Semerbak Teh, Mimpi yang Pernah Indah bagi Warga Priangan

Semerbak Teh, Mimpi yang Pernah Indah bagi Warga Priangan
info gambar utama

Sejarah masuknya teh di tanah Priangan sudah dimulai sejak zaman Kongsi Dagang Belanda (VOC) alias kompeni. Ketika itu teh sebagai komoditas dagang sudah dibawa oleh para pedagang Tionghoa asal Kanton dan Fujian yang berlabuh di Batavia.

Seperti diketahui, tradisi meminum teh di China telah ada sejak ribuan tahun lalu. Sementara orang-orang Belanda di Hindia Belanda memiliki tradisi minum teh yang biasanya dilakukan saat sarapan pagi.

Hingga kini belum diketahui kapan penanaman pertama pohon teh di tanah Jawa. Namun pada tahun 1691, Dr Valentijn, seorang sejarawan terkemuka, menemukan sepucuk tanaman teh di kebun milik Gubernur Jenderal J Champhuis di Batavia.

“Terdapat tiga jenis tanaman langka, pohon teh muda asal China setinggi pohon kismis,” tulisnya.

Apa Kabarnya Budaya Ngeteh di Tengah Menggeliatnya Tren Ngopi?

Membutuhkan waktu cukup lama bagi pemerintah kolonial untuk memberi perhatian lebih pada tanaman teh. Dalam satu surat tertanggal 15 Maret 1728, tercatat usulan untuk memulai perdagangan dan penanaman komoditas teh di Jawa.

Namun mengingat keadaan VOC yang sedang dalam kondisi sakaratul maut ketika itu, usaha pembudidayaan teh di Pulau Jawa tidak sempat dilakukan. Upaya penanaman teh ini kembali serius dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

M Ryzki Wiryawan dalam artikel Sepetik Kisah Teh di Priangan menyebut perkembangan perkebunan teh kembali mengalami kemajuan, terutama setelah benih teh China mulai digantikan oleh bibit teh Hibrida asal Assam India tahun 1878.

“Teh yang ditanam di kawasan Priangan ini memiliki rasa yang khas dibanding teh dari negara lainnya,” jelasnya.

Berbeda dengan tanaman kopi yang menimbulkan mimpi buruk. Ryzki berpendapat bahwa perkebunan teh memberikan mimpi yang lebih baik bagi warga Priangan. Hal ini karena pengelola perkebunan teh dilakukan oleh swasta.

Orang-orang swasta atau partikulir, jelasnya lebih manusiawi dalam memperlakukan bangsa pribumi, dibandingkan pengelola perkebunan kopi yang dimonopoli pemerintah kolonial beserta jajarannya.

Kemakmuran dari teh

Apabila pembudidayaan kopi dilakukan melalui metode tanam paksa, menurut Ryzki, budidaya teh dilakukan secara sukarela oleh masyarakat di Priangan. Hal ini mula-mula dilakukan di halaman rumahnya, lalu disetorkan kepada pihak perkebunan.

Pada tahun 1870, perkebunan teh swasta ini mulai membagikan bibit tanaman teh kepada rakyat di desa-desa terdekat. Desa-desa penghasil teh ini lantas kemudian dikenal sebagai “kampoeng daoen”.

“Ini menjadi awal bagi penanaman teh rakyat di Jawa Barat,” bebernya.

Kepemilikan lahan secara perorangan kemudian didukung oleh UU Agraria tahun 1870. Setelah itu petani lokal mulai leluasa mengembangkan pertanian yang tadinya hanya dilakukan di halaman rumah menjadi ke perkebunan yang lebih luas.

Kemudian terjadilah hubungan simbiosis antara petani teh dengan pengolah daun teh. Para petani ini akan menjual teh kepada pabrik terdekat. Dicatat oleh Ryzki, hampir semua perkebunan swasta memiliki pabrik teh sendiri.

Kapan Pertama Kali Teh di Indonesia?

Para pemilik perkebunan teh di Priangan yang dijuluki Preanger Planters ini berhasil meraup kekayaan yang luar biasa dari komoditas teh. Mereka adalah orang-orang Eropa yang membuka perkebunan di sana.

Sebagai gambaran, pada tahun 1852, Sir Walter Kinloch mengunjungi perkebunan milik Mr.Brumsteede di Tjembooliyut (Cimbeuleuit). Dirinya mengungkapkan perkebunan ini setiap tahun menghasilkan 152.000 pon teh.

Biaya produksi dari tiap pon-nya berkisar 45 sen, teh dijual ke pemerintah dengan harga 75 sen. Artinya, jelas Ryzki, dari setiap pon teh saja, seorang pengusaha sudah memperoleh keuntungan 30 sen.

Lebih hebatnya lagi, sebagian besar teh dari Jawa khususnya Priangan dikirimkan ke Inggris. Tidak aneh memang, mengingat orang-orang Inggris mengkonsumsi lebih dari setengah produksi teh dari seluruh dunia.

Bahkan pada tahun 1835, teh dari Priangan ini merupakan teh pertama di luar China yang masuk pasar Eropa. Hingga tahun 1940, ekspor teh mencapai 72.500 ton sehingga komoditas ini menduduki peringkat ke 2 dari komoditas ekspor setelah karet.

Dari teh untuk Priangan

Ditulis oleh Ryzki, para Preanger Planters yang memiliki kekayaan luar biasa ini nantinya akan memberi andil besar dalam pembangunan, khususnya kota Bandung. Mereka juga dikenal memiliki kepekaan sosial yang cukup tinggi dengan orang pribumi.

“Mengingat keseharian mereka yang selalu berhubungan dengan masyarakat setempat,” jelasnya.

Dari keluarga Raja Teh Priangan ini kemudian muncul beberapa nama seperti Karel Frederik Holle, Kerkhoven, dan Bosscha. Nama-nama ini merupakan pemilik perkebunan yang mempunyai perhatian besar terhadap orang pribumi.

Misalnya pembangunan kampus ternama di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dibangun pemerintah Belanda. Kampus ini dibangun dengan sumbangan besar dari para Preanger Planters, salah satunya Karel Albert Rudolf Bosscha.

Tanpa andil dari Bosscha, mungkin saja ITB tidak akan pernah berdiri. Sedangkan dari kampus inilah banyak lahir penggerak kemerdekaan Indonesia, salah satu yang utamanya tentunya Soekarno.

Sementara itu pada 1927, pemerintah kolonial Belanda mengubah bangunan dengan nama Vila Tan menjadi sekolah bernama Het Christelijk Lyceum (HCL). Bangunan yang kini dikenal dengan nama SMAK Dago ini pernah menjadi sekolah dari BJ Habibie.

Teh Indonesia dan Serba-Serbinya

Ada juga Taman Flexi, di dalamnya terdapat pohon beringin yang menjulang tinggi besar. Pembangunan taman ini didedikasikan kepada Bosscha. Sosok saudagar kaya yang sangat dermawan dan memberikan pengaruh besar bagi pembangunan Bandung.

“Bosscha meski bagian dari penjajah Belanda, dia sangat dermawan dan berperan besar pada sumbangan untuk pembangunan kota Bandung kala itu,” ujar Arya yang dilansir dari Republika.

Kota Bandung juga tidak bisa lepas dari Jalan Braga yang telah menjadi ikon kota kembang ini dari tempo dahulu. Jalan Braga telah menjadi pusat berkumpulnya bangsawan-bangsawan Belanda untuk memperlihatkan kekayaannya.

Bukan hanya sekolah dan ekonomi, pemerintah kolonial juga membangun sebuah panti untuk penyandang tunanetra. Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna Bandung ini lahir atas keprihatinan seorang dokter Belanda.

Bila melihat dari pertumbuhan kota, ternyata selain membawa hasil bumi Tanah Parahyangan, Belanda juga memiliki peran dalam pembangunan kota Bandung yang masih terekam jejaknya hingga kini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini