Mengenal Beluku, Spesies Keluarga Kura-Kura di Indonesia yang Terancam Punah

Mengenal Beluku, Spesies Keluarga Kura-Kura di Indonesia yang Terancam Punah
info gambar utama

Setiap tanggal 23 Mei dunia memperingati Hari Kura-Kura dan Penyu Internasional. Sedikit mengulas mengenai awal mulanya, peringatan ini pertama kali hadir tepat sejak tahun 2000 yang digagas oleh sebuah organisasi asal AS bernama American Tortouse Rescue.

Inisiasi peringatan ini berangkat dari kondisi populasi kura-kura dan penyu di seluruh dunia, yang semakin dekat dengan ancaman kepunahan. Karena itu, peringatan Hari Kura-Kura dan Penyu sendiri bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi, dan penjagaan populasi berbagai macam spesies kura-kura dan kerabat spesies lainnya yang ada di dunia.

Ya, meski sering disebut secara umum dengan sebutan ‘kura-kura’, nyatanya reptil satu ini masih memiliki ragam spesies kerabat dengan perbedaan karakteristik masing-masing. Misalnya saja, meski terlihat sama, masih ada segelintir kalangan yang belum mengetahui jika kura-kura dan penyu adalah hewan dengan jenis dan karakter yang berbeda.

Selain dua jenis di atas juga masih ada spesies kerabat lain yang juga berbeda, yakni bulus atau labi-labi. Kemudian ada juga jenis lain yang sejak lama telah menghadapi ancaman kepunahan, yakni Beluku atau yang lebih banyak disebut dengan nama tuntong.

Dipulangkan dari Singapura, 13 Kura-Kura Leher Ular Rote Kembali ke Tanah Air

Dua sub-spesies tuntong

Kembali beragam, beluku atau tuntong sendiri nyatanya juga dibedakan menjadi dua sub-spesies yang berbeda, yakni tuntong laut yang memiliki nama ilmiah Batagur borneoensis, dan tuntong sungai dengan nama ilmiah Batagur affinis.

Keduanya sama-sama berhabitat di area mangrove, di mana tuntong laut akan lebih cenderung mendiami daerah muara dan bagian ujung sungai yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Sementara itu tuntong sungai lebih banyak menghuni wilayah perairan payau dengan tingkat salinitas yang jauh lebih rendah untuk bertelur.

Habitat tersebut yang juga membedakan keduanya, di mana tuntong laut lebih mirip seperti kura-kura pada umumnya yakni memilih tepian pasir pantai untuk bertelur. Sedangkan tuntong sungai lebih memilih tepian sungai sebagai tempat bertelurnya.

Perbedaan juga dilihat dari segi karakteristik tubuh. Tuntong laut memiliki cangkang yang bisa tumbuh hingga ukuran 50-100 sentimeter, sedangkan tuntong sungai hanya di kisaran 70 sentimeter. Meski sama-sama bergigi, namun perbedaan dapat dilihat dari jumlah cakarnya.

Tuntong sungai secara keseluruhan memiliki empat cakar di bagian kakinya, sedangkan pada tuntong sungai empat cakar terdapat di bagian kaki belakang namun kaki depannya memiliki lima cakar.

Kedua hewan ini disebut hanya mampu menghasilkan sebanyak 12-22 butir telur dalam sekali masa reproduksi. Berbeda dengan kura-kura lain yang bisa menghasilkan lebih dari 40 butir telur, atau bahkan hingga lebih dari 100 telur bagi spesies penyu.

Merupakan hewan herbivora, makanan utama tuntong terdiri dari buah pohon bakau yang jatuh ke sungai atau tepi laut, dan tumbuhan liar yang tumbuh di sisi sungai.

Mengenal Penyu Belimbing, Si Pemakan Ubur-Ubur dan Penjelajah Lautan Tangguh

Wilayah penyebaran dan status konservasi

Tuntong Laut yang dilepasliarkan
info gambar

Tuntong laut dan sungai di Indonesia sendiri banyak berasal di wilayah Kalimantan dan Sumatra. Namun karena dulunya hewan ini banyak diperdagangkan, keberadaannya kini sudah menyebar ke berbagai negara lain terutama Thailand, Malaysia, dan Kamboja.

Hal lain yang menjadi kesamaan tragis dari dua subspesies tuntong adalah statusnya di alam yang saat ini sudah sama-sama dimasukkan dalam klasifikasi hewan terancam punah (critically endangered), sejak tahun 2018 oleh IUCN.

Bahkan, tingkat kelangkaan tuntong sampai berada di urutan ke-25 dari 327 spesies di dunia dalam skala global yang termasuk kategori langka. Disebutkan bahwa selama lebih dari selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, tuntong laut sudah tidak ditemukan di wilayah sebaran aslinya.

Namun di beberapa daerah satwa ini masih ditemukan dalam jumlah kecil, salah satunya di perairan hutan bakau Aceh Tamiang. Lain itu terakhir kali pada kisaran Oktober 2021 lalu, juga diketahui adanya penemuan tuntong laut di wilayah Medan, dalam keadaan luka di bagian leher dan sejumlah parasit berjenis pacet yang menempel di sekujur tubuhnya.

Saat sudah menjalani masa perawatan selama 10 hari, akhirnya tuntong laut tersebut dilepasliarkan kembali ke habitat lepas di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut, Sumatra Utara. Lain itu, SM Karang Gading sendiri saat ini menjadi salah satu tempat pemeliharaan anak tuntong laut yang diamankan sejak masih berupa telur, sampai mencapai ukuran dan usia yang layak untuk dilepasliarkan ke alam.

Melihat Status dan Upaya Konservasi Penyu di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini