Jalur Rempah dan Saling Silang Peradaban yang Memperkaya Bahasa Ambon

Jalur Rempah dan Saling Silang Peradaban yang Memperkaya Bahasa Ambon
info gambar utama

Ambon merupakan sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Maluku. Dalam catatan etnografis Suma Oriental, Tome Pires melukiskan tentang Kepulauan Maluku (Ambon, Ternate, dan Banda) sebagai the spice island atau Kepulauan Rempah.

Di tempat inilah, sejak abad ke 15 telah menjadi panggung kosmopolit di mana banyak bangsa berkumpul, berinteraksi, dan berdagang. Ambon telah dijuluki sebagai kota migran tempat banyak orang datang untuk mencari peruntungan.

Jalur rempah sering dipahami juga sebagai jalur budaya. Karena itu perkembangan kebudayaan di kota Ambon tidak dapat dilepaskan dari posisi strategisnya dalam jalur pelayaran dan perdagangan rempah-rempah.

Berbagai bangsa berinteraksi sekaligus bertukar budaya di Ambon. Walaupun di satu sisi terdapat ancaman ketidakcocokan dengan budaya setempat, namun pada sisi lainnya justru memperkaya budaya Ambon.

Selangkah Lagi Menuju Ambon Kota Musik UNESCO

A Kroeber dan C Kluckhohn dalam Culture A Critical Review of Concept and Definitions menyebut keragaman budaya itu dapat dipahami dengan komprehensif bila dilihat dari unsur-unsur kebudayaan yang universal.

“Dan salah satu unsur tersebut adalah bahasa,” tulisnya.

Bahasa Ambon memiliki karakter yang berbeda dengan bahasa Melayu di daerah lainnya, seperti Melayu Ternate. Selain berakulturasi dengan bahasa Melayu, bahasa Ambon juga menyerap kosakata asing seperti bahasa Portugis dan Belanda.

Karena itulah J,T Collins dalam The Ambon Malay dan Theory of Creolization berpendapat bahwa bahasa Ambon tidak ubahnya sebagai bahasa kreol yang terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai bahasa.

Setidaknya menurut catatan ada tiga bahasa yakni, Melayu, Portugis, dan Belanda yang cukup mempengaruhi bahasa Ambon. D Van Minde dalam catatannya berhasil mengidentifikasi 321 kosakata Belanda dalam bahasa Ambon.

Pengaruh bangsa dalam bahasa

Daya Negri Wijaya dalam Saling Silang Bahasa di Nusa Ambon menyebut pada kurun niaga, yakni abad ke 15 hingga 17. kota-kota maritim di Asia Tenggara, seperti Pasai, Malaka, Johor, Patani, Aceh, dan Brunei saling terhubung satu sama lain.

Menurutnya dalam jaringan perdagangan itu, bahasa Melayu menjadi bahasa niaga utama di seluruh Asia Tenggara. Hal ini juga berimbas pada sosok dan peran orang Melayu yang diasosiasikan dengan kelas pedagang di Asia Tenggara.

Dalam pertalian inilah, jelas Daya, bahasa Melayu menyapa Kepulauan rempah-rempah, termasuk Ambon. Hal yang unik, bahasa Melayu juga berkembang dan bercampur dengan bahasa daerah setempat serta menciptakan bahasa Ambon dewasa ini.

Pada satu sisi, bahasa Melayu telah memperkaya khasanah kebahasaan budaya Ambon. Namun di sisi lain dominasi penggunaan bahasa Melayu berdampak kepada eksistensi bahasa-bahasa lokal di sana.

Dijelaskan Daya yang menukil dari H Muhammad dalam Kodifikasi Bahasa Melayu Ambon, di beberapa daerah, orang tua tidak lagi menurunkan bahasa ibunya kepada anak-anak mereka. Kedudukan bahasa daerah menjadi semakin melemah.

“Bahkan jika hal ini dibiarkan maka orang Ambon atau Maluku akan kehilangan jati dirinya,” bebernya.

Empat Kota di Indonesia dengan Konsep Terbaik. Adakah Kotamu?

Sementara itu adanya interaksi antara orang Portugis dan Ambon bukan mengikis posisi bahasa Melayu-Ambon. Namun malah memungkinkan bahasa ini menyerap banyak kosakata Portugis.

Misalnya kata Portugis yakni “capitao” yang berarti kapten, digunakan untuk memanggil Perdana Jamilu. Orang-orang lokal Ambon kemudian menggunakannya dengan logat lokal yakni kapiten.

Selain berdagang, Portugis juga menyebarkan misi Katolik. Oleh karena itu beberapa kosakata yang diserap terhubung dengan urusan keagamaan, misalnya gereja dari “igreja”. Juga ada kata algojo dari kata “algoz”.

Bahasa Ambon juga banyak meminjam kosakata Belanda untuk menamai benda-benda dalam kehidupan rumah tangga. Ditulis oleh Daya, mereka menyebut “rim” yang merujuk pada ikat pinggang atau “fork” merujuk pada garpu.

Bahasa Ambon juga menyerap kosakata Belanda untuk mendeskripsikan kualitas manusia seperti “dol” yang berarti gila, “strek” untuk kuat, “swak” untuk lemah. Nama hewan dan tumbuhan juga seperti “kasbi” untuk singkong atau “kakarlak” untuk kecoa.

Ketika berada di luar rumah dan menyusuri jalan-jalan, orang Ambon juga sering menyebut “oto” yang berarti mobil, “strat” untuk jalan, dan “standplaats” untuk halte. Sedangkan untuk ucapan rasa terima kasih juga meminjam kosakata Belanda yakni “dangke”

Bahasa sebagai jejak budaya

Sepanjang abad ke 16, bahasa Melayu tetap menjadi bahasa pengantar untuk menyebarkan agama Katolik di kawasan Asia Tenggara. Para misionaris berkebangsaan Portugis, Spanyol, Italia, dan Belanda juga menggunakan bahasa Melayu di Ambon.

Collins menyebut seorang pendeta Italia menulis Katekismus dalam bahasa Melayu di Ambon. Namun, tulisnya, tidak satupun manuskrip karya itu yang pernah dicetak, hanya ditulis dengan tulisan tangan.

“Sangat disesalkan tidak satupun manuskrip yang menggunakan bahasa Melayu yang diproduksi oleh misionaris pada masa Portugis dapat ditemukan,” sesalnya.

Sementara itu, ketika masa berganti dan Belanda berhasil mengusir Portugis, bahasa Melayu Ambon dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, di gereja-gereja dan juga sebagai terjemahan beberapa kitab dari Al-Kitab.

Misionaris Belanda menerjemahkan Injil dalam bahasa Melayu dan dibawa ke Ambon. Belanda bahkan mengintervensi para penduduk untuk menghafal injil dan kemudian dibaptis dengan menggunakan bahasa Melayu.

Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa administratif dan menjadi bahasa utama di kalangan penjajah. Namun, bagi rakyat Ambon, bahasa Melayu tetap berfungsi sebagai bahasa utama.

Wajar jika kemudian para elit politik Hitu sangat fasih berbahasa Melayu, misalnya Imam Rijali yang dalam pengungsiannya akibat serangan brutal Belanda, berhasil menyusun Hikayat Tanah Hitu pada abad 17.

Jembatan Merah Putih, Jembatan Terpanjang di Indonesia Timur

Dipaparkan oleh Collins, tidak aneh banyak kerajaan-kerajaan di dunia Melayu yang mengirim suratnya dalam bahasa Melayu. Salah satu contohnya, surat Gubernur Ternate untuk East India Company (EIC).

Hal yang menarik budaya orang Portugis pun masih dipertahankan oleh orang Ambon, seperti penamaan lorong berdasarkan asal-usul mereka. Seperti keturunan Da Silva, maka mereka menamakan lorong Da Silva.

Nama-nama desa di Ambon juga banyak meminjam kosakata Portugis, seperti Asilulu, Passo, dan Hatalai. Orang-orang Asilulu merupakan orang Ambon pertama yang bertemu Portugis di Nusa Telu.

Hal yang lebih menarik, pertukaran budaya ini juga terjadi di negeri asing. Di Belanda banyak nama-nama jalan yang diambil dari nama para pejuang kemerdekaan Indonesia dan hak asasi manusia.

Nama-nama jalan itu adalah Trimurtistraat, Pattimurastraat, Diponegorostraat, Maria Ulfahstraat, Tan Malakastraat, Munirpad, Martha C Tiahahustraat, Kartinistraat, Sjahrirstraat, dan Irawan Soejonostraat.

“Di antara para pejuang itu, ada dua pejuang dari Ambon yakni Pattimura dan Martha Tiahahu,” ucapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini