Upaya Mitigasi Konflik dengan Manusia, Gajah Sumatra Dipasangkan GPS Collar

Upaya Mitigasi Konflik dengan Manusia, Gajah Sumatra Dipasangkan GPS Collar
info gambar utama

Konflik dengan manusia menjadi salah satu pemicu tingginya angka kematian gajah. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ada 46 kasus kematian gajah di Aceh dalam kurun 2015-2021. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, A. Hanan, mengatakan penyebab kematian gajah di wilayahnya didominasi konflik satwa mamalia besar itu dengan masyarakat, yakni 57 persen. Sementara 10 persen akibat perburuan liar dan 33 persen mati secara alami.

Salah satu contoh kasus konflik dengan manusia terjadi pada pertengahan tahun 2021. Saat itu Tim Rescue Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau turun tangan menindaklanjuti laporan seorang warga bernama Sujono, yang mengatakan bahwa ada kawanan gajah liar merusak tanaman kelapa sawit dan pondok kerja di kebun yang ia jaga.

Pada bulan Februari 2022, tim PLG Minas juga melanjutkan mitigasi konflik gajah Sumatra dengan melakukan penggiringan di Kel. Rantau Panjang, Kec. Rumbai, Kota Pekanbaru. Dalam penggiringan tersebut diketahui kawanan gajah liar sudah merusak dua unit rumah warga. Tim juga mengevakuasi dua keluarga yang rumahnya terjebak kawanan gajah liar karena dikelilingi satwa tersebut.

Tindakan mitigasi konflik gajah dan manusia perlu dilakukan secara hati-hati karena menyangkut keselamatan manusia dan gajah itu sendiri. Pengusiran dan penggiringan gajah kembali ke habitat biasanya dilakukan jika gajah telah berada di luar habitatnya dan menimbulkan konflik atau gangguan kepada masyarakat.

Jejak-jejak Keberadaan Gajah yang Pernah Hidup di Tatar Sunda

Pemasangan GPS Collar pada gajah

Ilustrasi pemasangan GPS Collar pada gajah | Menlhk.go.id
info gambar

Sebagai upaya upaya mitigasi konflik dan monitoring gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Kantong Habitat Sugihan - Simpang Heran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), BKSDA Sumatra Selatan (Sumsel) melakukan pemasangan GPS Collar pada dua kelompok gajah liar.

Menurut keterangan Ujang Wisnu Barata selaku Kepala BKSDA Sumsel, pemasangan GPS Collar ini merupakan upaya mitigasi konflik dan sekaligus memantau efektifitas penggunaan ruang (jalur jelajah) yang kajian studi ilmiahnya sudah dilakukan dengan melibatkan perusahaan konsesi yang wilayahnya terdapat kelompok gajah liar, Perkumpulan Jejaring Hutan dan Satwa (PJHS), Universitas Sriwijaya, dan Universitas Pakuan.

Langkah ini juga dinilai sebagai aksi konkret dalam meningkatkan upaya konservasi in-situ dalam pelestarian gajah Sumatra yang merupakan satwa prioritas terancam punah di Provinsi Sumatra Selatan.

Adapun pemasangan GPS Collar ini beranggotakan orang-orang yang berpengalaman dalam penanganan gajah liar dari BKSDA Sumsel, Balai TN Way Kambas, Tim PJHS, dan didukung oleh dokter hewan serta perusahaan konsesi yang menjadi jalur jelajah gajah.

“Proses dan tahapan pemasangan GPS Collar pada 2 kelompok gajah telah berlangsung sejak April 2022, melalui tahapan survei keberadaan kelompok gajah target, pengondisian tim dan peralatan, serta pendekatan kepada masyarakat dan para pihak," jelas Ujang.

Ketua PJHS Syamsuardi mengatakan bahwa terdapat tiga kelompok di wilayah Air Sugihan menjadi target kelompok yang akan dilakukan pemasangan GPS Collar.

Menurut Syamsuardi, GPS Collar adalah salah satu alat yang digunakan untuk mitigasi konflik gajah dan manusia. Setelah gajah dipasangkan GPS Collar, tim pemantau dapat mengetahui pergerakan gajah sebagai salah satu early warning system, dengan adanya informasi ini tim dapat melakukan antisipasi jika gajah bergerak pada areal yang memiliki potensi konflik.

Selan akses yang cukup mudah, karakter kelompok gajah tersebut berperilaku tidak agresif dan cenderung tenang terhadap interaksi dengan manusia, dengan catatan masih dalam jarak aman sekitar 30 meter.

"Bahkan dijumpai masyarakat yang sedang memancing berseberangan dengan kelompok gajah liar, tentunya ini menunjukan kepada kita keharmonisan kehidupan antara gajah liar yang dapat berdampingan ketika kita mau berbagi ruang,” kata Syamsuardi.

Untuk rencana pelaksanaan, tim telah memperhitungkan rentang waktu kegiatan sampai dengan terpasangnya dua unit GPS Collar pada dua kelompok gajah liar tersebut memerlukan waktu setidaknya empat hari, yaitu dari tanggal 12-15 Mei 2022.

Perhitungan tersebut rupanya membuahkan hasil, bahkan lebih cepat dari perkiraan waktu, sehingga pada hari ke-2 kegiatan, tim telah berhasil memasangkan GPS Collar kepada dua kelompok gajah liar yang ditargetkan.

Pada pukul 14.35 WIB pemasangan dilaksanakan pada gajah jenis kelamin betina usia sekira 40 tahun dengan berat 2.812 kg. Selanjutnya, sekiitar pukul 17.30 GPS Collar ke-2 berhasil terpasang pada gajah betina usia 30 tahun dengan berat 2.545 kg. Sebagai tanda pengenal di lapangan, tim bersepakat menamai keduanya dengan nama Meilani dan Meisi.

Memahami Peran Gajah dan Orangutan Sebagai Spesies Kunci di Alam Liar

Populasi gajah Sumatra yang kian mengkhawatirkan

Gajah Sumatra | @Mohamad Arifianto Shutterstock
info gambar

Gajah Sumatra merupakan spesies asli Nusantara yang merupakan satwa kebanggaan Indonesia. Sayangnya populasi gajah ini terus menurun. Menurut data dari dokumen Rencana Tindakan Mendesak Penyelamatan Populasi Gajah Sumatera 2020-2023, diperkirakan tinggal 1.694-2.038 individu dan tersebar di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung.

Menurut IUCN Red List gajah Sumatra telah dikategorikan Critically Endangered atau sudah terancam punah. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan gajah Sumatra dalam Appendix 1, yaitu daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdangan internasional.

Jika tidak segera ditangani, keberadaan gajah Sumatra pun akan semakin kritis bahkan terancam punah. Adapun selama ini penurunan populasinya disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat imbas konversi lahan, kegiatan pertambangan, serta pembunuhan akibat konflik dengan manusia, kebakaran, dan perburuan.

Menyambut Kelahiran Bayi Gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini