Sriwijaya, Pusat Pendidikan Agama Buddha Terbesar di Asia Tenggara

Sriwijaya, Pusat Pendidikan Agama Buddha Terbesar di Asia Tenggara
info gambar utama

Sriwijaya pernah dikenal sebagai kerajaan maritim yang besar. Kerajaan ini juga pernah menjadi pusat penyebaran agama Buddha dan pengajaran bahasa Sanskerta di wilayah Nusantara pada abad 7 Masehi.

Dari abad ke 7 hingga permulaan abad ke 11 Masehi, Kedatuan Sriwijaya merupakan pusat pengajaran agama Buddha. Di tempat ini, ada seorang biksu yang dikenal berpengetahuan luas bernama Dharmakirti.

Demikian terkenalnya sampai-sampai biksu dari daerah jauh pun datang ke Sriwijaya untuk belajar pada Dharmakirti. Para biksu yang datang ke Sriwijaya ada yang tinggal untuk waktu lama untuk memperdalam ilmu agama.

Salah satu biksu yang ikut memperdalam agama Buddha di Sriwijaya adalah I-Tsing. Biksu dari China ini dikenal sebagai seorang penjelajah dan penerjemah teks agama Buddha. Dalam pelayarannya dari China ke India dirinya pernah singgah di Sriwijaya.

Pada kunjungan pertamanya (671-672 Masehi), I Tsing menghabiskan enam bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan Melayu. Dari situ dirinya melanjutkan perjalanan ke negeri Melayu, Kedah, hingga tiba di pantai timur India.

Pada tahun 687 M, dia kembali singgah di Sriwijaya ketika akan kembali ke China. Saat itu Palembang telah menjadi pusat penyebaran agama Buddha. Dirinya tinggal selama dua tahun untuk menerjemahkan kitab suci Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin.

I-Tsing adalah salah satu tokoh yang berperan besar dalam mengungkap Kerajaan Sriwijaya dan perkembangan ajaran Buddha di Nusantara pada abad ke 7 Masehi. Dalam catatannya, dia kagum dengan perkembangan agama Buddha di Sriwijaya.

Bunyi Surat dari Raja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Dirinya bahkan menyarankan para biksu dari negerinya yang hendak menuju Nalanda untuk belajar di Sriwijaya. Ketika tinggal selama dua tahun di kerajaan itu, dirinya juga bertemu dengan para biksu dari pulau-pulau Nusantara lainnya.

“Menurut catatan I-Tsing, terdapat kurang lebih 1.000 biksu yang belajar agama Buddha dan bahasa Sanskerta di Sriwijaya,” tulis K Sholeh dalam Prasasti Talang Tuo Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Sebagai Materi Ajar Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas.

Selain berangkat dari catatan asing, temuan seperti prasasti dari Kerajaan Sriwijaya juga banyak mengungkap eksistensi perkembangan agama Buddha di kerajaan ini. Salah satunya adalah Prasasti Talang Tuo.

Ditulis dalam prasasti itu, Dapunta Hyang Sri Jayanaga berusaha menjadikan imperium Sriwijaya sebagai pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, serta pusat pengajaran agama Buddha di tingkat perguruan tinggi yang diperguru oleh seorang bernama Dharmapala.

Hubungan Sriwijaya dengan Nalanda

Pusat- pendidikan Buddha di India muncul sejak awal Masehi. Ditandai dengan adanya Situs Piprahwa dari abad 1 dan 2 M, Situs Nagarjunakonda abad 3 M, Situs Ganwaria abad dari abad 4 M, dan Situs Nalanda pada abad ke 5 M di masa pemerintahan Gupta

Pada masa Gupta ini ditandai dengan pendirian tempat pendidikan Nalanda yang membawa ajaran Buddha memasuki era sumber ilmu pengetahuan. Memasuki abad 6 M, tempat ini tak hanya dikenal sebagai penghasil karya seni, namun menjadi pusat ajaran Mahayana.

Tradisi Nalanda memainkan peran penting saat memasuki periode Pala pada akhir abad 8 M hingga akhir abad 11 M. Di masa Jaya Pala yang memerintah di Bengal dan Bihar itu, Buddha menjadi ajaran dan praktik resmi di kerajaan.

Pada masa ini pula, pertumbuhan dan perkembangan Buddha Mahayana sangat pesat, khususnya aliran tantrayana. Pada periode ini banyak juga didirikan vihara sebagai bagian dari universitas, dan Nalanda menjadi unggulan juga acuan.

“Pusat-pusat pendidikan itu telah mempengaruhi ajaran Buddha di Nusantara,” kata arkeolog Agus Widiatmoko yang dinukil dari Historia, Sabtu (14/5/2022).

Sumber dari prasasti di India, Nalanda copperplate dari abad 9 M yang ditemukan di Vihara I Nalanda menyebut hubungan bilateral Raja Pala dengan keturunan Dinasti Syailendra bernama Balaputradewa dari Sumatra.

Saga Bajak Laut yang Kuasai Selat Malaka, dan Upaya Laksamana Ceng Ho Menumpasnya

Prasasti Nalanda juga menyinggung tentang Raja Balaputradewa yang membebaskan tanah-tanah sima di beberapa desa di Nalanda, agar dijadikan sebagai asrama untuk pelajar-pelajar yang berasal dari Sriwijaya.

Hubungan diplomatik melalui bidang pendidikan keagamaan ini lantas terus terjalin hingga beberapa masa setelahnya. Selain itu para biksu yang belajar di Nalanda selain diajarkan ilmu agama, juga belajar kepandaian arsitektur dan arca.

Agus misalnya menyebut ada kesamaan antara Situs Muara Jambi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi dengan Situs Nalanda dan Situs Vikramasila di India. Dari sisi arsitektur dan teknologi bangunan, ketiganya disebutnya tampak mirip.

Seperti sama-sama memakai bata sebagai bahan utama. Pun soal pola dan satuan bangunan, meski ada beberapa penyesuaian dengan kondisi geografi lokal. Masing-masing situs mempunyai kompleks bangunan vihara dan kuil pemujaan.

“Kesamaan ini menunjukan, lokasi yang dipakai sebagai pusat pendidikan Buddha pada dasarnya tempat tinggal para biksu dalam menjalankan pendidikan Buddha,” kata Agus.

Pertukaran pelajar

Sebelas abad lalu, Sriwijaya dan Nalanda membangun hubungan diplomasi budaya yang saling menguntungkan. Nalanda dikenal sebagai universitas kuno dan kota kuno di India dan pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha dari tahun 427-1197 M.

Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid, hubungan antara Sriwijaya dan Nalanda penting diketahui. Karena sebelum zaman modern, Indonesia telah terhubung dengan hal penting yakni ilmu pengetahuan.

Sementara itu mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan bahwa hubungan Sriwijaya-Nalanda melalui pendidikan, khususnya pertukaran pelajar, terbukti ampuh membangun hubungan antar bangsa.

“Karena pada akhirnya people to people penting meningkatkan hubungan antar dua negara,” katanya.

Kerajaan ketika itu mengirimkan Pangeran Dharmakirti untuk belajar di Nalanda. Di sisi lain, Sriwijaya juga menerima seorang lulusan Nalanda, Atisha Dipankara untuk melanjutkan studi Buddhisme di Sriwijaya.

Hassan menyebut bahwa Atisha pernah berkata tidak lengkap belajar Buddhisme bila tidak pergi ke Sriwijaya. Padahal katanya, Atisha bukan tokoh sembarangan karena pengaruhnya tidak hanya di India, tetapi juga sampai ke Tibet.

Sejarah Hari Ini (23 April 682) - Perjalanan Suci Maharaja Sriwijaya

Sangking berpengaruhnya, Atisha sampai dibujuk empat kali oleh raja Tibet untuk datang ke negaranya. Setelah tiga kali menolak datang, dia pun setuju dan menjadi tokoh pembaru Buddhisme di Tibet.

“Dan dia alumni Sriwijaya,” kata anggota Nalanda International Advisory Panel itu.

Peran penting lainnya, kata Hassan, Sriwijaya sangat royal memberikan bantuan kepada kerajaan asing. Misalnya Kerajaan Sriwijaya pernah menyumbangkan sebuah bangunan biara kepada Nalanda.

Bukan hanya bangunan biara, Hassan mengungkapkan bahwa Sriwijaya juga berhasil memperoleh konsesi tanah dari raja setempat yang disumbangkan kembali untuk perawatan biara dan beasiswa.

“Sriwijaya, nenek moyang kita telah mengajarkan agar kita lebih banyak memberi,” pungkas Hassan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini