Makam Nyai Tembong, Pusara Kucing Kesayangan PB X di Trotoar Solo Baru

Makam Nyai Tembong, Pusara Kucing Kesayangan PB X di Trotoar Solo Baru
info gambar utama

Sebuah makam berukuran kecil membujur di trotoar jalan penghubung Solo-Sukoharjo, kawasan Tanjunganom, Sukoharjo, Jawa Tengah. Seperti makam pada umumnya, pusara ini menghadap ke utara-selatan dan terdapat aksara Jawa.

Bila dilihat dari ukurannya, makam dengan ukuran mini ini seperti makam bayi. Namun rupanya makam ini tidak berisi manusia. Konon ini kuburan salah satu kucing kesayangan Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Pakubuwono X.

Kucing kesayangan Raja Pakubuwono X ini bernama Nyai Sembro atau Nyai Tembong . Nyai Tembong merupakan jenis kucing condromowo berwarna hitam. Pusara terakhir Nyai Tembong mengikuti warna kucing yang juga hitam.

Pada salah satu sisi nisan tersebut, terdapat tulisan aksara Jawa yang berbunyi "Klangenan Dalem Nyai Tembong" (Kesayangan Raja Nyai Tembong). Tulisan tersebut menjelaskan nama kucing dan bukti sayang PB X terhadap hewan kesayangannya.

Komunitas sejarah Kota Solo, Solo Societeit pernah membuat kajian mengenai makam kucing tersebut. Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni menyebut PB X sebenarnya memiliki tiga ekor kucing.

“Dari sejumlah dokumen yang saya baca, PB X memiliki tiga kucing, dua berjenis Persia, satunya Siam. Kucing Persia ini pada zaman dahulu sangat jarang dimiliki,” kata Dani yang dikutip dari Detik, Rabu (18/5/2022).

Ritual Manten Kucing, Tradisi Masyarakat Meminta Hujan di Tulungagung

Dani menyebut kucing persia milik PB X itu juga disebut sebagai jenis candramawa. Penamaan candramawa diambil dari cerita dalam kitab karya pujangga kenamaan Keraton Surakarta, R Ng Ronggowarsito.

Disebutkan olehnya candramawa adalah istilah untuk menggambarkan kucing hitam dengan corak putih di kepala dan kaki. Dalam Serat Pustaka Raja Purwa karya Ronggowarsito, diceritakan tentang Dewa Candra (bulan) yang pernah menjelma sebagai kucing.

“Kucing ini juga memiliki mata setajam bulan purnama,” ujarnya.

Menurut Dani, kucing yang dikubur tersebut berjenis kelamin betina. Sedangkan saat disinggung dari mana asal kucing kesayangan PB X itu, dirinya tidak mengetahui persis. Namun dia menduga kucing jenis persia tersebut diimpor.

Dani juga tidak mengetahui kapan Nyai Tembong mati. Di sisi lain, dia menjelaskan bahwa pada masa itu, hewan peliharaan seperti kucing candramawa sudah mendapat tempat di hati masyarakat Solo.

“Di majalah Kejawen disebutkan pada tahun 1931 kucing itu masih ada atau masih hidup. Matinya tahun berapa enggak tahu. Sedangkan Sinuhun PB X sendiri seda (meninggal) pada tahun 1939,” katanya.

Tempat pemakaman hewan

Semasa hidupnya, kucing Nyai Tembong memang memiliki sejumlah mitos. Ada keyakinan kata Dani, Nyai Tembong akan membuat lemas hewan yang dilihatnya. Adanya Nyai Tembong membuat lahan serta kandang menjadi bersih dari hama yang mengganggu.

Namun cerita ini hanya sekadar mitos, karena tidak semua masyarakat bisa melihat langsung kucing ini. Sehingga kucing kesayangan dari PB X itu hanya bisa dikagumi oleh masyarakat sekitar.

“Wah ini kucing dewa, spesial, sekti, dan sebagainya. Itu keyakinan yang berkembang di lingkungan masyarakat keraton dan sekitar. Tetapi itu sebuah ungkapan kekaguman. Karena bentuk kucingnya bagus,” imbuhnya.

Tidak hanya dikagumi semasa hidup, setelah mati dan dikubur di Tanjunganom, kucing candramawa peliharaan Raja Solo itu kerap diziarahi sejumlah masyarakat. Mereka kebanyakan adalah petani yang tinggal di Grogol dan sekitarnya.

Selain itu dahulunya kawasan ini diduga bekas makam klangenan atau hewan-hewan dari Keraton Surakarta. Pasalnya, saat menggali tanah untuk bangunan ditemukan kerangka hewan. Kini lahan tersebut telah beralih fungsi menjadi Jalan Raya Solo Baru.

“Sudah lama ini. Dahulu juga pemakaman hewan keraton. Paling lama (makam) ini karena enggak berani dipindah. Yang lain sudah dibangun (diganti bangunan),” ungkap Mujo warga asli Tanjunganom yang dipaparkan Kumparan.

Menabrak Kucing Bakal Kena Sial, Masih Dipercaya Masyarakat Indonesia

Pemerhati sejarah di Solo, KRMT L Nuky Mahendranata Nagoro membenarkan bahwa daerah Tanjunganom dahulunya merupakan lokasi pemakaman binatang-binatang kesayangan Raja Keraton Solo.

Lokasi itu dahulunya merupakan persawahan dan terdapat sungai yang biasanya digunakan untuk memandikan gajah. Menurut penuturannya yang dimakamkan di situ selain kucing, ada juga kuda, burung dan lain sebagainya.

Walau banyak binatang yang dimakamkan di daerah tersebut, hanya kucing tersebut yang diberikan nisan atau kijing. Namun dirinya tidak bisa memastikan kapan makan kucing tersebut dibangun, karena hanya tertulis namanya saja.

Dirinya juga belum bisa memastikan mengapa makam tersebut tidak dipindah dan dibiarkan begitu saja berada di trotoar jalan. Dirinya hanya menduga, hal ini karena posisinya yang masih di trotoar sehingga tidak bisa dipindah.

Makam mistik?

Makam ini memang bukan sembarang makam, beberapa orang percaya makam ini adalah makam keramat. Alhasil, meski sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Makam kucing ini tak pernah dipindah sekali pun.

Walau letaknya tepat berada di tengah keramaian kota, makam ini masih berdiri kokoh. Bahkan saat membuat lintasan gorong-gorong, pihak Dinas Pekerjaan Umum (DPU) tidak berkenan memindahkan pusara kucing ini.

Karena itu, lintasan gorong-gorong saluran drainase pun dibelokkan agar tak mengubah dan merusak makam Nyai Tembong. Saat makam masih berada di area sawah, banyak para petani yang memberikan sesajen di makam Nyai Tembong.

“Di situ juga sering dilakukan ritual. Ketika sebelum tanam, petani-petani memberi sesaji di situ, karena kucing kan musuhnya tikus. Jadi harapannya hama tikus tidak menyerang tanaman mereka,” jelas Nuky.

Beberapa pelaku spiritual dari luar kota Solo pernah ada yang sengaja berziarah ke makam Nyai Tembong. Selain itu, ada beberapa kejadian yang tidak masuk akal tentang makam Nyai Tembong.

Misalnya kabar pemuda yang menguji nyali untuk mengotori makam Nyai Tembong dengan urine. Tak lama berselang, pemuda tersebut datang kembali untuk membersihkan makam. Menurutnya, setelah kencing dia langsung jatuh sakit dan alat kelaminnya bengkak.

Namanya Busok, Kucing Leopard dari Madura yang Ingin Diakui Dunia

Yudi, pemilik rumah di sebelah makam, mengaku sudah mengetahui keberadaan makam tersebut sejak kecil. Namun, berdasarkan cerita orang tuanya, jalan di depan rumahnya masih berupa perkampungan.

Meski hidup berdampingan dengan makam, Yudi mengaku tidak pernah merasakan adanya hal aneh. Justru banyak orang dari luar kampung yang bercerita melihat sesuatu yang aneh tentang makam unik itu.

“Kalau orang sini tidak pernah melihat yang aneh-aneh. Malah orang luar biasanya yang melihat, misalnya burung, atau ada mobil tiba-tiba berhenti dikira menabrak kucing, padahal tidak apa-apa,” ujarnya yang disadur dari Detik.

Yudi mengaku sejak zaman kakek neneknya masih ada yang melakukan ziarah, namun saat ini sudah hampir tidak ada. Keberadaannya makam itu, kata Yudi, hanya sebagai penanda sejarah, salah satunya agar masyarakat juga mencintai binatang.

“Kalau bagi saya ini semacam tetenger (penanda) kalau dahulu PB X suka dengan kucing. Selain itu kan binatang dari keraton juga dimakamkan semua. Belajar dari situ, kita juga harusnya juga sayang binatang,” katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini