Benteng Fort Rotterdam, Bangunan Megah Simbol Jati Diri Kota Makassar

Benteng Fort Rotterdam, Bangunan Megah Simbol Jati Diri Kota Makassar
info gambar utama

Kota Makassar menyimpan sejarah peradaban kejayaan Kerajaan Gowa pada abad ke 16 atau sekitar tahun 1500 an. Kerajaan Gowa memiliki 17 benteng pertahanan kerajaan yang didirikan mengelilingi benteng utama yaitu Bentang Somba Opu.

Namun saat ini hanya tersisa satu benteng pertahanan yang masih berdiri kokoh yaitu Benteng Ujung Pandang atau Benteng Fort Rotterdam. Benteng ini terletak di tepi pantai sebelah barat Kota Makassar.

Benteng ini mudah dikenali, temboknya tebal dengan ukuran hampir dua meter, berwarna hitam, dan menjulang setinggi hampir lima meter. Gerbang utamanya yang melengkung memberikan kesan megah.

Keberadaan Benteng Fort Rotterdam menjadi salah satu benda peninggalan sejarah dan saksi bisu runtuhnya kerajaan Gowa oleh Belanda. Karena itu benteng ini memiliki kekayaan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

Benteng Fort Rotterdam ini dibangun oleh Raja Gowa IX yang kemudian diselesaikan oleh Raja Gowa X pada tahun 1545. Benteng ini termasuk yang paling megah ketimbang benteng lainnya, dan masih terjaga hingga saat ini.

Perang Makassar, Ketika Ayam Jantan dari Timur Tolak Tunduk kepada Belanda

Pada awalnya, benteng ini berbentuk segi empat seperti halnya benteng gaya Portugis. Bahan dasarnya adalah campuran batu dan tanah liat yang dibakar hingga kering, Selanjutnya dibangun kembali menggunakan batu padas dari pegunungan Karst.

Rekonstruksi ini dilakukan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 yakni Sultan Alauddin. Kemudian pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang.

Benteng ini pernah hancur pada masa penjajahan Belanda. Saat itu Belanda menyerang Kesultanan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin, yaitu antara tahun 1655 hingga tahun 1669.

Gubernur Jenderal Speelman kemudian membangun kembali benteng yang sebagian hancur dengan model arsitektur Belanda. Bentuk benteng yang tadinya segi empat dengan empat bastion, ditambahkan satu bastion lagi di sisi barat.

Nama benteng pun diubah menjadi Fort Rotterdam, sesuai tempat kelahiran Speelman. Benteng ini kemudian difungsikan sebagai markas komando pertahanan, kantor perdagangan, kediaman pejabat tinggi, dan pusat pemerintahan di wilayah timur.

“Fort Rotterdam menjadi satu-satunya benteng yang dibangun di Makassar pada abad 17-18 dan menjadi simbol hegemoni VOC di wilayah Sulawesi Selatan,” catat Djoko Marihandono dalam Perubahan Peran dan Fungsi Benteng dimuat Wacana Vol 10 No 1, 2008.

Filosofi Fort Rotterdam

Keberadaan Benteng Fort Rotterdam tak bisa dilepaskan dari kehadiran Kongsi Dagang Belanda (VOC) di Sulawesi. Mereka datang untuk berdagang di Pelabuhan Ujung Pandang milik Kerajaan Gowa yang ramai.

Saat itu Gowa tumbuh sebagai kekuatan politik dan militer yang kuat. Bahkan menjadi simbol dari kerajaan yang bisa menguasai lautan dan daratan. Hal inilah yang jadi latar belakang bentuk dari arsitektur benteng tersebut.

Benteng Fort Rotterdam ini menyerupai seekor penyu yang merupakan filosofi Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun lautan. Sehingga terkadang masyarakat setempat masih menamakannya Benteng Panynyua (penyu).

Dinding benteng Fort Rotterdam kokoh menjulang setinggi 5 meter dengan tebal sekitar 2 meter, memiliki pintu utama berukuran kecil. Secara umum Benteng Fort Rotterdam memiliki luas sekitar 3 hektare.

Benteng ini memiliki 5 bastion, yaitu bangunan yang posisinya lebih tinggi pada sudut benteng yang biasanya untuk menempatkan meriam, yakni Bone, Bacaan, Buton, Mandarasyah, dan Amboina.

Kota Terbesar Indonesia Kedua di Luar Pulau Jawa

Tiap bastion dihubungkan dengan dinding benteng, kecuali bagian selatan. Untuk naik ke bastion terdapat terap dan susunan batu padas hitam dan batu bata. Bastion memiliki celah yang berfungsi sebagai tempat mengintai atau menembak.

Berdampingan dengan tembok pertahanan terdapat pula parit. Bentuknya asli memanjang dan mengikuti bentuk site plan benteng yang menyerupai penyu. Namun sebagian besar parit telah ditimbun untuk pembangunan rumah dan gedung di sekitarnya.

Kompleks Benteng Fort Rotterdam merupakan lokasi berdirinya sejumlah bangunan bergaya kolonial dan pintu gerbang, sumur kuno, parit, serta tembok yang mengelilingi bangunan megah ini.

Lantai dasar bangunan yang terletak di sudut tenggara benteng, dahulunya digunakan sebagai penjara. Sedangkan penjara untuk menahan Pangeran Diponegoro terletak di Bation Bacan.

Saat ini benteng Fort Rotterdam diisi dengan koleksi bersejarah seperti museum, mulai dari zaman prasejarah seperti bebatuan hingga senjata kuno milik masyarakat dan Kerajaan Gowa.

Di area Benteng Fort Rotterdam terdapat juga museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.

Simbol Kota Makassar

Sebagai situs bangunan sejarah, benteng ini menjadi bukti nyata kisah panjang masa kolonialisme yang pernah ada di bumi Indonesia. Selain itu, benteng ini juga menjadi saksi bisu sejarah panjang kota Makassar dengan keagungannya.

Di dalam benteng terdapat 13 bangunan yang 11 di antaranya adalah bangunan asli dari abad ke 17, sedangkan dua bangunan lainnya didirikan pada masa pendudukan pemerintahan Jepang.

Kompleks di sisi utara adalah bangunan-bangunan tertua dari tahun 1686, yang meliputi kediaman gubernur, kediaman saudagar senior, kapten, dan sekretaris dengan beberapa bangunan penyimpanan senjata.

“Bersamaan dengan perluasan dan pembangunan baru yang bersumber dari benteng. Makassar tumbuh menjadi kota dengan tata ruang kolonial,” catat Djoko.

Menurut Dias Pradadimara dalam Penduduk Kota, Warga Kota, dan Sejarah Kota: Kisah Makassar hal ini menandakan keterputusan sejarah dengan Benteng Samba Opu yang terletak di sebelah selatannya.

Siap-Siap, Makassar New Port Akan Rampung Pada Oktober 2018!

Pada tahun 1937, Benteng Fort Rotterdam diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Yayasan Fort Rotterdam. Pada tanggal 1940, bangunan ini didaftarkan sebagai monumen bersejarah.

Ketika masa pendudukan Jepang, benteng ini digunakan sebagai pusat penelitian ilmu pertanian dan bahasa. Benteng Fort Rotterdam kemudian beralih fungsi menjadi pusat kegiatan pertahanan Belanda dalam menghadapi pejuang-pejuang Indonesia.

Benteng Rotterdam kemudian dijadikan Pusat pertahanan Tentara Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Kemudian benteng ini dipugar oleh pemerintah dan difungsikan sebagai gedung perkantoran.

Setelah beberapa kali beralih fungsi, benteng ini diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1970. Kantor Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Wilayah IV juga ditempatkan di benteng ini.

Saat ini, Benteng Fort Rotterdam ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya tahun tanggal 22 Juni 2010, hal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini