirkan layanan perjalanan yang lebih nyaman dan aman, bagi para penumpangnya.

Satu hal yang menarik perhatian, tak dimungkiri jika selama ini berbagai rangkaian kereta yang beroperasi dan digunakan oleh KAI Commuter merupakan kereta bukan baru, yang didatangkan dari berbagai perusahaan perkeretaapian asal Jepang.

Meski memiliki kualitas yang baik, dan hingga saat ini terbukti nyaris tidak pernah terjadi malfungsi yang disebabkan oleh sistem (di luar kelalaian manusia), tetap ada sejumlah anggapan dan penantian, jika kedepannya Commuter Indonesia bisa mengandalkan kereta buatan dalam negeri sendiri.

Ternyata Ini Lho Perbedaan Sistem Tranportasi Kereta KRL, MRT dan LRT

Jejak produk lokal dalam kereta listrik Indonesia

Kereta i9000 buatan INKA
info gambar

Harapan agar Indonesia bisa mengandalkan kereta buatan lokal tentu bukan tanpa alasan. Pasalnya, di dalam negeri ada perusahaan perkeretaapian yang sudah memiliki rekam jejak sangat baik, bahkan dengan catatan ekspor hasil produksi kereta ke sejumlah negara, yakni INKA.

Dari kondisi tersebut, kerap muncul pertanyaan mengenai mengapa Commuter di Indonesia masih mengandalkan kereta impor--yang mayoritas berasal dari Jepang, padahal ada INKA yang sanggup memproduksi kereta di dalam negeri?

Mengutip periwayatan Beritasatu.com, sebenarnya pada awal masa kereta berpendingin pertama pernah dioperasikan kereta buatan INKA yang dinamakan KRL-I Prajayana. Namun, produksi dihentikan karena biaya pembuatannya lebih mahal dibanding menggunakan kereta eks-Jepang yang saat ini banyak digunakan.

Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2011 INKA juga kembali meluncurkan kereta lokal bernama KRL i9000 dengan formasi 10 rangkaian dan terdiri dari 4 kereta. Keberadaannya pun sempat digunakan pada tahun 2013 oleh Commuter Indonesia, setelah menjalani uji coba di jalur Duri-Tangerang, Tanah Abang-Maja, dan Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan-Jakarta Kota, dengan rute pulang pergi (PP).

Tak berlangsung lama, setahun setelahnya (2014) kereta tersebut tidak lagi dipergunakan sehingga sempat dipensiunkan sementara dan ditempatkan di dipo yang berada di Manggarai, Depok, dan Duri.

Menurut eks Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, salah satu sosok kunci yang membawa perubahan besar dalam kereta commuter di Indonesia, kereta buatan INKA kala itu kurang layak untuk pengangkutan orang, karena banyak yang tidak memenuhi aspek keselamatan. Sementara itu saat ini, kereta i9000 terpantau ada yang digunakan untuk daerah operasional (daop) Yogyakarta-Solo.

Menjajal Commuter Line Rute Yogyakarta-Solo, KRL Pertama di Luar Wilayah Jabodetabek

Babak baru KAI dan INKA

Penandatanagan MoU KAI dan INKA
info gambar

Seiring berjalannya waktu, dengan semakin terasahnya kualitas produksi kereta buatan INKA yang banyak diekspor ke luar negeri, belum lama ini mimpi agar Indonesia bisa bebas dari kebergantungan kereta impor untuk commuter kembali memasuki babak baru.

KAI Commuter dan INKA, pada Senin (9/5/2022) kemarin, akhirnya menandatangani nota kesepahaman atau MoU, untuk pengadaan kereta rel listrik. Tentu, tahap tersebut bisa terealisasi setelah melalui berbagai tahap panjang mulai dari perundingan dan berbagai macam pertimbangan di tahun-tahun sebelumnya.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Noviantoro selaku Direktur Utama INKA juga mengungkap secara detail berapa banyak tepatnya kereta yang akan diproduksi untuk Commuter Indonesia.

“KAI Commuter berencana akan melakukan pengadaan sarana baru sebanyak 16 rangkaian KRL dengan susunan 12 kereta tiap rangkaiaannya dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan perkeretaapian. Harapannya segala persiapan hingga pengiriman pertamanya akan sesuai jadwal yang diperkirakan pada tahun 2024,” jelas Budi.

Selain produksi, INKA juga akan menyediakan layanan purna jual seperti penyediaan suku cadang komponen. Hal tersebut diyakini sebagai komitmen dalam penyediaan produk dalam negeri yang andal, hasil karya anak bangsa.

Ditargetkan akan beroperasi untuk daop Jabodetabek serta Yogyakarta-Solo, keberadaan kereta tersebut nantinya diharapkan dapat menopang kebutuhan layanan transportasi bagi 1,2 juta penumpang KRL Commuter setiap harinya.

Perluas Pasar di Oseania, INKA Ekspor 262 Gerbong Kereta Barang ke Selandia Baru

Indonesia akan produksi mandiri kereta terbaru JR East?

Sementara itu nyaris di saat bersamaan, kabar yang tak kalah menyita perhatian adalah kemungkinan arah penggunaan kereta asal Negeri Sakura, yang diharapkan dapat diproduksi di Indonesia.

Pada hari Kamis dan Jumat, 12-13 Mei kemarin, salah satu perusahaan perkeretaapian asal Jepang yang produknya cukup mendominasi di Indonesia, yakni JR East diketahui melakukan kunjungan ke tanah air.

Sebenarnya jika menilik kabar yang dibagikan oleh pihak KAI Commuter sendiri, kunjungan tersebut diklaim bertujuan untuk memaparkan peningkatan mutu SDM yang mengoperasikan kereta mereka di Indonesia, serta peningkatan teknologi rolling stock maintenance untuk perawatan sarana perkeretaapian.

Namun dalam kesempatan yang sama, JR East juga diketahui memaparkan KRL baru buatan mereka. Meskipun kabarnya pemaparan ini sendiri masih berstatus tahap awal, dan belum ada kepastian mengenai ke arah mana pertemuan tersebut berlanjut.

Di saat bersamaan, laman pemberitaan perkeretaapian di Indonesia yakni RE Digest menyebut, tak menutup kemungkinan jika JR East bisa saja menawarkan produksi sejumlah tipe kereta baru secara knockdown di Indonesia.

Bukan tanpa alasan, anggapan tersebut muncul lantaran Kementerian Perindustrian memang memiliki target untuk meningkatkan TKDN menjadi 50 persen pada tahun 2024 mendatang, di mana hal tersebut bertujuan untuk mengurangi ketergantungan akan produk impor.

Sejarah Kereta Rel Listrik, Moda Transportasi Andal Masyarakat Jabodetabek

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini