Menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat, Apa Itu Penyakit Cacar Monyet?

Menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat, Apa Itu Penyakit Cacar Monyet?
info gambar utama

Sejumlah negara telah melaporkan adanya kasus cacar monyet, termasuk Inggris, Spanyol, Portugal, Belgia, Prancis, Kanada, Italia, Swedia, Amerika Serikat, dan Australia. Infeksi virus ini pertama kali diidentifikasi pada monyet dan lebih umum di Afrika Barat dan Afrika Tengah. Kemunculan kasus cacar monyet memicu kekhawatiran karena penyakit ini dapat menyebar dan menular.

Pada tahun 2022 ini, kasus cacar monyet pertama di negara Barat dilaporkan pada 7 Mei. Tepatnya di Inggris, seorang pasien terinfeksi cacar monyet dan ia baru saja melakukan perjalanan ke Nigeria. Menurut pihak Badan Keamanan Kesehatan Inggris, besar kemungkinan bahwa pasien telah tertular virus itu sebelum tiba di Inggris.

Hingga berita ini ditulis, belum ada informasi lebih lanjut apakah penyakit ini sudah menyebar sampai ke Asia dan khususnya Indonesia. Namun, kasus cacar monyet sebelumnya memang pernah dikonfirmasi masuk ke Singapura pada tahun 2019 silam.

Saat itu, terdapat seorang pria warga Nigeria yang baru tiba di Singapura pada 28 April. Dua hari setelahnya, ia menderita demam, nyeri otot, menggigil, dan ruam kulit, kemudian dinyatakan positif cacar monyet. Sebelum berkunjung ke Singapura, pria tersebut mengaku menghadiri pernikahan di Nigeria.

Sebenarnya apa itu cacar monyet dan bagaimana infeksi virus ini memengaruhi tubuh seseorang?

Seluk-Beluk Hepatitis Misterius yang Curi Perhatian Dunia, Apa Penyebabnya?

Penyakit langka oleh virus monkeypox

Ilustrasi | @Arif biswas Shutterstock
info gambar

Cacar monyet merupakan penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus cacar monyet termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.

Kasus cacar monyet pertama kali ditemukan tahun 1958, ketika dua wabah penyakit mirip cacar terjadi di koloni monyet yang dipelihara untuk penelitian. Kasus cacar monyet pertama tercacat tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sejak itu, cacar monyet telah dilaporkan di beberapa negara Afrika Tengah dan Afrika barat lain, termasuk Kamerun, Republik Afrika Tengah, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone.

Penyakit ini juga pernah muncul di luar Afrika dan ada hubungannya dengan perjalanan internasional atau hewan impor, termasuk kasus di Amerika Serikat, Israel, Singapura, dan Inggris.

Setelah terinfeksi, gejala cacar monyet pada manusia agak mirip dengan cacar pada umumnya. Pada awalnya, pasien akan mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, kemudian muncul ruam kulit. Adapun waktu dari infeksi hingga gejala muncul sekitar 7-14 hari, tapi juga bisa 5-21 hari.

Untk ruam kulit bisa muncul di wajah, telapak tangan dan kaki, selaput lendir mulut, alat kelamin, bahkan kornea. Ruam dapat berkembang berurutan dari makula menjadi papula, lesi berisi cairan bening, lesi dengan cairan kekuningan, hingga krusta yang kering dan rontok. Penyakit ini biasanya berlangsung 2-4 minggu dan di Afrika, cacar monyet telah terbukti menyebabkan kematian pada 1 dari 10 orang.

Sebagai tindakan preventif, segera hubungi tenaga kesehatan jika Anda mengalami ruam dengan lepuh, baru kembali dari Afrika dalam tiga minggu terakhir, dan kontak dengan seseorang yang terinfeksi cacar monyet dalam tiga minggu terakhir.

Memahami Fenomena Suhu Panas Terik yang Melanda Indonesia

Bagaimana cacar monyet ditularkan

Virus monkeypox dapat menular saat seseorang bersentuhan dengan virus dari hewan, manusia, atau bahan yang terkontaminasi virus. Virus masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang rusak (walaupun tidak terlihat), saluran pernapasan, atau selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut.

Penularan dari hewan ke manusia bisa terjadi melalui gigitan atau cakaran, kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi, juga kontak tidak langsung dengan lesi, misalnya melalui alas yang terkontaminasi.

Sementara itu, penularan dan manusia ke manusia diperkirakan terjadi terutama melalui droplet, yaitu cipratan atau percikan liur dari hidung atau mulut saat bersin, batuk dan berbicara. Umumnya droplet tidak bisa menyebar dalam jarak jauh, sehingga diperlukan kontak tatap muka yang cukup lama.

Hingga saat ini, reservoir host atau pembawa penyakit utama cacar monyet belum diketahui, meskipun hewan pengerat Afrika diduga berperan dalam penularan. Di Afrika, bukti infeksi virus monkeypox telah ditemukan di banyak hewan termasuk Congo rope squirrels, Gambian pouched rats, tupai pohon, dormice (hewan pengerat mirip tikus), dan primata. Penyebabnya bisa berasal dari makan daging yang tidak dimasak dengan baik atau makan produk hewani dari hewan yang terinfeksi.

Penularan cacar monyet bahkan bisa terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin yang dapat menyebabkan cacar monyet bawaan. Sementara kontak fisik dalam jarak dekat merupakan faktor risiko untuk penularan, belum diketahui apakah cacar monyet dapat ditularkan secara khusus melalui jalur transmisi seksual. Studi lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami risiko ini.

Lantas, apa cacar monyet dapat dicegah? Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagai pencegahan. Pertama, hindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi sarang virus, termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi. Kedua, hindari kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit.

Selalu menjaga kebersihan tangan yang baik setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. Misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol. Untuk tenaga medis, gunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien.

Menurut CDC, saat ini belum ada pengobatan yang terbukti dan aman untuk infeksi virus monkeypox. Untuk tujuan pengendalian wabah monkeypox di Amerika Serikat, vaksin cacar, antivirus, dan vaccinia immune globulin (VIG) dapat digunakan.

Lupus, Penyakit Autoimun yang Belum Ada Obatnya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini