Menyesap Hangatnya Persaudaraan Orang Betawi dalam Secangkir Kopi Jahe

Menyesap Hangatnya Persaudaraan Orang Betawi dalam Secangkir Kopi Jahe
info gambar utama

Kopi jahe merupakan salah satu kuliner Betawi yang telah ada sejak abad ke 18. Pada saat itu, banyak pedagang yang menggunakan perahu dan rakit menyusuri Kali Cisadane untuk membawa komoditi sebagian besar adalah rempah-rempah.

Lokasi sandar transportasi adalah pelabuhan di tepi Kali Angke. Masyarakat di Kali Angke cenderung agamis dan memiliki kebiasaan merayakan pesta (khitanan/pernikahan) atau memperingati hari besar, seperti Maulidan dengan menghadirkan makanan dan minuman.

Heni Pridia Rukmini Sari dalam Identifikasi Potensi Kopi Jahe sebagai Oleh-Oleh Khas Betawi menyebut kopi jahe menjadi salah satu minuman yang disajikan sebagai pelengkap sajian pada acara tersebut.

“Status kopi jahe pada waktu itu tergolong istimewa karena hanya disajikan pada acara-acara tertentu,” tulis Heni.

Masyarakat Betawi menyebut kopi jahe dengan nama zanzabil sedangkan kata “kopi” disebut dengan nama gahwa. Perbedaan penamaan ini disebabkan kebiasaan minum kopi yang berasal dari bangsa Arab dan barat (Portugis).

Disebut oleh Heni, masyarakat Betawi pada masa selanjutnya lalu mencampurkan beberapa rempah-rempah, sehingga minuman kopi tersebut hingga kini lebih dikenal dengan nama kopi jahe.

Makna Dari Rumah Tradisional Betawi Penuh Arti Filosofis

Irvan Setiawan dalam Kopi Jahe Betawi menyatakan bagi warga Betawi keturunan Arab Pekojan, kopi jahe biasa disajikan untuk melengkapi hidangan nasi kebuli. Selain itu, minuman ini juga keap disajikan pada acara atau kegiatan yang dilakukan pada malam hari.

Irvan berpendapat penyajian dalam kegiatan malam tersebut lebih mengarah kepada kandungan rempah-rempah dalam racikan kopi jahe. Rempah-rempah ini berfungsi sebagai minuman yang mampu mengusir hawa dingin pada malam hari.

“Adapun rempah-rempah yang dimaksud di antaranya jahe merah, cengkih, kapulaga, kayu manis, dan daun pandan,” papar Irvan.

Subakti Muttaqin dalam Kopi Jahe, Minuman Khas Betawin menjelaskan dalam proses penyajian biasanya kopi jahe dicampur dengan susu kental manis dan gula pasir. Waktu penyajiannya yang paling tepat adalah sore dan malam hari.

Menurut Subakti melalui sajian kopi jahe tersirat makna kebersaman dan keterbukaan dalam berbagai pengalaman dari para warga yang berkumpul baik dalam acara hajatan maupun kegiatan lainnya.

Minuman persaudaraan

Kopi jahe merupakan minuman hangat yang begitu akrab di tengah kebiasaan masyarakat Betawi. Kopi jahe terbilang minuman sederhana dan bisa dibuat siapa pun di rumah. Namun buat masyarakat Betawi, kopi jahe selalu punya tempat di momen istimewa.

Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra mengaku di rumahnya selalu ada rebusan kopi jahe. Biasanya jahe tersebut digeprek lalu dicampur dengan kopi. Minuman ini memang istimewa bagi Yahya dan masyarakat Betawi.

Kopi jahe biasanya akan dihidangkan saat acara lamaran. Saat prosesi lamaran berlangsung, pihak laki-laki akan diterima oleh pihak perempuan. Pada saat itu pula, keluar suguhan berupa minuman.

“Aslinya qohwah (dalam bahasa Arab artinya kopi). kalau orang Betawi (tengah) bilangnya gahwe. Kalau Betawi pinggir, yah, bilangnya ngopi atau ngupi. Mari kita ngupi sama ruti (makan roti),” ujarnya yang dilansir dari CNN Indonesia.

Yahya menyebut tidak mengetahui pasti kapan kopi jahe mulai akrab di tengah masyarakat Betawi. Namun, satu hal yang pasti, kehadiran kopi jahe dalam lamaran menjadi simbol suasana hangat dan persaudaraan.

Apalagi proses lamaran berarti sama pula dengan menyambut calon anggota keluarga baru, pun acara perkawinan akan menyatukan dua keluarga sehingga kopi jahe semakin mempererat kekeluargaan.

Melestarikan Budaya Betawi: Jangan, Malu! Kita Tidak Ketinggalan Zaman, Kok!

“Rasa hangat kudu dibangun sejak awal interaksi. Tetapi bukan cuma hangat, nantinya berpadu juga dalam kebersamaan dan keserasian dalam mendayung bahtera hidup rumah tangga,” ujar Yahya menambahkan.

Terlepas dari itu, kopi jahe memang sudah jadi bagian dari tradisi budaya Betawi. Yahya mengatakan kopi menjadi salah satu elemen dalam beberapa ritus tradisi Betawi. Ritus ini termasuk sedekah bumi, bersih kota atau bersih kampung.

Yahya menyebut di kamar orang tuanya masih akrab dengan sajen. Tiap malam jumat, pada zaman dahulu ada kepercayaan terkait makhluk siluman yang menjaga kampung. Di meja sajen itu selalu ada kopi.

Selain kopi, elemen sesajen lainnya yang dihadirkan juga berupa teh, air putih, susu, rujak, dan bunga tujuh rupa. Tradisi memberikan sesaji pun masih dilakukan terutama di gelaran nyadran atau sedekah laut di Jakarta Utara.

Kopi, jelas Yahya, juga selalu tersaji di meja nyai, sebuah meja yang disediakan di ruangan untuk tamu khusus. Setiap grup kesenian yang ingin pentas ada tradisi ngukup, hal ini sebagai upacara memohon bimbingan dan keselamatan.

Kopi jahe sebagai oleh-oleh

Selain menjadi sebuah tradisi, kopi jahe juga menawarkan beragam manfaat untuk kesehatan tubuh, terutama karena adanya kandungan rempah di dalamnya, salah satu di antaranya adalah ampuh untuk meredakan nyeri otot.

Hal ini karena kopi mengandung zat yang mampu menurunkan rasa nyeri, sedangkan jahe memiliki sifat anti inflamasi yang ampuh menjaga usus agar tetap sehat. Sehingga gabungan antara keduanya bisa menyempurnakan kandungan untuk meredakan nyeri.

Selain itu pada pagi hari akan terasa menyegarkan saat dimulai dengan minuman yang hangat seperti secangkir kopi jahe. Minuman ini terbukti memiliki sifat yang baik untuk meningkatkan stamina tubuh.

Jahe merah terbukti memiliki sifat yang baik untuk meningkatkan stamina tubuh. Dengan begitu, tubuh akan terasa bugar sepanjang hari usai mengkonsumsinya. Ditambah mengkonsumsi jahe merah sangat ampuh mengatasi masalah pada lambung.

Bila rutin di rutin dikonsumsi, sistem pencernaan akan semakin lancar. Hal ini juga ditambah dengan kopi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh lantaran ada kandungan antioksidan di dalamnya.

Masyarakat Betawi, Aseli?

“Jahe campur kopi bisa untuk stamina dan antioksidan jadi memperkuat imunitas. Kopi itu memang bersifat antioksidan,” ujar Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), DR.(Cand.) dr Inggrid Tania yang dilansir dari Viva.

Dengan beragam manfaat di atas, kopi jahe dianggap bisa menjadi salah satu minuman Betawi yang harus bisa mempertahankan diri dan sekaligus memenangkan persaingan. Apalagi saat ini kuliner di kota Jakarta semakin menghadapi persaingan yang tajam.

Kopi jahe dianggap memiliki berbagai kelebihan seperti minuman yang cocok dengan selera banyak orang, juga menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia banyak di Jakarta, dan memiliki nilai budaya dengan filosofi tinggi.

Namun sebagai kuliner Betawi, kini sangat sedikit pedagang yang menjual kopi jahe. Kemudian banyak anak muda yang belum banyak mengenal minuman tersebut, ditambah resepnya yang belum populer karena referensinya terbatas.

Namun karena semakin meningkatnya kunjungan wisatawan tentunya memberikan peluang bagi kopi jahe kembali eksis. Karena akan semakin banyak orang mengenal kopi jahe melalui media sosial.

Tentunya perlu dukungan pemerintah agar kopi jahe mampu kembali mendapat tempat bagi masyarakat Betawi, terutama anak muda. Apalagi pada masa pandemi, di mana kuliner sehat selalu dicari oleh para pecinta wisata kuliner.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini