Migrasi Burung, Tamu Tahunan dari Utara yang Ditunggu Para Petani

Migrasi Burung, Tamu Tahunan dari Utara yang Ditunggu Para Petani
info gambar utama

Memasuki pekan kedua bulan Mei menjadi peringatan Hari Migrasi Burung Sedunia atau World Migration Bird Day (WMBD) yang tahun ini jatuh pada tanggal 14 Mei 2022. Setiap tahunnya memang burung melakukan migrasi.

Setiap tahun burung melakukan migrasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Bukan perjalanan yang biasa tentunya dan sederhana. Dibutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra bagi para burung tersebut.

Migrasi sendiri diperlukan oleh burung untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan pakan, tempat yang aman untuk tidur dan bersembunyi, serta tempat untuk kawin dan berkembang biak.

Iklim memainkan peran mendasar dalam menentukan sifat lahan basah dan pergerakan burung. Musim dingin yang panjang memaksa jutaan burung migran yang berkembang biak pergi ke daerah yang lebih hangat di bagian selatan benua.

Misalnya burung pemangsa, agar sampai Indonesia yang berada di ujung selatan Jalur Asia Timur (Eastern Asia Flyway), mereka akan bermigrasi melalui dua koridor. Koridor pertama adalah Koridor Daratan Timur (Eastern Inland Corridor).

Pulau Rambut, Surga bagi Burung-Burung Air Langka di Dunia

Para raptor yang melalui jalur ini akan terbang dari tenggara Siberia melalui timur Tiongkok menuju semenanjung Malaysia, lalu burung ini akan mendarat di Indonesia yaitu Jawa, Bali, dan Lombok.

Sementara Koridor Pasifik (Pacifik Corridor) akan dilalui oleh burung-burung dari timur Rusia yang melewati Kepulauan Jepang dan Taiwan, lalu ke selatan Filipina dan menepi di wilayah Sunda Besar.

Karena letaknya di garis khatulistiwa dengan iklim tropis dan posisinya tepat di tengah belahan bumi utara dan selatan, maka Negara Kepulauan Indonesia sangat strategis menjadi tempat persinggahan penting bagi para migran.

Mengutip dari Mongabay Indonesia, diperkirakan sekitar satu juta individu burung pemangsa ini akan melintasi Koridor Daratan Timur yang panjangnya diperkirakan sekitar tujuh ribu kilometer.

Peneliti burung dari Profauna Indonesia, Made Astuti mengatakan September hingga awal Januari merupakan waktu ideal bagi elang untuk pindah ke belahan bumi selatan. Tujuannya mencari suhu udara yang lebih hangat.

“Di belahan bumi utara saat ini sedang musim dingin atau salju, jadi mereka mencari tempat yang hangat,” ujar Made.

Bermanfaat bagi petani

Dilansir dari Liputan6, pemandangan yang tidak biasa terlihat di Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ratusan burung bangau, seperti menyerbu dan memenuhi area persawahan setempat.

Kawanan burung paruh panjang berwarna putih tersebut nampak mengelilingi dan membuntuti petani. Burung-burung ini seakan tidak takut dengan suara bising yang keluar dari mesin traktor yang sedang membajak sawah.

Kawanan ini sudah lima hari berada di persawahan desa. Burung bertubuh besar ini bermigrasi untuk mencari makan dari balik tanah yang dibajak petani dengan memakan cacing serta serangga seperti jangkrik dan orong-orong.

Petani tak merasa terganggu dengan kehadiran burung bangau. Justru membantu mereka untuk membasmi serangga. Kawanan burung bangau ini akan meninggalkan area persawahan seiring usainya masa tanam padi, lalu mereka akan berpindah.

Sementara itu di Gunung Sega, Bali Timur, ratusan burung pemangsa atau raptor juga sering melintas langit Indonesia. Dari belasan jenis raptor ada 3 jenis yang sering dijumpai, yakni elang sikep madu asia, elang alap china, dan elang nippon.

Elang sikep madu asia sering menyantap larva dalam sarang lebah. Sedangkan elang alap china memangsa satwa lain seperti serangga, reptil, dan pengerat. Elang nippon yang berukuran sedikit lebih besar memangsa mamalia dan reptil kecil.

5 Burung Cantik Asli Indonesia yang Sudah Mulai Langka

Migrasi burung pemangsa memberikan dampak positif bagi pengendalian hama tanaman seperti belalang, tikus, hingga bajing. Elang yang melintas di sekitar Pegunungan Biru dan Anjasmoro misalnya, otomatis berhenti untuk istirahat atau mencari makan.

Peristiwa migrasi burung juga menjadi indikator kualitas lingkungan yang masih baik. Pada kepercayaan tradisional Indonesia seperti Dayak dan Baduy Dalam, kedatangan burung-burung migrasi tersebut menandakan proses pergantian musim.

“Orang Badui melihat aktivitas burung-burung migrasi sebagai waktu datangnya musim hujan dan waktu mulai bercocok tanam,” kata Guru Besar Etnobiologi Unpad, Prof Johan Iskandar yang dikutip dari Unpad.

Namun di beberapa wilayah burung-burung migrasi sering ditangkap dan disembelih oleh penduduk. Prof Johan mencatat, di Indramayu misalnya ada 58 jenis burung migrasi yang biasa diburu penduduk.

Padahal menurutnya, bila gencar mempromosikannya sebagai ekowisata, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut juga merasakan manfaatnya. Di satu sisi, kelestarian lingkungan pun bisa tetap terjaga.

Kerusakan habitat

Namun karena hutan yang kelebatannya berkurang akibat ditebang dan alih fungsi lahan, menyebabkan jumlah elang yang bermigrasi mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Pasalnya hutan sangat dibutuhkan sebagai tempat singgah hingga mencari makanan. Menurut Made, beberapa tahun terakhir jumlah predator yang singgah lebih sedikit dan tercatat tinggal 10.000 individu.

Dicatat olehnya kondisi gunung dan bukit di Malang yang makin berkurang tegakan pohonnya, contohnya lahan ini kini telah beralih fungsi menjadi area pertanian, pemukiman, dan villa.

“Ini sangat berpengaruh dan mengancam habitat burung dan satwa lainnya.”

Pendiri sekaligus Ketua Profauna Indonesia, Rosek Nursahid menegaskan karena kerusakan habitat elang di Jawa Timur sangat berpengaruh terhadap migrasi serta populasi elang lokal.

Empat Dekade Penelitian, 457 Burung Dinyatakan Sebagai Spesies Baru

Dijelaskannya karena hutan dan gunung yang sebagian sudah gundul dan beralih menjadi ladang. Akibatnya, masyarakat sudah mulai sulit melihat elang yang dahulunya sering dijumpai dalam beberapa tahun terakhir.

Padahal bagi Rosek, migrasi ribuan elang seharusnya dapat dimanfaatkan secara ekonomi maupun ekologi, khususnya untuk menjaring wisatawan minat khusus. Namun, hal ini harus diikuti upaya untuk melestarikan hutan dari penebangan liar dan kebakaran.

Fransisca Noni dari Burung Nusantara berpendapat sebagai wilayah penting dari persinggahan burung, pembangunan di Indonesia seharusnya tidak hanya mengejar kepentingan ekonomi semata.

Karena, jelas Noni bila wilayah persinggahan burung berupa hutan maupun lahan basah hilang, maka secara nyata akan menghancurkan pula kehidupan dari para burung migran tersebut.

“Pembangunan harus dilakukan, namun teknologi ramah burung dan ramah satwa liar harus diciptakan yang merupakan tantangan kita bersama mewujudkannya,” jelas Noni.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini