Peluncuran Modul Tular Nalar Guna Tingkatkan Keahlian Literasi Digital dan Media

Peluncuran Modul Tular Nalar Guna Tingkatkan Keahlian Literasi Digital dan Media
info gambar utama

Pada masa pandemi ini terjadi peningkatan pengguna internet. Salah satunya karena anjuran untuk berkegiatan dari rumah, termasuk aktivitas belajar-mengajar dengan metode Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Pada level perguruan tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek mengembangkan LMS Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) Indonesia.

Dalam rangka mendukung pembelajaran daring tersebut, MAARIF Institute, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan Love Frankie didukung oleh Google.org bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek meluncurkan modul literasi digital dan media Tular Nalar dengan tema: “Tular Nalar di SPADA: Penguatan Modul Literasi Digital di Pendidikan Tinggi”.

“Melalui hadirnya modul Tular Nalar di SPADA ini diharapkan dapat memberikan ilmu, pengetahuan dalam kehidupan bermedia sosial. Dengan semakin kritisnya pemikiran masyarakat khususnya para dosen dan mahasiswa diharapkan mampu memerangi hoax dan informasi salah yang destruktif yang mengganggu kehidupan bermasyarakat. Tentunya, hal ini bisa dicapai melalui kerjasama berbagai pihak mulai dari pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Mari sama-sama berjihad melawan hoaks untuk kebaikan Indonesia,” ujar Abd. Rohim Ghazali, Perwakilan Konsorsium Tular Nalar dan Direktur Eksekutif MAARIF Institute.

Peluncuran modul tersebut diharapkan dapat mendukung para pengajar dalam mengajarkan keahlian literasi digital dan media, termasuk soal menangkal hoaks, disinformasi, dan misinformasi dalam konteks Covid-19.

''Upaya dalam mengantisipasi penyebaran misinformasi dan disinformasi tidak hanya terbatas dalam pengembangan teknologi, namun juga memperluas kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil dan pihak pihak terkait untuk membangun ketahanan diri terhadap misinformasi dan disinformasi masyarakat Indonesia pada umumnya,'' jelas Arianne Santoso, Senior Analyst Government Affairs and Public Policy, Google Indonesia.

Mengingat penggunaan internet di Indonesia yang sangat masif tetapi belum dibarengi dengan tingkat literasi media dan digital dan belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jelajah Kuburan di Bandung, Melihat Permakaman sebagai Media Literasi

Modul literasi digital dan media Tular Nalar

Caption
info gambar

Menurut penjelasan Plt. Direktur Belmawa Ditjen DIKTI Kemendikbudristek, Dr. Ir. Kiki Yuliati, M.Sc, modul ini merupakan materi esensial bagi mahasiswa dan dosen. Harapannya dapat memperkaya materi yang ada di SPADA Indonesia dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh dosen dari berbagai program studi dalam membekali para mahasiswanya dengan kemampuan literasi digital untuk menghadapi banjir informasi di masa ini dan masa yang akan datang.

Santi Indra Astuti, S.Sos. M,Si, selaku Program Manager MAFINDO sekaligus Penyusun Modul Tular Nalar menambahkan bahwa modul ini terbagi menhadi delapan kompetensi, yaitu mengakses informasi, mengelola informasi, memproses informasi, mendesain informasi, berbagi informasi, ketangguhan diri, perlindungan data, dan kolaborasi.

Kemudian dari delapan kompetensi tersebut dikelompokan menjadi tiga level kemampuan, yaitu Tahu, Tanggap, dan Tangguh. Dalam modul Tular Nalar juga terdapat beragam tema yang fleksibel untuk penunjang materi di berbagai prodi. Pada setiap tema akan dilengkapi dengan video, materi belajar, kuis, dan lesson plan untuk mendukung pembelajaran yang aktif.

Berikut delapan topik yang dibahas dalam Modul Tular Nalar:

1. Berdaya Internet

Topik ini merupakan pembekalan dasar literasi digital yang merinci apa saja kompetensi digital yang dibutuhkan oleh setiap individu sebagai pengguna media digital dan menjadi pintu untuk memahami tema-tema berikutnya dalam program Tular Nalar.

Pada tema ini akan diperkenalkan konsep berpikir kritis dengan membekali dan mendalami aspek mengakses dan mengelola informasi yang menjadi gerbang awal untuk lebih berdaya di dunia digital, terutama media sosial dengan informasi yang begitu masif. Dengan memahami tema ini, kita dapat mengenali mana informasi benar dan salah, seperti hoaks.

2. Internet dan Ruang Kelas

Tema Internet dan Ruang Kelas dapat digunakan sebagai panduan yang jelas dan sederhana untuk bisa memaksimalkan media digital sebagai media pembelajaran yang efektif. Tema ini akan membekali kemampuan dalam mengakses dan mengelola informasi.

Mengakses Informasi berarti dapat terhubung dengan piranti digital yang digunakan untuk mendapatkan informasi. Sedangkan Mengelola Informasi berarti mengolah informasi sesuai dengan kebutuhannya.

3. Internet dan Kesehatan

Tema ini dapat membantu masyarakat menghindari hoaks tentang Covid-19 dan kesehatan secara umum. Pada masa pandemi ini, salah satu tantangan yang dihadapi ini juga mengenai informasi yang berlebihan soal isu kesehatan.

Tanpa disadari, beberapa informasi tersebut ternyata hoaks dan menyesatkan. Dalam materi tema ini akan berfokus pada pembekalan kompetensi mengakses informasi, memproses informasi, dan berkolaborasi untuk menyebarluaskan informasi yang valid di media sosial.

Perlu diketahui bahwa berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika sampai Februari 2022 telah memblokir 5.299 hoaks yang ada di media sosial. Berbagai berita palsu semakin cepat menyebar di tengah kekalutan masyarakat dalam menghadapi kondisi pandemi dan dorongan untuk hidup dalam dunia digital.

4. Internet dan Keluarga

Tema keempat ini akan mengajak kita melihat lebih jauh bagaimana keluarga menjadi pilar penting dalam tumbuh kembang anak pada media digital. Meski di satu sisi penggunaan media sosial dapat menghubungkan kita dengan orang lain di seluruh dunia, tetapi juga dampak negatifnya tak dapat dianggap remeh.

Dalam hal ini, keluarga punya peran penting dalam proses tumbuh kembang seorang individu serta menguatkan nilai, norma, dan budaya. Setiap anggota keluarga diharapkan memiliki kemampuan untuk mengakses, memproses, dan berbagi informasi yang benar serta mematuhi kaidah, norma, etika, dan hukum di dunia digital.

Sebagai contoh orang tua perlu melindungi anaknya dari dampak buruk penggunaan media sosial, terhindar dari perundungan, kekerasan siber, penipuan, hingga provokasi.

5. Menjadi Warga Digital

Materi ini akan memberikan pemahaman kepada peserta mengenai potensi media digital sebagai ruang interaksi antarwarga dan menjelaskan mengenai aspek etika dan moral dalam berinteraksi di media digital.

Topik ini juga akan menjelaskan berbagai aturan yang berlaku di media digital, termasuk aturan dari pengelola platform media digital dan yang disahkan ke dalam undang-undang.

6. Internet Damai

Pemilhan tema ini lahir dari banyaknya hoaks dan ujaran kebencian yang berpotensi menjadi memecah-belah masyarakat. Maka dari itu, berpikir kritis menerima informasi adalah sebuah cara untuk menghindari situasi seperti ini.

Materi ini juga diciptakan dengan tujuan membantu meredam laju infodemik yang ramai beredar sekaligus mampu menyikapi isu-isu yang berpotensi menyemai perpecahan bernuansa SARA.

7. Internet dan Siaga Bencana

Tema Internet dan Siaga Bencana akan berfokus pada pembekalan kompetensi mengakses informasi, memproses informasi, dan berkolaborasi menyebarluaskan informasi yang valid di media sosial untuk menghadapi simpang siur informasi di saat bencana.

Dengan memahami materi ini dapat mengupayakan ekosistem informasi yang bebas dari hoaks yang dapat mengganggu mitigasi bencana serta meningkatkan kesiagaan bencana.

Dalam situasi bencana memang tak dapat dimungkiri sering terjadi simpang siur informasi yang dapat menyesatkan, bahkan menimbulkan kerugian lebih banyak. Maka dari itu, kemampuan berpikir kritis saat menghadapi bencana adalah hal yang sangat penting.

8. Internet Merangkul Sesama

Topik ini merupakan materi literasi digital yang fokusnya membahas penggunaan teknologi Internet bagi para tunanetra agar menjadi berdaya dengan internet.

Di dalam meteri ini akan ada pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman mengenai cara mengelola konten bagi tunanetra, pendamping tunanetra, dan warga non-difabel untuk lebih peka terhadap kebutuhan sahabat atau anggota keluarga difabel.

Untuk dosen dan mahasiswa yang ingin mempelajari Tular Nalar di SPADA Indonesia dapat mengakses modul di laman resmi LMS SPADA Indonesia.

LITERATALKS 3.0: Tingkatkan Daya Literasi Anak Muda Kala Pandemi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini