Orangutan, Sekolah, dan Ijazah Agar Bisa Kembali ke Hutan

Orangutan, Sekolah, dan Ijazah Agar Bisa Kembali ke Hutan
info gambar utama

Bukan sekali-dua kali kerap diperoleh laporan mengenai adanya berbagai macam jenis anak satwa atau hewan, yang ditemukan di luar habitat hutan entah karena terpisah dari kawanan dan induknya. Salah satu jenis anakan hewan yang kerap mengalami hal ini adalah orangutan.

Bagi beberapa orang awam yang memiliki kepedulian akan kondisi tersebut, sebagian besar berharap agar anak orangutan yang ditemukan di luar habitatnya bisa langsung dikembalikan ke alam, namun kenyataannya tentu tidak semudah itu.

Sama seperti manusia, anak orangutan juga masih sangat bergantung pada induknya selama hidup di alam bebas. Jika tidak, mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk mengasah insting bertahan hidup seperti mencari makan, menghindar dari konflik, atau melindungi diri ketika ada ancaman.

Jika tidak memiliki beberapa kemampuan di atas, maka bukan tidak mungkin jika akhirnya anak orangutan yang dimaksud akan berujung dengan kematian.

Berangkat dari kondisi di atas, di Indonesia khususnya dalam bidang konservasi lingkungan sendiri akhirnya muncul sebuah yayasan yang menginisiasi gerakan sekolah untuk orangutan. Lagi-lagi bagi segelintir orang awam, mungkin masih ada yang bertanya mengapa orangutan mesti bersekolah?

Sekolah yang ada tidak serta-merta mengharuskan semua anak orangutan yang ada di hutan Indonesia untuk dicari dan ‘mengikuti’ sekolah ini. Nyatanya, sekolah ini justru dikhususkan bagi anak orangutan yang hidup sendirian dan terpisah dari induk dan kawanannya, kehilangan habitat karena pembalakan liar, dan lain sebagainya.

Salah satu sekolah orangutan yang ada di Indonesia di antaranya adalah Borneo Orangutan Survival atau BOS Foundation, yang berlokasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur.

Memahami Peran Gajah dan Orangutan Sebagai Spesies Kunci di Alam Liar

Proses sekolah hingga ‘berijazah’ untuk kembali ke hutan

Apa saja yang biasanya anak orang utan pelajari selama bersekolah?

Menyorot program yang dilakukan BOS Foundation, individu orangutan yang baru pertama kali ditemukan atau datang ke tempat konservasi tersebut biasanya akan lebih dulu dikarantina sebelum mendapatkan pengajaran.

Dibedakan berdasarkan usia, orangutan yang masih berusia sangat kecil bergabung dengan kelompok pembibitan sementara orangutan remaja baru mendapat pengajaran di sekolah. Selama bersekolah, mereka diajarkan keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam liar, sembari mendapat rangsangan untuk mengekspresikan perilaku alami.

Lebih detail, secara mandiri mereka akan belajar semua hal dari awal mulai dari cara menemukan dan membuka semua variasi makanan yang ditawarkan hutan, hingga cara membangun sarang yang aman untuk mereka tinggali.

Setelah dirasa cukup terlatih pada tahap tersebut, mereka kemudian dipindahkan ke kompleks sosialisasi bersama dengan individu lain yang baru pertama kali mereka temui. Hal tersebut lantaran klasifikasi mereka sebagai hewan semi-soliter, orangutan akan dilatih berinteraksi untuk saat-saat tertentu seperti saat masa kawin dan memperebutkan wilayah.

Terus dilatih hingga menunjukkan peningkatan dari hari ke hari, para pemantau orangutan di saat bersamaan juga melakukan evaluasi setiap harinya. Ketika orangutan membuktikan diri mereka sebagai pemburu yang cakap, pemanjat yang mahir, atau pembuat sarang yang inovatif, maka pemantau akan mengetahui apakah mereka sudah siap atau belum untuk kembali ke habitat mereka yang sebenarnya.

Nyatanya setiap individu yang dinilai sudah lulus dari sekolah orangutan memang akan memiliki catatan berupa dokumen atau ‘ijazah’, yang secara tertulis menyatakan jika setiap individu sudah layak kembali ke hutan.

Berambut Pirang dan Bermata Biru, Orangutan Langka Ditemukan di Hutan Kalimantan

Biaya ratusan juta, kemungkinan mati setelah dilepaskan

Pelepasliaran orang utan
info gambar

Setelah dilepas ke alam, bukan berarti pemantauan dari setiap orangutan langsung lepas begitu saja. Nyatanya, tim pemantau akan terus mengikuti individu tertentu setiap bulan untuk mengumpulkan data, terkait penyesuaian mereka terhadap kehidupan di alam liar.

Lain itu, juga masih ada sedikit atau banyak intervensi yang dilakukan jika terdapat individu yang gagal beradaptasi sehingga mengalami luka, atau bahkan jatuh sakit.

Fakta yang tak kalah menarik dari sekolah orangutan adalah biaya yang ternyata mencapai ratusan juta. Agus Irwanto, dokter hewan sekaligus Manajer Program Yayasan BOS Foundation mengungkap jika untuk mendidik seekor orangutan, dibutuhkan dana sekitar Rp3 juta per bulan atau Rp18 juta per semester.

Sementara itu untuk bisa dinilai layak kembali ke hutan dan ‘lulus’ menjalani sekolah, biasanya membutuhkan waktu bervariasi antara lima sampai tujuh tahun. Agus menyebut perbedaan waktu tersebut lantaran orangutan juga memiliki tingkat inteligensi yang beragam, ada yang pintar dan ada juga yang kurang pintar.

“Sama seperti manusia, ada orangutan yang malas dan semaunya sendiri, bahkan ada yang suka bolos sekolah,” ujar Agus, mengutip kaltimkece.id.

Dengan kondisi tersebut, diperkirakan jika bagi satu individu orangutan yang mendapat pembelajaran sekolah, biaya yang dibutuhkan rata-rata mencapai lebih dari Rp100 juta dan mencakup kebutuhan makan serta pemeriksaan kesehatan.

Selama ini, biaya tersebut bisa tertutupi dengan kontribusi pihak swasta, pemerintah, donasi, atau sistem adopsi di mana berlaku dengan cara nama seseorang, yang ‘berstatus’ sebagai orang tua asuh orangutan yang disekolahkan secara simbolis.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada orangutan yang gagal beradaptasi dan akhirnya mati di alam bebas?

Jawabannya ada. Sebenarnya jika terpantau ada orangutan yang ternyata tidak mampu beradaptasi di alam liar, mereka akan diambil kembali ke sekolah. Namun pada beberapa kondisi, ada pula yang akhirnya ditemukan mati.

Agus mengungkap jika pernah ada bangkai orangutan hasil sekolah yang ditemukan mati, penyebabnya diduga akibat jatuh dari pohon.

“Terdata lima orangutan yang mati. Selain terjatuh dari pohon, ada yang sakit atau terluka karena berkelahi. Itulah sebabnya, kurikulum pelajaran orangutan sangat penting,” pungkas Agus.

Orangutan Kalimantan Terancam Punah, Perlindungan Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini