Wabah Penyakit yang Lahirkan Kebangkitan Nasional di Hindia Belanda

Wabah Penyakit yang Lahirkan Kebangkitan Nasional di Hindia Belanda
info gambar utama

Wabah penyakit di Hindia Belanda pada awal abad 20 menjadi salah satu pendorong munculnya nasionalisme di kalangan bumiputra. Saat wabah itu terjadi, dokter-dokter dan tenaga kesehatan Belanda tidak mau bersentuhan dengan warga pribumi.

Sikap dokter dan tenaga kesehatan Belanda itu membuat kesal pada dokter Jawa. Hal ini juga ikut mempengaruhi sikap para calon dokter pribumi yang sedang bersekolah di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia Belanda (STOVIA).

Melalui mahasiswa-mahasiswa STOVIA itulah kemudian berdiri perkumpulan nasionalis Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang tanggal pendiriannya kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

“Sikap dokter dan tenaga kesehatan Belanda yang tidak mau bersentuhan dengan warga pribumi itu kemudian memunculkan mantri-mantri pribumi,” tutur sejarawan publik dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Universitas Indonesia Kresno Brahmantyo yang dilansir dari Republika.

Para mantri-mantri pribumi ini merupakan lulusan dari STOVIA yang didirikan di Weltevreden, Batavia, pada 1849 atas usulan dari Willem Bosch (1798-1874), seorang dokter yang berkebangsaan Belanda.

Menelusuri Hubungan Erat Antara Kebangkitan Nasional dengan Bakti Dokter Indonesia

Ada tiga alasan mengapa Bosch mengusulkan kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mendirikan sekolah kedokteran, yaitu :

1). Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di perkebunan gula dan tembakau milik Belanda di Jawa dan Sumatra

2) Kurangnya tenaga kesehatan ketika terjadi wabah cacar yang disertai demam tinggi di Jawa Tengah pada tahun 1846-1874, dan

3). Mendidik pemuda-pemuda Jawa yang memiliki bakat di bidang kedokteran dan bersedia menjadi dokter-dokter praktik di rumah sakit militer Belanda di Jawa.

Faktor kedua yakni cacar yang disertai demam menjadi alasan spesifik mengapa pendirian sekolah kedokteran di Hindia Belanda bersifat mendesak. Banyumas menjadi kabupaten yang rakyatnya paling banyak meninggal akibat wabah tersebut.

Pemerintah kolonial menindaklanjuti informasi kematian akibat wabah cacar dengan memberikan instruksi kepada Bosch, mengenai cara mempertahankan kesehatan dan cara penggunaan obat tradisional yang terjangkau kepada kepala desa di Banyumas.

“Instruksi ditindaklanjuti oleh Bosch, sekaligus dijadikan momentum untuk mengusulkan pembentukan suatu korps dokter yang berasal dari penduduk pribumi dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan,” tulis Radiopoetro dalam Sejarah Pendidikan Dokter di Indonesia.

Meskipun awal didirikannya STOVIA ditujukan untuk mendidik calon dokter beretnis Jawa, tetapi dalam perkembangannya sekolah dokter ini juga menerima siswa dari latar belakang etnis yang beragam.

Perkiraan jumlah alumni STOVIA sampai tahun 1918, terutama ketika terjadi pandemi flu Spanyol adalah 1.500 orang. Dari sekian alumni hampir 90 persen bekerja di fasilitas kesehatan milik pemerintah kolonial baik yang berskala kecil maupun besar.

Dokter dan peran untuk rakyat

Wabah flu Spanyol yang melanda Hindia-Belanda membuat pemerintah kolonial kewalahan untuk mengatasinya. Segala sesuatu serba terbatas, mulai dari fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, termasuk pengetahuan tentang penyakit.

Pemerintah pusat di Batavia sebenarnya tidak bisa dikatakan tidak serius untuk menangani pandemi flu Spanyol, terutama setelah mendapatkan laporan tentang semakin banyaknya rakyat pribumi yang terjangkit penyakit baru ini.

Priyanto Wibowo dalam Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda menyebut persoalannya adalah praktik di lapangan seringkali tidak sejalan dengan aturan yang sudah dirumuskan.

Selain itu mental diskriminatif masih dimiliki oleh penjajah Belanda terutama para pegawai pemerintah di tingkat bawah. Tenaga medis hanya memprioritaskan mengobati orang Eropa dan China karena menjanjikan dari segi ekonomi.

“Sementara itu masyarakat pribumi yang umumnya miskin kesulitan untuk mendapatkan akses kesehatan,” tulis Wibowo.

Perilaku yang diterapkan oleh pemerintah kolonial membuat rakyat pribumi kecewa, sementara itu mereka tidak berdaya untuk melawan. Oleh karena itu, tenaga kesehatan pribumi lulusan STOVIA merasa perlu memperjuangkan nasib saudara sebangsanya.

Perjuangan dilakukan dalam berbagai bidang, yang utama tentu dalam bidang kesehatan yaitu mengobati rakyat yang terjangkit flu Spanyol. Dari sekian dokter alumni STOVIA yang berjuang melawan pandemi, ada nama Ismail dan Sutomo paling banyak disebut.

Selain mengobati, para dokter ini juga melakukan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Penyuluhan kesehatan dilakukan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit yang sedang mewabah.

Perjuangan untuk melawan pandemi juga dilakukan melalui jalur parlemen atau Volksraad. Abdul Rivai adalah tokoh yang paling keras dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah kolonial melalui Volksraad.

Lebih lanjut, Rivai mengkritik bahwa rakyat Jawa dibiarkan mati seperti tikus. Kritik ini disampaikannya karena adanya data yang menyebut kematian rakyat di Jawa melonjak sampai 900.000 orang selama empat bulan (Agustus-November 1918).

Jogja jadi Embrio Kebangkitan Nasional, Sultan HB X Wajibkan Lagu Indonesia Raya

“Kritik demi kritik yang disampaikan oleh Rivai di Volksraad menyebabkan pemerintah kolonial terpaksa harus setuju bahwa mereka lambat dalam menangani pandemi,” tandas Wibowo.

Selain flu Spanyol, saat itu juga ada wabah penyakit yang melanda Hindia Belanda yakni wabah pes. Ketika itu banyak dokter Jawa yang berperan, salah satunya adalah Tjipto Mangunkusumo yang memang sudah turun ke lapangan sejak terjadinya wabah.

Laporan korban wabah pes di Kota Malang mulai terkuak pada tahun 1911. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda, wabah ini telah memakan 2.000 an korban. Kemudian terus bertambah hingga 15 ribu orang di 1914.

Sejarawan Syefri Lewis menilai, ketakutan dokter Eropa terhadap pes menyebabkan jumlah korban sangat banyak. Mereka takut karena teringat dengan peristiwa Black Death (wabah bubonik) di negaranya.

Hal ini, jelas Syefri berbeda dengan dokter bumiputra yang tidak memiliki ingatan tentang wabah penyakit di Hindia Belanda. Kondisi yang membuat sosok seperti Tjipto berani turun langsung ke masyarakat.

Tanpa takut, lanjut Syefri, Tjipto mencoba menolong rakyat meski tanpa alat pelindung diri (APD). Masalah tentang ketersediaan fasilitas kesehatan, terutama APD memang sudah terjadi di masa tersebut.

“Untuk Dokter Tjipto, beliau memang enggak pakai apa-apa. Itu yang membuat dia legendaris. Turun langsung dengan risiko kematian sangat tinggi, sangat besar dan enggak bawa apa-apa,” jelas lulusan Universitas Indonesia (UI) yang dipaparkan Republika.

Dokter untuk kebangkitan nasional

Tidak hanya melahirkan dokter-dokter yang cakap dalam bidang kesehatan, STOVIA juga melahirkan aktivis cendekiawan yang berintelektual. Sebut saja dr Sutomo, dr Tjipto dan Gunawan Mangunkusumo, dan dr. Wahidin Sudirohusodo.

Dalam perjalanannya para alumni STOVIA ini tidak hanya bergerak dalam bidang kesehatan, tetapi juga sosial dan politik. Alumni STOVIA tergerak untuk memperbaiki nasib rakyat Hindia Belanda yang masih terbelenggu penjajahan.

Misalnya Wahidin dan Sutomo yang mendirikan organisasi Budi Utomo. Kemudian Tjipto yang bergerak dalam bidang politik dengan mendirikan Indische Partij. Kemudian Abdul Rivai yang berperan aktif dalam bidang jurnalistik.

Sejarah Hari Keluarga Nasional, Momen Kebangkitan Keluarga Indonesia

Selain turun ke masyarakat, semakin banyak dokter yang menulis pikirannya di majalah, koran, dan sebagainya. Para dokter ini semakin mengerti politik sehingga tanpa sadar membentuk jiwa Indonesia di masa tersebut.

Keterlibatan dokter di dunia politik tentu sangat menguntungkan di era pergerakan Indonesia. Pasalnya dokter memiliki kemampuan bahasa yang baik sehingga dapat menuangkan pikirannya untuk khalayak.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini